Follow Me @rezadiasjetrani

Kamis, 17 Mei 2018

Menyeberangi Jembatan Maut Pantai Timang, Berani ?

17.54 0 Comments

Rasakan sensasi hempasan angin dan ombak dengan menyeberangi jembatan menuju Pulau Timang
Pantai Timang terletak di Dusun Danggolo, Desa Purwodadi, kecamatan Tepus, Kabupaten. Gunungkidul. Jaraknya sekitar 60 km dari pusat kota Yogyakarta, bisa ditempuh dalam waktu  2 jam perjalanan.
Pasir putih pantai Timang nampak dari kejauhan.
Pantai yang terletak diantara Pantai Siung dan Pantai Sundak ini sama seperti pantai-pantai lain di kawasan Gunungkidul, memiliki pasir yang putih. Namun wisata utamanya adalah karang di tengah laut yang disebut Pulau Timang, yang hanya bisa ditempuh dengan menaiki gondola (kereta gantung) atau jembatan.

Rute Menuju Pantai Timang

Akses jalan menuju pantai ini memang cukup sulit. Sebab, jalan ke arah pantai ini masih banyak yang belum diaspal, lokasinya pun cukup terpencil. Jarak dari kota Wonosari sampai sampai Pulau Timang sekitar 35 km. Rute yang bisa kalian pilih adalah menuju pusat kota Wonosari – menuju ke arah Pantai Baron – Pertigaan Mulo – menuju ke arah Pantai Siung – Pasar Dakbong – melewati jalanan berbatu – tiba di Pantai Timang.

Jika kalian mau melewati jalur pantai selatan juga bisa, namun kalian akan menemui pos retribusi dan dikenai tarif Rp 10.000,00 orang. Nantinya kalian akan melewati sejumlah pantai populer seperti Baron, Kukup, Krakal, Indrayanti, dan pantai Sepanjang.

Oh iya, jalan masuk dari jalan utama ke pantai ini ada 3 (namun ujungnya satu). Pilih jalan yang paling ujung karena aspalnya paling lumayan. Sedang 2 jalan sebelumnya langsung bertemu cor beton dan jalan berbatu.


Di beberapa titik pengunjung akan dicegat oleh warga lokal yang menawarkan jasa ojek. Jika kalian kurang yakin dengan kondisi kendaraan kalian, dipersilakan menggunakan jasa ojek dengan tarif mulai dari Rp 50.000,00 PP per orang. Ada ojek motor dan ada ojek mobil yang sebagian besar jenis Suzuki Katana yang dimodifikasi.

Tarif tersebut cukup masuk akal mengingat kondisi jalanan yang bisa kusebut parah, bebatuan dipadu dengan tanah yang licin berlumut. Pastikan ban mobil dalam kondisi prima dan juga bensin terisi penuh atau cukup untuk PP ya.

Tarif Gondola dan Jembatan di Pantai Timang

Sekitar 3 tahun yang lalu, aku pernah datang ke pantai ini. Waktu itu menyeberang menggunakan gondola masih dipatok sekitar Rp 200.000,00. Namun sore kemarin (Mei 2018), ternyata sudah dibangun jembatan disamping gondola. Pengelolanya pun berbeda. Jika naik jembatan dipatok tarif Rp 100.000,00 PP, sudah termasuk asuransi dan 1 orang pemandu. Sedang tarif gondola adalah Rp 150.000,00 PP termasuk asuransi. Lumayan sih ya harganya, kalian tinggal memilih yang mana.
Kami memilih naik jembatan saja
Tiket karcis 
Tarif masuk ke pantai ini sendiri belum ada, pengunjung hanya dikenai tarif parkir Rp 10.000,00 untuk mobil dan Rp 5.000,00 untuk sepeda motor.


Sore itu aku datang berempat bersama om kumis dan teman SMA-nya yakni Ican yang mengajak istrinya, Inez. Aku dan om kumis memutuskan untuk naik jembatan saja biar bisa foto-foto dan bikin video. Sedangkan Ican dan istrinya, Inez kurang tertarik menyeberang karena melihat ombak dan angin yang cukup besar. Akhirnya mereka duduk di warung-warung yang sudah tersedia di tempat tersebut.

