Follow Me @rezadiasjetrani

Jumat, 04 Agustus 2017

Ngerayain Ulang Tahun Di Atap Jawa, Part 1- Ranukumbolo

Akhirnya kesini juga
Ngerayain pertambahan usia ? Yakin harus dirayain ? Bukannya nambah usia berarti jatah hidup di dunia malah berkurang ?

Eng...iya juga sih. Kalo dipikir-pikir ulang tahun harusnya bukan seneng tapi malah sedih kan ya. Soalnya jatah hidup di dunia udah berkurang setahun.

Yah, tapi bukannya nikmat sehat, nikmat umur panjang juga harus disyukuri ? Karena itu di ulang tahunku yang ke-dua-puluh-sekian (Alhamdulillah masih kepala 2), aku merayakannya di puncak tertinggi Jawa. Puncak Semeru...Mahameru.

Perjalanan menuju Malang kulakukan pada tanggal 28 Juli 2017 malam hari. Tiba di Malang pukul 29 Juli 2017. Handphoneku merek As*s sempat hilang sehari sebelum pendakian, jadi aku kembali memakai tablet lamaku yang kurang nyaman digenggam karena ukurannya yang lumayan besar. Sedari jam 9 malam, tab kumatiin. Otomatis pagi hari ketika kunyalain, banyak banget ucapan yang masuk.

Meski melakukan perjalanan ini sendirian, aku nggak merasa kesepian. Ucapan-ucapan dan segala doa baik menemaniku semalaman. Thanks to Allah.

Abis mandi dan ganti baju di penginapan, jam 08.30 aku udah tiba di lokasi meeting point. Disana udah berkumpul teman-teman dari berbagai daerah. Ketemu juga Om Agung dari Bogor yang dulu pernah kutemui disana. Dia mengajak dua temannya ikut serta dalam pendakian ini. Dibawain oleh-oleh talas Bogor sama roti unyil segala. Enyaaaak.
Roti unyil langsung dari Bogor

Jam 10 lewat perjalanan dimulai. Kami dibagi menjadi 2 tim angkot (nggak keren banget, hahahaha). Sampai di pasar Tumpang, kami yang sebenernya udah nggak sabar buat segera menuju Ranupane harus bersabar lagi karena truk yang harusnya mengangkut kami kesana belom siap. Otomatis setelah Dhuhur kami baru berangkat, tepatnya sekitar jam 2 siang.
Para sapi siap diangkut, bhaaak
Sampai Ranupane juga udah lumayan sore. Abis makan, kami baru melakukan pendakian jam 5 sore. Duh ini mah bisa malem banget sampe Ranukumbolo mana pas berangkat ujan gerimis. Yah...tapi gimana lagi, daripada nggak boleh naik sama sekali.

Memulai Pendakian Ke Ranukumbolo

Lokasi wajib nomer satu buat foto 
Total tim kami ada 14 orang. Kami menyewa jasa 2 orang porter untuk membawakan sejumlah perlengkapan seperti tenda (4 buah) dan alat-alat masak.
Lokasi wajib nomer dua buat foto
Perjalanan kami (meski hujan) bisa dibilang lancar, cuma ada sedikit bonus soalnya dalam tim kami ada 2 orang yang punya kelebihan. Jadi kalau raut muka mereka berubah, ya kami ikutan anteng (tapi panik), hehe.

Setelah lewat pos 3 yang lumayan nanjak, aku memutuskan untuk jalan lebih cepat karena dari situ trek udah enak banget tinggal jalan-turun-sampe Rakum. Biar cepet, aku mengikuti Nindy dan juga mas porter jadi kami jalan cuma bertiga, sisanya di belakang. Ternyata pilihanku antara tepat dan nggak tepat.

Dibilang tepat soalnya mereka jalannya cepet, otomatis makin cepet juga sampe Rakum. Dibilang nggak tepat soalnya mereka jalan nggak pake berhenti sama sekali mana ritmenya kayak orang lari. Duh mak! 

Untung aja seminggu sebelum kesini kaki udah dilemesin dengan naik Merbabu, jadi nggak kaget deh. Jam 10 malem kami udah sampe di Rakum dan tenda udah dipasang, jadi kami tinggal masuk, ganti baju, makan, tidur. Teman-teman yang lain baru nyampe sekitar satu jam kemudian.

Paginya kami bangun dan melihat cantiknya matahari terbit di kejauhan. Kabut masih menyelimuti, air Ranu jadi keliatan berasap. Jangan tanya dinginnya ya, superrr dingin, tapi seger. Usai puas foto-foto, aku dan beberapa teman menuju Tanjakan Cinta.
Ketemu lagi dengan sunrise di Ranukumbolo setelah 3 tahun
Rame banget kayak pasar
Edelweiss
Ada mitos yang beredar, katanya kalau kita berjalan mendaki tanjakan cinta tanpa menoleh ke belakang skalipun sambil mikirin orang ygn kita suka, (konon) nanti kita bakal bersatu sama dia. Berhubung tahun 2014 silam aku pernah nyobain (dan nggak  berhasil), kali ini peduli amat deh. Aku jalan, noleh buat foto, jalan lagi, foto lagi, gitu trus sampe bosen.
  

