Follow Me @rezadiasjetrani

Kamis, 30 Juli 2020

Pantai Gopek, Wisata Murah Meriah di Kota Serang

11.13 0 Comments
Terletak di daerah Karangantu, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Pantai Gopek nampaknya satu-satunya tempat wisata yang terbilang murah meriah, apalagi kalo dibandingin sama deretan pantai di wilayah Anyer.

Pengunjung baik dari luar daerah maupun penduduk asli Kota Serang hanya cukup membayar Rp 500 perak alias gopek, untuk memasuki kawasan pantai ini. Nantinya kita bisa melakukan beraneka kegiatan dari mulai  memancing, berenang, sampai parkir kendaraan semuanya gratis. Kaget juga soalnya biasa ke Anyer bayar Rp 50 ribu. Eh, disini cuman gopek. Tapi tadi kami bayarnya seribu sih 😌.

Dari pantai ini, kita bisa menuju tiga pulau yang bisa dikunjungi yaitu Pulau Tiga, Pulau Empat dan Pulau Lima. Siang itu aku ke pantai ini sama mas X, Saga, Lia dan Epil (2 adik iparku). Selain aku belom pernah kesini, Epil sekalian mau foto-foto baju. 

Sayangnya, ternyata biaya sewa kapal lumayan juga. Mulai dari Rp300 ribu sampai Rp 600 ribu untuk satu kapal yang bisa memuat hingga 15 orang. Liat kanan-kiri nggak ada wisatawan lain yang mau naik. Hmm....mayan juga kalo bayar Rp 300 ribu buat berlima doang, empat setengah malah kan Saga setengah 😅. Akhirnya kami main ke kawasan hutan bakau atau mangrovenya aja. 



Masuk hutan mangrove cukup bayar Rp 5 ribu per orang, udah bisa duduk-duduk di gazebo sepuasnya. Gazebonya lumayan, ada sekitar 9 apa 10 gazebo gitu. Yang paling ujung langsung menghadap pantai. Kita juga bisa pesen ikan bakar dan aneka minuman dingin lain. Harganya juga masuk akal nggak mahal-mahal banget. 

Pantai Gopek sendiri udah cukup populer di telinga masyarakat Banten, khususnya warga Kota Serang. Katanya sebelum pandemi Covid-19, setiap memasuki akhir pekan kawasan ini banyak dipadati wisatawan. Sebelum sampai area pantai, kita bakal liat banyak kapal nelayan parkir. Kapal besar gitu yang banyak lampu, bukan kapal kecil kayak yang biasa aku liat di pantai Gunungkidul, Jogja. 

Lokasi itu namanya Pelabuhan Karangantu, pelabuhan yang ternyata punya nilai sejarah. Pelabuhan ini dulu ramai dan mengalami masa kejayaan di zaman Kesultanan Banten. Sekarang pelabuhan ini masih berfungsi sebagai dermaga untuk kapal-kapal nelayan bersandar.

Buat kalian yang hobi mancing, kalian bisa melampiaskan hobi di pantai ini, soalnya banyak spot untuk aktivitas mancing. Saranku jangan lupa bawa payung atau topi kalo kesini. Puanaaaaassss kalo siang. Mana dari lokasi parkir ke area pantai lumayan jauh. Kakiku sampe gosong huhuhu. Mutihin berbulan-bulan, gosong dalam waktu sejam. Bagoooos 😑.

Kalo air pantainya pasang, kita juga bisa main kano. Cukup sewa Rp 20 ribu bisa nggosongin kulit sepuasnya sambil main kano 😅. Pas kami kesana lagi surut, jadi nggak bisa main kano. Selain itu nggak bawa baju ganti juga sih. Anak-anak juga bisa sewa mobil-mobilan aki dengan banyak pilihan.

Buat liburan tipis-tipis, lumayan banget lah ke Pantai Gopek ini. Murah, meriah, dan nggak terlalu jauh dari rumah. Kalian yang ke Banten Lama abis dari Masjid Agung, sempetin kesini sekalian ya.

Jangan lupa selalu pakai masker dan jaga kebersihan tangan, baju, juga jaga jarak dengan wisatawan lain. 



XOXO,
Jetrani



Kamis, 28 Mei 2020

Lengangnya Masjid Agung Banten di Tengah Pandemi Corona

22.56 2 Comments
Sudah hampir 3 bulan sejak pemerintah menggalakkan stay at home dan work from home, bahkan hingga bulan Ramadan tahun ini. Masjid Agung Banten yang di akhir pekan biasanya padat oleh jamaah, kini nampak sepi. Bahkan pagar masjid pun dikunci sehingga jamaah tidak bebas keluar masuk.

Eh, ada yang nangis.

Pada liatin apa sih?

Hal ini memang sesuai anjuran pemerintah untuk mengurangi kerumunan warga. Jika biasanya warga banyak yang ngabuburit di lingkungan masjid ketika bulan Ramadan, kini nampak lengang. Masjid hanya dibuka untuk shalat tarawih itupun sesuai protokol kesehatan. 

Sore itu aku, mas, Saga, Epil, Lia dan Papa ke Masjid Agung Banten karena ingin beribadah, juga karena lama tak kesana. Namun apa daya memang tidak bebas masuk. Boleh masuk sih sebenarnya jika izin dulu dan dicek dulu oleh petugas, namun demi kenyamanan bersama kami memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Alhasil aku harus puas memandangi Masjid Agung Banten yang kini sudah berubah jadi lebih megah, dari balik pagar saja. Terakhir kemari, kompleks masjid ini masih cukup "kumuh", jalanannya jelek dan bergelombang. Padat oleh jamaah dan peziarah yang membuang sampah sembarangan. 