Awal Mula Dibuatnya Gondola

Pulau ini disebut sebagai tempat terbaik untuk mencari hasil laut terutama lobster. Hasil laut inilah yang memiliki nilai jual sangat tinggi, sehingga membuat mayarakat setempat rela bersusah payah dan berjuang untuk menuju kesana dengan medan berbahaya.

Untuk sampai kesini butuh perjuangan. 
Mengapa menggunakan gondola ? Karena ganasnya arus dan ombak pantai selatan dan juga sejumlah batu karang cukup membahayakan nelayan untuk bersandar di pulau ini. Juga tidak memungkinkan mereka untuk membawa wisatawan ke pulau ini, jadi satu-satunya jalan adalah membangun gondola.


Oh iya, baik gondola dan jembatan di Pantai Timang ini dibuat menggunakan tali tambang karena dirasa lebih kuat dalam menghadapi air laut yang bersifat korosif. Tentunya lebih aman dan juga awet dibanding menggunakan sling yang terbuat dari besi/ baja.

Sebelum menyeberang, kalian juga harus tahu jika gondola kayu yang tersedia bukanlah fasilitas penunjang wisata yang disediakan pemerintah. “Wahana” ini murni alat transportasi dan penunjang kehidupan warga sehari-hari untuk mencari lobster.

Jadi, dulunya, gondola tersebut dibuat oleh 6 orang, ada Pak Siswanto, Pak Warno, Pak Sartono, Pak Warsito, Pak Supriyanto dan Pak Tukijan sekitar tahun 1997,  membutuhkan waktu sekitar 3 minggu. Waktu itu mereka naik kapal dari pantai Siung, kemudian Pak Warno selaku mantan pelaut berenang dari tengah sembari membawa tambang untuk mulai mamasang tali.

Karena potensi wisatanya yang besar, akhirnya gondola ini dijadikan wisata mulai tahun 2012 lalu. Sedangkan jembatan sendiri baru ada semenjak tahun 2016 yang dipasang dengan cara yang sama.

Fasilitas Wisata Pantai Timang

Meski belum bisa dikatakan baik, namun mengingat kondisi jalannya yang cukup jelek, fasilitas disini sudah cukup memadai. Tersedia parkir sepeda motor dan juga mobil yang lumayan luas, toilet, gazebo, juga sejumlah warung makan yang menjual ramesan hingga kelapa muda.

Ingin Makan Lobster di Pantai Timang ?

Jika kalian ke Pantai Timang, tentunya wisata kuliner yakni mencicipi lobster tak boleh dilewatkan. Namun sore itu kami tidak mampir karena Ican dan Inez harus buru-buru ke Solo. Namun buat kalian yang penasaran, kalian bisa mengunjungi rumah Pak Siswanto. Katanya sih ada kolam penangkaran lobster di sana.

Untuk harganya sendiri juga lumayan, berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu per kilogram bahkan bisa lebih. Waduh, lumayan banget ya harganya ! Biasanya, satu kg lobster bisa terdiri dari tiga sampai tujuh ekor, tergantung besar kecilnya lobster.

Lain kali kalau kesini lagi aku kudu mampir. Semoga ada yang mau nraktir sekalian, hehe.

Selasa, 01 Mei 2018

Jacuzzi Gunung Peyek yang Kini Tinggal Kenangan

21.09 0 Comments
Beberapa hari yang lalu, mumpung liburan, om kumis mengajakku untuk berendam air panas di jacuzzi alam Gunung Peyek yang pernah dia datangi tahun lalu. Konon sih tempatnya di tengah sawah jadi dalam bayanganku bakalan kece banget. Terlebih foto yang ia tunjukkan membuatku bersemangat buat kesana.
Foto jacuzzi alam di Gunung Peyek dari om kumis @xspheriksx
Membayangkan datang di pagi hari lalu berendam di air panas, harapanku pegal-pegal bakalan ilang nih. Maklum, belum punya mesin cuci jadi 2 hari sekali ngucek baju sendiri sama punya suami. Berendam air panas kan salah satu terapi alami untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan meregangkan otot-otot yang kaku dan kencang. Cocok nih buat aku. Kalau belerang sendiri diketahui ampuh menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Alhamdulillah aku nggak punya penyakit kulit, tapi jerawat sih banyak, hehe.