 



Puas foto-foto dan memandangi Oro-oro Ombo yang nampak gersang dari kejauhan, aku dan teman-teman segera kembali ke tenda untuk sarapan. Disana, Om Agung sudah memasak sup krim jamur , menyediakan buah-buahan, dan siap bikin yoghurt buah. Ada roti isi juga. Pagi yang sempurna. Super nikmat sekaligus bergizi.
Sarapan bergizi

Salad buah wenaaaak
Selesai makan, sedikit terjadi perdebatan. Karena beberapa hari sebelum kami mendaki sempat ada pendaki yang hilang, sudah 3 hari ini pendakian ditutup dan hanya boleh sampai Kalimati. Alin selaku TL kami menegaskan hal itu berkali-kali. Terlebih dari beberapa yang harusnya ikut summit attack, malah memilih mundur. Tersisa aku, Kika, Alin, Desi, dan Mbak Fatma.

Setelah sempat berdebat, aku yang ngotot tetap mau camping di Kalimati berhasil "memaksa" Alin dan yang lainnya untuk melanjutkan pendakian (berlima), sedang 9 sisanya kembali ke Ranupane.
Sebelum berpisah dengan teman-teman
Sekitar jam 10 siang, seteah beres-beres dan meninggalkan sejumlah barang bawaan yang tak perlu untuk dititipkan di shelter Ranukumbolo, kamipun berangkat.
Siap menuju Kalimati

Menuju Kalimati

Tim terbagi menjadi dua, aku jalan duluan dengan Mbak Fatma, sedang Alin, Kika dan Desi jalan belakangan. Sampai di Cemoro Sewu, ada yang jual gorengan sama semangka. Kami jelas berhenti dulu buat jajan. Sambelnya enaaaaak. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Di tengah jalan kami berkenalan dengan Dini dan rombongannya dari Bandung (yang nantinya akan jadi tim summit attack kami).
Semangka dan gorengan marebu dua
Sejak dari Cemoro Kandang, aku dan Mbak Fatma memang sudah terpisah dengan rombongan. Bukan apa-apa, kami ingin cepat sampai dan tidur, hahaha. Ritme jalan mbak Fatma ini cocok banget sama aku. Kami jalan pelan-pelan, tapi pasti. kalopun berhenti cuma dalam hitungan 1 sampai 10 terus jalan lagi. sampai di Jambangan pun kami tidak berhenti, padahal banyak pendaki lain yang sebelum kami masih istirahat disitu.

Sekitar jam 14.00 siang kamipun sampai di Kalimati. Alhamdulillah.
Udah mau sampe Kalimati, yes!
Pos Kalimati sore itu
Mas porter yang sampai tak lama sebelum kami sedang mempersiapkan tenda dan akupun membantu biar cepat selesai. Sekitar 1 jam kemudian (kayaknya sih lebih) soalnya kami udah sempet mager lumayan lama, barulah Alin dan temen-temen lain sampai. Mereka langsung kami suruh istirahat sedang aku dan Mbak Fatma ikut ke sumber mata air yang jaraknya sekitar 20 menit dari area camp.

Begonya,. sikat gigi dan pasta gigiku malah kutinggal di Ranukumbolo, praktis nggak sikatan deh. Hiks.

Setelah mengisi botol-botol dengan air, aku, mbak Fatma dan porter ber-perut nyaris six pack- kami kembali lagi ke tenda (badan masnya bagus, berotot gitu). Coba si Renky badannya gitu ya, bakalan makin cinta deh aku (ditabok).

Kisah berikutnya, dari logistik yang pas-pasan hingga perjuangan untuk ke Mahameru cukup panjang, sekaligus horor. Disambung di part 2 yang bisa kalian baca disini ya.














7 komentar:

  1. Kalo aku sicpack trus cewek2 pada klepek-klepek nanti kamu ngambek -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. dih ngeselin. kalo banyak yang naksir kamu bakal milih mereka apa aku ?

      *drama

      Hapus
  2. mbak part 2 mana... nanggung neh bacanya....Selamat ulang tahun kakak sayang :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miss Risna : ini lagi mau ditulis. ngumpulin niat dulu hehehe

      Renky Liniaryadi : HEH RENKYY !

      Hapus
  3. Selamat bertambah usia Kak. Semoga dilancarkan sampai hari H ya. Aamiin. ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah makasih.Maaf baru baca . hehehe Aamiin

      Hapus