Bahkan dulu aku sempat kebingungan mencari pintu masuk Masjid Agung Banten. Hal ini karena banyaknya lapak pedagang kaki lima menutupi jalan. Aku jadi tak leluasa melihat kemegahan masjid yang dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hassanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Beliau adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati Cirebon.

Wajah Baru Masjid Agung Banten

Nampak menara setinggi 30 meter dari kejauhan. Namun sebelumnya, jamaah dan peziarah terlebih dulu melewati Istana Sorosowan yang kini hanya tinggal puing-puing. Bahkan, umumnya jamaah tidak memperhatikan keberadaan bekas istana, yang di abad ke-16, ke-17, dan ke-18 pernah menjadi pusat kegiatan Kerajaan Islam Banten. 
Bersih jadi keliatan makin luas 

Keunikan arsitektur masjid ini nampak dari atapnya yang bertumpuk lima, mirip pagoda. Jumlah tersebut merujuk pada lima waktu shalat yakni Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Aku juga belum kesampaian untuk naik ke menara dan juga shalat di dalam masjid hingga pengalaman ini saya tulis.

Kata mas kalau mau naik menaranya, kita harus melalui lorong sempit yang hanya muat untuk satu orang. Para peziarah harus bergantian ketika akan naik atau menuruni tangga menara. Di sinilah kesabaran masing-masing individu diuji. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga. Konon pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.

Kini bangunan masjid yang memadukan budaya Hindu-Jawa, Eropa, dan Tiongkok ini kian cantik dengan kehadiran payung-payung besar, mirip seperti yang ada di Masjid Nabawi, Madinah. Area sekitar masjid juga dikelilingi taman hijau dan bangku yang membuat suasana makin teduh.

Pada bagian lantai dipasangi marmer yang ketika kami kesana, sedang dibersihkan. Kanal di samping masjid dihiasi dengan taman, bangku dan di conblok. Di sekitar Keraton Surowosan juga dipasang lampu hias, pagar dan tulisan raksasa. Rumput dan tanaman terawat baik dan tumbuh subur namun rapi. Bikin siapapun jadi betah berlama-lama habiskan waktu di simbol kejayaan Islam ini.

Jalan di sepanjang kanal sangat nyaman.

Sepi, bersih, dan rapi. Siapa yang nggak betah kalau suasananya kayak gini?

Watu Gilang di depan Masjid Agung Banten

Lokasi Masjid Agung Banten

Bagi kalian yang ingin ke Masjid Agung Banten ini, jaraknya kurang lebih 10 kilometer dari Alun-alun Serang, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen. Alamat lengkapnya di Komplek masjid agung Banten RT/RW 001/011, Banten, Kec. Kasemen, Kota Serang, Banten 42191.

Cara Menuju Ke Masjid Agung Banten

Akses ke lokasi dapat dituju dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Dari terminal Terminal Pakupatan, Serang menggunakan bis jurusan Banten Lama atau mencarter mobil angkutan kota menuju lokasi selama lebih kurang setengah jam. Jika ingin mengendarai mobil pribadi atau bus pariwisata, lahan parkir yang luas siap menyambut jamaah dan peziarah.



Senin, 25 Mei 2020

Cara Supaya Tetap Produktif Meski di Rumah Aja Bersama FWD

15.27 2 Comments
Who would've thought that we would be spending the holy month without a single night at the mosque? Or without a single bukber? Or without a single Jum'at prayer or Tarawih together? Ramadan this year is difficult, unusual, and sad. Thus, in these last five days of Ramadan, let's pray that we will not be having this kind of Ramadan again. Ever. Aamiin

Bulan Ramadan kali ini emang bulan Ramadan paling menyedihkan buat aku. Mungkin buat kalian juga. Nggak ada satupun buka puasa bareng. Nggak ada sekalipun ngabuburit di sore hari. Nggak ada yang namanya tarawih di masjid. Nggak ada juga kesibukan hunting baju baru menjelang hari Raya Idul Fitri. 

Alhamdulillah, hingga akhir Ramadan kali ini, bahkan sejak pertengahan bulan Maret, aku, suami serta putra kami berkomitmen untuk sebisa mungkin tetap di rumah aja. Keluar rumah paling buat belanja sayur dan keperluan sehari-hari. Itupun kalau bisa belanja online, mendingan online

Kerja dan belajar dari rumah (work from home, school from home) emang udah menjadi tren global beberapa waktu terakhir ini. Pemerintah Indonesia pun sudah mengeluarkan imbauan untuk meniadakan pertemuan face to face dan melakukan segala aktivitas di rumah, termasuk bekerja, belajar, dan bahkan beribadah. 

Terus Ngapain Aja Selama di Rumah?

Merasa bosen? Aduh...jangan tanya deh! Bahkan udah di level mau bosen aja bosen. Gimana coba? Saking lamanya di rumah, aku sempet bingung mau ngapain lagi. Bersihin rumah? Udah tiap hari. Belajar masak? Lumayan lah minimal tiap minggu nambah resep baru. Bikin kue? Oooo...sudah pasti. Bikin mainan DIY buat anak? Udah juga. Piknik ala-ala di depan rumah? DONE


Tapi aku sadar bahwa kita nggak boleh menyerah sama keadaan. Meski di rumah aja, kita harus tetap produktif, jangan sampai otak kita kebanyakan nyantai, meski nyantai juga nggak dilarang. Malah perlu, biar nggak gampang stres. Selain itu, asupan makanan yang kita konsumsi juga harus diperhatikan. Makan sayur setiap hari, buah, vitamin kalau perlu. Kalau daya tahan tubuh kita bagus, tubuh nggak mudah terserang penyakit. 