Dari yang aku baca, ada tiga lubang yang membentuk kolam alami air panas yang mengalir sepanjang tahun dengan bau belerang yang cukup menyengat. Ya, kawasan Gunung Kapur Ciseeng Bogor memang sudah dikenal sebagai tempat wisata sekaligus tempat pemandian air panas di perbatasan Bogor dan Tengerang Selatan.

Perjalanan pun dimulai. Kami berangkat dari rumah kami di Pamulang sekitar pukul 8.30 pagi. Kesiangan sih sebenernya, tapi nggak papa lah. Semoga nggak terlalu macet, terlebih di pasar Parung.

Cara Menuju Mata Air Panas Gunung Peyek Ciseeng Bogor

Untuk menuju kesini cukup mudah. Di google map udah ada rutenya. Kami melewati Bojong Gede - Jalur Billabong - Jalan Raya Parung - Ciseeng. Siap-siap menguji kesabaran di area Pasar Parung. Selain banyak angkot yang "ngetem" seenaknya, bau sampah dan bau ikan akan tercium di beberapa titik.

Kalau kalian sudah sampai di Pasar Parung, kalian belok kanan lewat pasar lalu tinggal lurus terus sampe ketemu perempatan. Nanti belok ke kanan, lurus, hingga kalian sampai di pemandian air panas Tirta Sanita Ciseeng ( ada di sisi kanan). Nah dari situ kalian maju sedikit sampai ketemu pertigaan kecil, belok kanan.

Setelah belok kanan tadi, suka ada gerombolan pemuda yang meminta biaya retribusi (entah resmi atau tidak karena mereka hanya asal menyetop), namun aku malas berhenti jadi bablas saja. Ikuti jalan terus hingga menuju markas TNI. Gunung Peyek ini memang berada di belakang area komplek Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia) TNI.

Lokasi Mata Air Panas Gunung Peyek

Lokasi mata air panas Gunung Peyek ini memang tak terlalu jauh dari tempat wisata air panas Tirta Sanita. Hanya saja memang lokasinya belum terdapat papan petunjuk yang jelas. 

Jika sudah memasuki gapura komplek TNI, tinggal ikuti jalan hingga bertemu pertigaan kecil, lalu belok kanan melewati waduk buatan. Jika sudah menemukan rumpun bambu, ikuti saja terus jalannya hingga nyaris ke ujung tikungan. Nanti sebelum tikungan ke kiri, kalian belok kanan ke arah rumah warga dan parkir di rumah terakhir sebelum sawah.

Akses jalan kesini juga memungkinkan untuk dilewati oleh kendaraan roda empat jadi lebih baik naik sepeda motor saja. Kalau naik mobil nanti repot putar baliknya.

Oh iya, sebenarnya kalian juga bisa masuk kesini dari wisata Tirta Sanita Ciseeng, bayarnya 15ribu. Itupun kalian masih jalan kaki ke Gunung Peyek, namun petunjuknya cukup jelas, tanya saja  sama satpamnya.

Tapi kalau dari rute yang kuberitahu ini, masuknya gratis, hanya bayar parkir Rp 5.000,00 saja. Setelah itu tinggal jalan kaki menyusuri pematang sawah.
Menyusuri pematang sawah. Hati-hati sama katak dan ular sawah ya.
Dari kejauhan, Gunung Peyek sudah terlihat dengan jelas. Daripada gunung, aku rasa tempat wisata ini lebih cocok disebut bukit, atau malah gundukan kapur di tengah sawah.
Gunung Peyek yang sudah nampak dari kejauhan.
Setibanya disana, tak ada satupun pengunjung dan jacuzzi yang ada di foto om kumis sudah menjadi kubangan air dengan warna hijau bercampur buih kecoklatan yang mengerikan. Ini sih bukannya menyembuhkan penyakit kulit, yang ada malah jadi sakit kulit. Tak hanya itu, demi menjaga keselamatan, kubangan ini ditutupi dengan teralis besi seperti gambar di bawah ini.
Jacuzzi alam yang kini dipasangi teralis besi.
Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.  Dari atas, nampak di bagian bawah sedang dibangun kolam-kolam kecil yang berjumlah tujuh buah. Ada satu buah kolam yang bahkan dibentuk seperti hati atau lambang cinta. Ini kalau penuh terus berendam deketan seperti ini apa kabar ya, bisa sambil ngobrol sama tetangga di kolam sebelah kayaknya.
Kolam-kolam kecil yang sedang dibangun.
Setelah puas melihat-lihat, akhirnya aku duduk di bawah pepohonan dan ternyata ada taman bunga berukuran kecil di dekatnya. Tak lama kemudian, akupun kembali ke rumah setelah gagal berendam air panas. Yah, memang kadang kenyataan tak sesuai dengan harapan.


Senin, 30 April 2018

Setengah Hari di Bogor, Kemana Aja ?

23.00 0 Comments
Sejak pindah ke Pamulang mengikuti suami, si om kumis, kami lebih mudah menghabiskan waktu bersama ketika  akhir pekan. Kalau dulu minimal sebulan sekali baru ketemu, sekarang bisa tiap hari dan tiap akhir pekan selalu jalan-jalan.

Minggu ini kami memutuskan untuk ke Kebun Raya Bogor. Bukan apa-apa, soalnya aku belom pernah. Selama ini cuma lewat dan muterin aja tapi nggak masuk.

Ke Kebun Raya Bogor? Ngapain ? Paling juga melihat pohon-pohon, tidak ada yang aneh dan menarik. Eits jangan salah! Ternyata setelah masuk, banyak hal menarik lho yang bisa kita temui. Ada apa aja sih ? Yuk baca kisah perjalananku berikut ini.
Bisa leyeh-leyeh di tepi danau.
Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di tujuan. Tarif untuk masuk Kebun Raya Bogor ini adalah Rp 14.000,00 per orang dan Rp 5.000,00 untuk parkir kendaraan roda 2.

Tempat ini sangat luas, kalau kalian malas berjalan kaki, bisa menyewa sepeda kayuh seharga Rp 15.000,00 untuk durasi 1 jam. Lebih enak lagi kalau naik roda empat. Di hari biasa pengunjung bisa masuk dan berkeliling nenggunakan mobil mengikuti jalur yang sudah ada. Namun di hari Sabtu dan Minggu tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya pengunjung bisa naik mobil wisata yang sudah disediakan.

Di Kebun Raya Bogor ini selain terdapat Istana Presiden (kita tidak bisa masuk lewat depan, jadi hanya berkeliling di bagian belakang istana dan dibatasi kolam), ada juga museum Istana (kalau mau masuk harus mengajukan surat kunjungan terlebih dahulu), museum Zoologi, makam Belanda, restoran bernama Grand Garden Cafe and Resto, mushola, masjid, jembatan gantung, toko souvenir, juga berbagai macam taman yang sering digunakan untuk piknik dan berkumpul bersama keluarga.

Terdapat pula sejumlah patung ataupun tugu yang tersebar di beberapa titik. Diantaranya ada patung Patung Tangan Tuhan yang berbentuk sebuah tangan sedang menjunjung postur seorang laki-laki yang menengadahkan kepala dengan mulut terbuka. Ada pula patung The Little Mermaid alias Si Duyung Kecil yang wujudnya seperti seorang gadis yang sedang merenungi sesuatu sambil menatap riak air.

Begitu masuk melalui pintu utama ke dalam kebun raksasa yang memiliki 15,000 spesies tanaman ini, kita akan melihat Monumen Lady Raffles. Ketika melihat puisi pada prasasti yang terdapat dalam bangunan bercungkup ini, pasti hati kita akan “meleleh”. Membayangkan sepasang insan yang begitu menyayangi tetapi maut memisahkan mereka.
Monumen Lady Raffles. Duh sayang banyak dedaunan di sekitarnya.
Tak jauh dari situ, kalau lurus, kita akan menemui Danau Gunting. Berjalan sedikit ke arah dimana terlihat menara dari Istana Bogor, nampak sebaran Nymphaea Alba dan Rubra (alias Teratai atau Lotus) berwarna pink yang amat indah.

Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan ke arah komplek pemakaman Belanda kuno. Rimbunnya pohon bambu membuat suasana di sekitar komplek gelap karena cahaya matahari sulit menembus tebalnya rumpun bambu. Ada makam yang usianya bahkan lebih tua dari kebun raya ini sendiri, lho !
Kompleks makam Belanda.
Tak jauh dari makam, ada sebuah taman bernama Taman Teijsman. Di bagian tengahnya ada sebuah tugu berbentuk obelisk yang seakan menjadi pusat dari sekitarnya. Tugu itu disebut dengan Tugu Teijsman.


Tinggal milih mau santai dimana.
Seusai dari Taman Teijsman, aku mampir ke toko souvenir. Sebenarnya ingin ke museum Zoologi tapi waktu yang kumiliki terbatas. Di toko ini terdapat aneka bibit tanaman maupun tanaman dalam pot yang bisa kita beli dengan harga terjangkau. Tersedia pula tas, kaos, mug, magnet kulkas, hingga gantungan kunci khas Kebun Raya Bogor.
Souvenirnya komplit dari tanaman sampai kaos.
Selesai membeli souvenir, aku melanjutkan perjalanan ke jembatan merah yang dikenal dengan sebutan "Jembatan Pemutus Cinta." Bentuknya hanya seperti suspension bridge atau jembatan bersuspensi dimana rangka jembatan tergantung pada kawat tebal seperti umumnya. Dicat berwarna merah dengan panjang kurang lebih 25-30 meter, jembatan ini dibangun pada saat bersamaan dengan perluasan Kebun Raya Bogor ke arah Timur. Konon, katanya pasangan belum menikah yang melintasi jembatan diatas sungai Ciliwung ini tidak akan awet hubungannya alias putus jika melintas bersama. Untung aja pasanganku sudah distempel halal sama KUA, jadi aman.
Alhamdulillah halal.
Puas foto-foto, saatnya bersantai di rerumputan luas di depan Grand Garden Cafe and Resto. Beberapa patung bernuansa Eropa tampak di bagian muka. Bagian tepinya, ornamen bernuansa khas Indonesia. Payung-payung merah peneduh meja dan kursi di teras kafe kontras dengan hijau rumput tebal di area terbuka di hadapannya.
Restoran bernuansa Eropa 
Berhubung belum terlalu lapar, aku dan om kumis rebahan manja diatas rumput saja. Disini banyak orang yang bersantai juga. Anak-anak kecil berlarian kesana-kemari dengan bebasnya.

Setelah dirasa cukup, kamipun memutuskan untuk pulang. Namun masih kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli oleh-oleh. Yah meskipun nggak ada yang dioleh-olehin soalnya kami hanya tinggal berdua. Kami memutuskan untuk membeli roti unyil di toko Venus yang terkenal itu.
Harga rotinya mulai dari Rp 2.000,00
Jangan kaget kalau kesini antriannya udah kayak mau antri beli tiket bioskop, mengular ! Tapi kalian juga bisa pakai jalur cepat dengan membeli paket roti unyil yang sudah dikemas dalam box. Nggak perlu antri dan bisa langsung bayar disitu.


Setelah membeli roti unyil, kalian bisa mencoba makan laksa ataupun toge goreng. Berhubung kami berdua pernah mencoba dan kurang cocok dengan lidah kami, akhirya aku mencari bakso atau mie ayam sedang om kumis maunya ayam bakar.


Ketika ingin mengambil motor, aku melihat ada penjual es pala. Penasaran karena pernah menonton orang meminum es ini di TV, aku membeli 1 gelas es pala seharga Rp 7.000,00. Rasa airnya sih seger, tapi kalau rasa palanya lumayan asing. Tapi worth it kok buat dicoba biar nggak penasaran.