7 Cara Menjaga Produktivitas Selama Di Rumah

Buat kalian yang setelah ini masih harus kerja dari rumah juga, berikut ini aku bagiin tips dari aku biar nggak bisa tetep produktif selama di rumah. Apalagi kalau kita harus membawa pekerjaan ke rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat. Tenang, ada cara supaya bisa tetap produktif nih!

1. Menyusun Jadwal Aktivitas

Banyak kegiatan yang biasanya dilakukan di luar rumah, banyak pula yang biasanya dilakukan ketika di rumah. Menggabungkan kedua hal yang berbeda menjadi satu kesamaan bagi sebagian orang cukup sulit. Makanya kita perlu menyusun dengan tepat  jadwal kita ketika harus melakukan aktivitas seperti kerja dari rumah.

Pastikan kita sudah tahu apa saja kegiatan yang harus dilakukan ketika harus membawa aktivitas sehari-hari ke rumah. Prioritaskan kegiatan utama seperti menyelesaikan pekerjaan atau tugas supaya kita bisa cepat menyelesaikannya. Kerjakan dari yang paling penting, diikuti dengan yang dikerjakan sambil lalu pun bisa.

2. Mendekorasi Ruangan

Menyelesaikan pekerjaan atau tugas di rumah tentu banyak sekali godaannya? Dari mulai pengen kerja sambil rebahan aja, main sama anak, icip-icip makanan atau ngemil, banyak! Nggak salah kok, rumah itu memang tempat untuk beristirahat dan bersantai. Makanya kita harus bikin suasana rumah senyaman mungkin. Caranya dengan menghias atau mendekorasi ruangan kerja/ kamar supaya bisa memberikan semangat untuk bekerja. 

Kalau mendekorasi ruangan terlalu susah, kita bisa mengakalinya dengan menata ulang letak barang-barang. Hal sederhana ini bisa menimbulkan suasana baru dalam ruangan jadi kita bisa makin semangat. 

3. Memutar Lagu Favorit

Mana nih yang suka dengerin lagu juga kalau sedang beraktivitas? Bagi sebaguan orang, mendengarkan lagu bisa membuat mood kita berubah. Untuk meningkatkan semangat, coba deh dengarin lagu favorit kamu ketika bekerja! Jangan lagu sedih atau lagu galau ya. Ntar malah sibuk ngelamun 😅.

Buat playlist atau kumpulan lagu yang bisa membuat suasana hati kita jadi semangat dan ceria. Dengan begitu, kita bisa mengerjakan pekerjaan atau tugas di rumah dengan hati yang senang. Bisa jadi cepat selesai kemudian istirahat juga.

4. Berlatih Keterampilan Baru

Kalau biasanya selalu pesan makanan via online, coba deh kali ini belajar masak. Kalau suka makanan manis, coba deh bikin kue atau roti. Saatnya kita belajar resep baru! Atau kalau suka kerajinan tangan, kita bisa belajar bikin macrame buat hiasan di rumah. Banyak video tutorial yang bisa kita contoh. Siapa tau  keahlian baru ini bisa jadi sumber penghasilan kalau diseriusin. 



5. Rehat Sesekali

Bekerja boleh tapi jangan lupa rehat sejenak. Apalagi karena di rumah, bisa lebih leluasa mengatur waktu istirahat. Kalau udah merasa pusing karena melihat layar monitor, coba rehat sejenak. Duduk dan tarik napas perlahan untuk membantu pikiran lebih rileks, kemudian coba teguk segelas air putih. Rehat selama 10-15 menit akan membuat tenaga kita terisi kembali sebelum melanjutkan pekerjaan. 

6. Matikan Notifikasi

Coba matikan notifikasi, karena kita tidak memerlukannya setiap saat hanya untuk sekedar mengetahui segala sesuatu yang terjadi dengan teman kita. Kita masih bisa melihatnya nanti. 

7. Ikuti Kegiatan atau Kajian Online yang Bermanfaat

Belajar atau mengikuti kelas online nampaknya menjadi tren baru juga yang marak selama pandemi berlangsung. Waktu itu aku sempat mengikuti IG Live bersama FWD yang memiliki rangkaian kegiatan
#DiRumahAjabarengFWD yaitu program IG Live untuk mendorong penonton merayakan hidup di tengah pandemi ini. 

Selama Ramadan, setiap minggunya FWD Life akan membawa para ahli yang akan menyuguhkan informasi bertemakan cooking, sports, Mom’s talk dan financial literacy bersama dengan KOL ternama untuk menyebarkan kegembiraan kepada penonton.

1. Episode 1 tanggal 29 April, mengusung tema KOLAK (Kreasi Olah Takjil) ditemani canda tawa bersama Gita Bhebhita dan Chef Putri Mirianti.

2. Episode 2 #DirumahAjabarengFWD mengajak kita ngabuburit sambil bakar kalori bareng Zeezee Shahab dan juga GOFit.

3. Episode 3 mengambil tema Mom’s Talk bersama dengan Tyna Kanna Mirdad dan Puty Karina, FWD Life mengajak ibu-ibu dirumah bagaimana mengelola emosi selama pandemi COVID-19. 

4. Episode 4 #DirumahAjabarengFWD, FWD Life mengajak kita ngobrol mengenai finansial bersama Aidil Akbar seorang financial expert dan Dono Pradana , tentang bagaimana cara mengelola keuangan yang baik di tengah pandemi COVID-19. 

Nah, kelas ini yang aku ikuti kemarin. 

Kata siapa ngobrolin finansial bikin bosan? Ternyata bicara mengenai finansial seru juga kok! 

Di Rumah Aja Bareng FWD

Jadi hari Rabu, 20 Mei 2020 kemarin aku mengikuti live instagram bersama mas Dono Pradana dan Aidil Akbar dengan tajuk “Financial Talk with Standup Comedy”


Mas Aidil Akbar merupakan seorang Wealth Planner, profesi gabungan dari financial planner dengan wealth manager. Kalau Financial planner tugasnya bikin perencanaan keuangan, wealth manager tugasnya merekomendasikan produk-produk keuangan yang ada di perbankan. Kalau mas Dono Pradono adalah komika asal Surabaya yang memandu jalannya talkshow. Berkat beliau acara ini jadi lebih cair dan seru karena meski yang dibahas adalah konten yang "serius" jadi lebih ringan karena diselingi canda tawa.



Selama satu jam kemarin, banyak hal bermanfaat yang bisa kupelajari. Sempat dibahas juga thread yang ramai di twitter tentang seorang pegawai swasta yang punya penghasilan 20 juta/ bulan. Tapi karena pandemi, perusahaannya terdampak jadi penghasilannya dipotong hingga 50% alias sisa 10 juta/bulan. Padahal, dia punya kewajiban cicilan rumah 5 juta dan mobil 4,5 juta setiap bulannya. Sehingga hanya tersisa 500 ribu/ bulan untuk kebutuhan rumah tangga. Pusing nggak tuh anak istri mau makan apa. 

Hal-hal semacam ini yang harus dihindari dan dijadikan pelajaran untuk kita semua karena sebaiknya jumlah utang yang diperbolehkan maksimal 30% dari total penghasilan. Nggak boleh lebih. 

Selain itu ada beberapa poin lagi yang bisa aku tangkap, diantaranya :

1. Kurangi foya-foya. Pakai uang untuk kebutuhan penting saja.
2. Kurangi jajan di luar karena lebih boros. Coba bikin masakan dan jajajan sendiri di rumah.
3. Sebisa mungkin cari usaha sampingan.
4. Jangan berhutang untuk konsumtif. Sebisa mungkin hutang yang diambil adalah hutang aktif yang bisa diputar. Misal kredit motor yang bisa dipakai untuk ojek online.

Tentang FWD Life dan Berbagi Bareng FWD

FWD Life merupakan perusahaan asuransi yang berbeda, yang bertujuan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi. Oleh karena itu FWD Life mencoba berperan sebagai “sahabat” yang menemani setiap perjalanan hidup masyarakat, salah satunya melalui passion. Diantaranya : Culinary, Movies & Book, Travel, Fashion dan Sport. 

Makanya, sambil belajar mengelola keuangan kemarin, kita juga bisa ikutan kolaborasi bareng FWD berdonasi untuk adik-adik di SOS Children’s Villages. Ini memang kolaborasi FWD Life bersama SOS Children’s Village.

FWD Life ingin memberikan semangat positif kepada masyarakat, agar tetap Celebrate Living, Celebrate Kindness, Celebrate Positivity walaupun #DiRumahAja.

Berkolaborasi dengan SOS Childrens Villages, FWD ingin sama-sama dapat merayakan kebaikan dan kebersamaan dengan menginspirasi kita untuk menolong mereka yang kurang beruntung, terutama anak-anak selama pandemi ini. Di Indonesia ada lebih dari 4.500 anak di lebih dari 2.400 keluarga yang tersebar di 10 lokasi berbeda yang terkena dampak ini. Rata-rata satu keluarga membutuhkan Rp 1 juta/ bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan kebersihan.

Dampak yang disebabkan oleh pandemi ini tidak hanya kesehatan, tetapi banyak keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar karena pembatasan interaksi sosial yang berdampak pada keadaan ekonomi mereka.

Selain itu masih dalam kegiatan #BerbagiBarengFWD berkolaborasi dengan beberapa pihak, FWD Life akan mendistribusikan 20.000 Care Package untuk seluruh keluarga FWD Life – dari karyawan, tenaga pemasaran hingga nasabah – yang terdiri dari barang-barang kesehatan dan kebersihan seperti masker wajah dan hand sanitizer. 

Hal-hal diatas sesuai dengan fokus FWD Life yakni menyediakan perlindungan yang tepat, agar setiap orang tetap berada di rumah dan memenuhi kebutuhan kesehatan dan kebersihan mereka. Yang utama adalah memastikan tersedianya jenis perlindungan asuransi yang tepat serta mengedukasi masyarakat tentang literasi keuangan sehingga mereka dapat mengelola keuangan dengan lebih baik dan melindungi diri dari risiko keuangan.

Jadi gimana, sudah punya asuransi FWD Life sebagai salah satu bentuk perlindungan untuk diri sendiri dan keluarga sekaligus berbagi? Kalian bisa ikut berbagi melalui link ini ya 


Sabtu, 11 April 2020

Nonton Tarian Khas Bali Sambil Makan Enak? Di Laka-Leke Aja!

10.19 2 Comments
Waktu liburan ke Bali kemarin, di itinerary ada agenda nonton tari Barong. Hmmm....mikir dong ya. Apalagi di luar sana udah mulai pandemi Covid-19, meski waktu itu di Bali baru ada 1 kasus. Pas SMP dulu udah pernah nonton tarian ini, kayak di panggung pertunjukan gitu. Bawa Saga dan desak-desakan nonton Tari Barong kayaknya skip aja deh. Tapi ternyata, kali ini kita nonton Tari Barongnya sambil makan dan private gitu. 

Hah? Gimana? 
Iya. Jadi ada restoran di Ubud namanya Laka-Leke Restaurant. Mereka punya panggung terbuka yang bisa menampilkan pertunjukan tari, lengkap dengan gamelannya by request. Jadi kita tetep duduk di meja makan sambil nonton tariannya.
Asik banget! 

Bahkan kita bisa minta disediain meja sama kursi yang langsung menghadap panggung biar nontonnya lebih jelas. 

Karena aku sambil mangku plus n*n*nin Saga, aku lebih milih duduk di gazebo di samping panggung. Saga bisa merangkak diatas alas duduk yang empuk.

LAKA-LEKE artinya 'hideaway' dalam bahasa Bali. Restoran ini masih sodaraan sama Cafe Wayan and Bakery di Monkey Forest Road, Ubud.


Nama Laka-Leke emang cocok soalnya restoran ini literally hidden away between two well-known places in Ubud yaitu Monkey Forest dan the unique wood-carving village of Nyuh Kuning.

Makan di Laka Lake Restaurant, Ubud

Kami dateng ke restoran ini di jam makan malam. Dari depan, restonya keliatan asri dan sejuk karena banyak tanamannya. Kalo siang asik kayaknya buat foto-foto. Di bagian depan ada gapura kecil untuk masuk dan langsung disambut kolam yang ada patung bebeknya dan daun teratai lebar. Terus ada sejumlah patung yang biasa ada di setiap sudut di Bali (disini ada patung Hanoman dan Ganesha). Bukan Bali namanya kalo nggak ada patung, lukisan, dan segala macam dekorasi lainnya, kan?
Area makannya ada gazebo-gazebo yang bisa untuk makan ber 4 sampai 6 orang, cocok untuk keluarga. Ada juga area khusus untuk grup besar atau kelompok. Jadi kalo mau makan ramean bisa banget. 

Di bagian tengah ada panggung terbuka yang digunakan untuk pertunjukan. Kalo aku googling sih bagian belakang panggung itu sawah. Tapi pas malem sawahnya nggak keliatan. 

Source : google images

Source : google images

Salah satu hal menarik lainnya di restoran ini adalah mereka punya menu spesial setiap hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu yang udah komplit dari appetizer, main course, sampe dessert . Jatuhnya lebih murah dibanding kita pesen satu per satu. Waktu itu kami dateng hari Rabu dan menunya sih menarik menurutku. Lagian udah laper banget, maunya cepet makan, pulang terus tidur.

Setelah pesen, yang dateng duluan adalah minuman dingin, semacam koktail buah tapi isinya nanas sama pepaya doang yang diiris dadu super mini. Lumayan seger lah.

Abis itu dateng sup (kayaknya sih sup labu) yang rasanya cukup asing di lidahku. Enak sih, tapi karena aku jarang (bahkan nggak inget pernah makan labu), jadi nggak kuabisin. 

Waktu itu udah jam 8 lewat dan aku keburu laper. Pertunjukkan Tari Barongnya juga udah mulai. Tari Barong sendiri intinya menceritakan tentang pertarungan 2 orang raja gara-gara rebutan 1 cewek gitu. Aslinya mereka berdua itu temenan dan lagi bertapa. Nah, sama Dewa mereka diuji dengan kehadiran wanita. Yang satu mewakili kebaikan, 1 lagi mewakili kejahatan. 

Endingnya jelas yang baik yang menang. Tapi nggak sampe ada adegan raja yang menang nikah sama cewek penggoda tadi sih. Nggak se-happy ending itu juga (´▽`). (Duh, sinopsisnya gimana sih! Googling aja sendiri ya biar nggak sesat 😅). 

Kembali ke makanan. 

Mas X juga milih menu yang sama, padahal kami belum tau wujudnya. Semoga aja nggak mengecewakan. Eh, taunya pas dateng...yang dateng 1 tampah.

Iya....1 tampah buat tumpengan! Astaga baru liat wujudnya udah mikir ini mah bisa buat makan ber-4. Gimana ngabisinnya coba ╮(╯_╰)╭ . Berasa lagi ikutan kenduri di Bali. Makanannya baru dateng pas tariannya kelar. Biar kita bisa fokus nonton. Di akhir acara setiap pengunjung boleh foto-foto dengan para penari. Untung nggak ada anak KKN yang lagi makan disini. Kalo ada, jadi KKN di Resto Penari (apasih, Jet 😶).
Di akhir pertunjukkan penonton bisa berfoto bersama para penari.

Akhirnya aku tetep makan semampuku. Di tampah ini isinya ada lawar sayur (yang kita sebut urap), udang di kuah pedes, sate ayam, bebek goreng, chicken wings pedes, perkedel, nasi kuning dibentuk tumpeng, pizza mini, ... banyak pokoknya.

Ini porsi buat 1 orang.

Untuk penutupnya kami diberi puding coklat dan fruit platter. Kurang lengkap apa coba! Nggak paham lagi perutku udah nggak muat 😩.


Karena sayang kalo ditinggalin gitu aja, akhirnya aku bungkus. Nasinya doang yang abis karena ukurannya emang kecil. Lauknya masih sisa banyak. 

Oiya harga se-tampah ini adalah Rp 180 ribu. Itu di luar biaya buat nonton Tari Barong. Jadi kalo kita mau request pertunjukkan tari ini, ada biaya tambahan lagi ya. Soalnya mereka tetep tampil all out, dari kostum, pemain gamelan, sampe durasi tarinya juga sama aja kayak di panggung pertunjukan besar. 

Next time kalo ke Ubud, pesen paket ini mending 1 aja terus minta nasi tambahan. Lauknya cukup banget buat berdua 😁. Bisa juga pesen menu lainnya karena makanan disini rasanya enak. Bebeknya enak. Satenya enak. Cakenya enak. Semua enak! 

Ini kutambahin price list-nya ya.


Lokasi Laka Leke Restaurant

Jl. Nyuh Bojog No.32, MAS, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571

Kontak : (0361) 977565

Jam Buka Laka Leke Restaurant: 

Dari jam 09.00 pagi sampe jam 23.00
Pertunjukan tari dimulai jam 20.00


Sabtu, 28 Maret 2020

Nikmatnya Berendam Air Panas di Tepi Danau Batur

19.44 2 Comments
Berendam air panas, siapa yang nggak suka? Beruntung banget aku, mas dan Saga juga punya pengalaman berendam enak di Toya Devasya pas ke Bali kemarin.



Kami emang liburannya nggak mantai dan nggak ke daerah Kuta atau Seminyak sama sekali. Menghindari kerumunan karena emang waktu itu lagi siaga wabah Covid-19. 

Baca Juga : Pengalaman Menginap di Sandat Glamping Tents

Beberapa tahun silam aku sempet berendam air panas juga pas ke Kintamani, tapi aku di sebelahnya di Toya Bungkah atau Batur Natural Hot Spring. Nah, Toya Devasya ini ada di sebelahnya. Bahkan pas berendam bakal keliatan karena mereka sebelahan.

Sekilas Tentang Toya Devasya

Dibanding Toya Bungkah, Toya Devasya emang lebih bagus. Kolamnya banyak dan luas.. Ada waterpark buat anak kecil, ada kolam olympic, ada kolam berendam dari yang kecil, sedang, dan besar. Dekorasinya juga Bali banget, banyak patung gajah yang di cat ungu (warna khas Toya Devasya) dan spot fotonya juga banyak. 

Kalo masuk, posisi kita di atas. Jadi buat ke kolam kita harus turun tangga lewatin lorong yang dihiasi lampu. Terus sampailah kita di kolam besar. Nanti ada restoran di deket kolam buat yang mau santai-santai setelah berenang, ada area spa, dan di lantai 2 ada restoran yang cakep banget dan cocok buat arisan atau pesta juga bisa.

Untung aku sama mas udah kepikiran buat bawain pelampung bentuk pesawat buat Saga. Terus Saga juga dibeliin baju renang sama tante Lia + tante Epil jadi sempurna deh liburannya 😍. Saga bisa berenang dan berendam sendiri tanpa perlu dipegangin setiap saat. Cukup diawasi aja karena gimanapun dia ada di dalam air.

Berapa Harga Tiket Masuk Toya Devasya 

Masih terjangkau kok. Buat yang mau berendam tipis-tipis disini cukup bayar Rp 100 ribu aja. Tapi terbatas di beberapa kolam. Kalo mau yang komplit, udah termasuk sama free handuk dan sewa loker Rp 300 ribu. Bilasnya nanti ada shower air panas udah ada sabun sama sampo juga.

Paling cocok berendam disini abis hiking dari Gunung Batur. Kaki dan pundak pegel, badan keringetan, berendam air panas dengan latar belakang Danau dan Gunung Batur. Surgaaaaa banget! Poolnya juga langsung sebelahan sama Danau Batur, danau terbesar di Pulau Dewata jadi infinity pool gitu. 

Sebelum berendam, kita wajib mandi dulu. Gausah mandi sabun juga sih, yang penting basahin badan. Biar kalo kita keringetan, keringetnya udah rontok duluan. Jangan keringetan langsung nyemplung. Apalagi pipis di kolam. Iyuuuhhh 😣😣.

Harga Makanan dan Minuman di Toya Devasya 

Sambil nungguin mas turun dari Gunung Batur, aku sama Saga sarapan di Toya Devasya. Harga makanan sama minumannya masih masuk lah harganya. Ini dia harganya yang sempet aku foto.


Aku sarapan nasi + ayam yang di bumbu manis + kacang mede. Agak berat buat sarapan pagi 😅. Tapi kalo pesen kentang goreng kok ya nggak bakal kenyang. 

Fasilitas yang ada di Toya Devasya

1. Kolam renang dewasa
2. Kolam renang anak
3. Kolam berendam air panas di tepi danau
4. Kolam renang olympic
5. Restoran
6. Ruang spa
7. Penginapan/ hotel
8. Aneka permainan dan atraksi air
9. Handuk + loker + shower air panas

Biasanya pada berendam disini sekitar 2 jam. Bukan full 2 jam di air sih, tapi berendam, nyantai, makan, berendam lagi, baru mandi. Emang senyantai dan seenak itu apalagi viewnya juga cakep.

Buat kalian yang ke Bali, boleh banget masukin tempat ini di list liburan kalian ya.

Kontak Toya Devasya

Front Office: +62 819 3309 4796
Marketing: +62 819 9994 4323
Email: info@toyadevasya.com

Lokasi : Toya Bungkah, Batur, Kintamani, Bali - Indonesia.

Rabu, 25 Maret 2020

Nyamannya Menginap di Five Billion Stars-Resort Sandat Glamping Tents

13.13 2 Comments
Sebagai orang yang suka naik gunung, menginap di tenda sudah jadi hal yang biasa bagiku. Tenda yang terbuat dari bahan sejenis terpal, beralas matras diatas rumput atau tanah. Empuk? Boro-boro. Kalo hujan pun suka takut rembes atau bocor. Tapi minggu lalu, aku, mas dan Saga akhirnya merasakan nyamannya tidur di tenda mewah alias glamping (glamour camping) tepatnya di Sandat Glamping Tents.
Tenda kami di Sandat Glamping Tents.

Sekilas Tentang Sandat Glamping Tents

Sandat ini letaknya di Ubud. Tahu sendiri kan Ubud banyak menawarkan resort mewah di tengah sawah, di tepi sungai, pokoknya benar-benar nuansa alam khas Indonesia gitu deh. Bikin adem, ayem, dan cocok buat menyepi. Cocok banget juga buat bulan madu. Untuk mencari lokasi Sandat menurutku agak tricky dan pas kulihat di internet, emang lokasinya ada di tengah hamparan hijau sawah Ubud. Kerennya lagi Sandat adalah the first glamping tents in Bali since 2013.

Jalanan menuju kesini lumayan berkelok dan lewat tengah sawah. Mobil nggak bisa papasan. Jadi harus hati-hati dan jangan sampe nyasar aja sih. Repot muter baliknya 😅. 
Source : google
Penunjuk lokasinya cuman kayak tugu kecil, lumayan keliatan soalnya nggak begitu banyak bangunan. Pas kami sampai, kami langsung disambut bangunan bambu panjang melengkung,  yang dibentuk kayak gapura selamat datang. FYI, area parkirnya lumayan sempit, cuman bisa muat 5 sampai 6 mobil di dalem, sama kalo parkir di lorong juga bisa tapi jadi ngalangin jalan keluar masuk.

Kami baru check-in menjelang Magrib, soalnya abis mendarat kami langsung makan siang dulu di Bebek Tepi Sawah, lanjut rafting di Sungai Ayung. Berhubung lagi rame virus Covid-19, karyawan hotel udah stand by ngasih hand sanitizer buat seluruh tamu. Abis dapet kunci kamar, kami dianter menuju kamar dan koper dll langsung dibawain.

Ada Berapa Penginapan? 

Di sini ada dua jenis penginapan yang dapat dipilih dan total cuma ada 8 buah yaitu 5 tenda dan 3 lumbung. Kami sendiri menginap di tenda Ylang Ylang, tenda nomer 2 kalau dari lobi. Kami harus menuruni tangga, melewati jalan setapak, turun tangga lagi melewati pepohonan dan naik tangga dikit, baru deh sampe kamar. Kayaknya jauh ya, tapi nggak jauh banget juga sih 😅. 

1. Tenda

Katanya dari 5 tenda yang ada di Sandat Glamping, kesemuanya punya desain yang berbeda. Di tendaku, nuansanya biru teduh, jadi kesannya adem. Kalo temenku nginep di tenda yang dominan warna oranye dan ada kursi meraknya. Kursiku cenderung kursi santai yang bentuknya melengkung buat setengah rebahan gitu.
Enak buat leyeh-leyeh.
Masing-masing tenda ini letaknya tersembunyi satu sama lain dan masing-masing punya kolam renang privat di depan kamar. Jalan masuknya juga beda-beda, jadi kalau mau main ke kamar tetangga kudu muter dulu. Sebelum masuk ke jalan kecil menuju tenda, ada lonceng dari logam yang ditaruh di pohon yang bisa diguncangkan sebagai bel kalau misalnya ada tamu atau karyawan hotel yang mau ngasih bantuan atau nganterin makanan. 



Di beberapa titik mulai dari jalan setapak dan sekeliling tenda, kalau malam ada lampu penerang atau senthir kalau kata orang jawa yang dinyalakan. Berhubung bukan lampu yang bisa di on off in, menjelang petang ada karyawan yang bertugas buat menyalakan penerangan. Mereka juga menawarkan mau dipasangin obat nyamuk bakar atau enggak. Maklum, di tengah "hutan mini" jadi suka ada nyamuk meski aku sendiri Alhamdulillah nggak digigit nyamuk 😅.

Untuk ranjangnya, persis ada di depan pintu masuk. Punya kami bentuknya bulat dengan kelambu yang muterin tempat tidur juga. Di belakang ranjang ada lemari pakaian, di baliknya baru kamar mandi showerCloset duduk ada di sebelahnya. Wastafelnya dari batu besar yang dibuat cekung dan ditaruh diatas rak kayu antik. Kiri kanan ranjang ada meja dan kursi santai, lukisan,  meja kecil buat naro buah dan alat makan lalu kulkas kecil.
Aneka buah tropis.
Bak mandinya Saga nih 😁


Karena konsepnya glamping, kamar kami juga dilengkapi AC dan kipas angin yang bisa dijadiin opsi kalo AC terlalu dingin. Dinding tenda ini bisa dibuka supaya angin bisa masuk, tapi tetap ada jaringnya bukan full bolong. Tenang aja, ada sekat penutup buat nyamuk jadi aman pas malam dan AC juga nggak bocor keluar. 

Kamar mandi disini nggak pakai pintu, cuma dipisah dengan sekat kain semacam tirai. Showernya juga cuma ditutupin kain, jadi mandinya jangan terlalu heboh biar nggak nyiprat kemana-mana 😁.
Di malam hari, suasana di sini beneran sunyi. Aku bisa denger suara jangkrik dan suara hujan dengan jelas. Bahkan saking sunyinya, suara tawa dari tenda tetangga sayup kedengeran.
Kamar mandinya begini nih.
Bak mandi Saga.
2. Lumbung

Lumbung adalah tempat penyimpanan padi. Tapi kalau di Sandat bukan buat nyimpen padi, melainkan diubah menjadi tempat menginap 2 lantai yang keren. Lantai 1 diisi kursi kayu santai yang bisa dipakai leyeh-leyeh dan di lantai 2 kamar tidur.

Di belakang lumbung, ada toilet semi outdoor yang terdiri dari shower dan toilet. Di sebelahnya, ada tangga kayu buat naik ke atas dan ada balkon buat melihat pemandangan sekitar. Lumbung juga punya kolam renang , tapi sharing dengan lumbung lainnya, bukan pool pribadi. 

Breakfastnya Gimana?

Breakfastnya simpel tapi lengkap. Berhubung kayaknya yang nginep mostly adalah bule, banyak kue, roti, dan juga buah yang semuanya enak. Ada nasi goreng tapi porsinya nggak banyak. Atau kalau mau makan telur, bisa request aja mau dimasak apa. Halal kok makanan di sini jadi nggak perlu khawatir.

Restorannya juga cakeeeeppp. Banyak cermin-cermin dengan beragam pigura yang cakep banget buat foto-foto. Di bagian sudut ada sofa berukuran besar yang cocok buat leyeh-leyeh. Homy banget pokoknya ❤️.
Kursi-kursi rotan buat duduk santai.
Sofa di sudut. Bisa buat ngobrol rame-rame.
Spot foto wajib di Sandat.
Kami nginep disini 3 hari 2 malam, tapi baru sarapan disini di hari ketiga. Soalnya hari pertama kan emang check in Magrib, hari kedua kami (mas doang, aku sama Saga nunggu di basecamp) menanjak Gunung Batur dan berangkat dari hotel jam 2 dini hari, baru balik lagi sore.

Baca Juga : Nikmatnya Berendam Air Panas di Tepi Danau Batur

Fasilitas Lain yang Ada di Tenda

Sesuai dengan taglinenya, Sandat Glamping mencoba jadi penginapan yang go-green tapi tetep mewah. Setiap kamar baik di lumbung atau tenda nggak pakai bathtub,  tanpa TV, telepon (sebagai gantinya pake kentongan untuk memanggil karyawan hotel). Nggak ada juga amenities seperti sabun dan sampo yang bisa kita ambil karena semua dimasukkan ke dalam wadah keramik besar. Jadi cukup pencet-pencet aja seperlunya pas mandi 😅. Sandal juga nggak ada.

Untuk harga, setauku yang tipe Lumbung lebih murah dan bisa nginep ramean. Tapi kalau mau privat dan lebih "nyaman" ya mending di tenda aja. Bisa berenang berdua juga biar makin romantis. Aku sama mas sih maunya bulan madu lagi sekalian. Tapi ada Saga diantara kami dimanapun kapanpun 🤣. Tidur aja dia di tengah. Sampe lupa kapan terakhir tidur sambil dipeluk sama mas (*ditabok). Saga itu mau ditaro di pinggir pun, bisa tiba-tiba pindah sendiri ke tengah atau ke atas badan ibu bapaknya sambil ketawa-ketawa. Kadang ngasih bonus enzim alami yang ke pipi kanan kiri 😅.

Oiya meski nggak ada TV, Sandat masih menyediakan WiFi ya. Jadi jangan khawatir nggak bisa update info terbaru meski ada di tengah hutan mini yang bikin aku nggak mau pulang ini. Langsung berdoa supaya besok bisa bangun kamar kayak gini jadi nggak digangguin sama anak-anak pas mau pacaran sama suamik (AAMIIN).

Buat yang pengen ke downtown Ubud, ada fasilitas free shuttle meski aku nggak nyobain fasilitas ini karena udah ada mobil selama 3 hari di Bali.

Overall sih kisaran harga 2 juta sebanding dengan fasilitas, kenyamanan, dan juga ambience liburan yang didapat. Beneran bikin nggak mau pulang dan nggak mau kerja 😅. Terus semua staf disini ramah banget. Sapa, senyum, salam selalu ada setiap ketemu.


Harga di Agoda.


Kalau ada rejeki, mau nyobain nginep lagi disini dan nyobain beragam penginapan glamping lainnya ah. Masak tenda gunung mulu 😅.

Lokasi Sandat Glamping Tents

Jln. Subak Sala Banjar Sala Pejeng Kawan Ubud 80571, Pejeng Kawan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali 80552.

Kontak Sandat Glamping Tents

Instagram : @glampingsandat
Booking : book2.nozio.com

GLAMPING SANDAT

P.T. SANDAT UBUD BALI
Jalan Subak Sala Banjar Sala
UBUD (BALI) - INDONESIA
info@glampingsandat.com
Phone: + 62 361 9083 222
Mobile phone: +62 821 44081998


XOXO,
Jetrani