Es pala Rp 7.000,00
Di tengah jalan menuju pulang, aku tak sengaja melihat warung mie ayam bakso dan es bangka di Jln.Sawojajar (seberang parkiran motor Yogya Junction). Warung ini buka dari jam 08.00 pagi hingga 12 malam. Aku memesan seporsi mie ayam bakso pisah dengan pangsit seharga Rp 25.000,00 dan rasanya ternyata cocok dengan lidahku. Super enak ! Oiya, di menu tidak ada daftar harga. Kemarin om kumis iseng pesen es jeruk dan ternyata harganya lumayan mahal.
Mie ayam bakso Rp 25.000,00 , tapi es jeruknya Rp 17.000 00. Sedih akutu :(
Selesai makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah dengan selamat. Masih belum puas mengexplore Bogor, semoga lain kali diberi kesempatan dan kelonggaran waktu jadi bisa explore lebih lama dan lebih banyak.

Selasa, 24 April 2018

Cafe Ini Seluruh Karyawannya Berkebutuhan Khusus Lho !

19.40 0 Comments
Berawal dari menyaksikan event Seba Baduy di Serang, Banten 21 April 2018 yang lalu,  om kumis mengajakku untuk mampir ke salah satu cafe di Jln. Raya Cilegon no.73, Ruko Kepandean, Lontarbaru, Serang bernama Bubble Cafe & Gallery. Petunjuk keberadaan cafe ini cukup mencolok sehingga kita mudah melihatnya. Cafe ini ternyata belum lama dibuka, yakni sejak tanggal 3 September 2017 dan buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 21.00. 

Nah, apa sih yang membuat cafe ini menarik ?

Dimulai dari sebelum kita masuk, terpasang spanduk yang menjelaskan bahwa kafe tersebut dikelola oleh orang-orang berkebutuhan khusus. Hal itu ditujukan agar pengunjung paham dan maklum akan pelayanan yang diberikan para pegawainya yang merupakan anak autisme, tunagrahita, tunadaksa, tunarungu, juga tunawicara.

Baru sampai di bagian luar cafe, kita sudah dibuat tertarik dengan dekorasinya yang unik dan penuh warna. Terdapat sebuah ayunan dan beberapa kursi yang ditata sedemikian rupa dan sangat menarik untuk dijadikan spot foto.
Jadi pengen punya ayunan kayak gini di rumah
Masuk ke dalam, terdapat lukisan karya anak berkebutuhan khusus dan juga sejumlah tulisan yang menjelaskan tentang autisme dan pentingnya toleransi serta empati terhadap mereka. Bantal di kursi pun dibuat berwarna-warni dengan beragam motif yang menarik. 

Meriah . Sukak ! 
Di setiap meja juga diberi katalog bahasa isyarat yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi yang diberi nama Makaton Sign.
Tersedia katalog bahasa isyarat di setiap meja
Ditegaskan pula pentingnya dukungan, cinta kasih bagi mereka supaya mampu menggapai prestasi, menjadi terang bagi keluarga dan berguna bagi sesama. 

Untuk makanan, seperti cafe-cafe pada umumnya, tersedia berbagai menu makanan dengan harga terjangkau. Untuk makanan pembuka dan cemilan ada asinan bogor, chicken crust, thai cassava, brownies, mini mayo, juga cheesy banana dengan kisaran harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000. 

Makanan beratnya ada nasi gepuk, nasi ayam serundeng, bakso kotak, batagor dan siomay bandung, juga nugget sapi dan french fries. Minumannya juga lengkap dari air mineral, aneka juice, lemon dan hot tea, mojito campo, juga mango peach dengan kisaran harga dari Rp 5.000 hingga Rp 15.000 saja.

Daftar menu yang bisa kita pilih.

Makanan dan minuman itu ternyata dibuat oleh anak-anak berkebutuhan khusus lho. Aku pun memesan bakso kotak karena penasaran dengan bentuknya dan segelas cappucino panas karena hari itu sedang hujan. Ternyata rasanya enak dan tidak kalah dengan makanan pada umumnya.

Ada hal yang cukup unik ketika aku memesan bakso tadi. Ada pegawai yang sangat bersemangat untuk segera membuatkan pesananku dan merebut kertas menu, padahal aku belum membayar. Pegawai itu akhirnya diminta sabar oleh petugas kasir yang nampaknya sebagai supervisor atau penanggung jawab disitu. Jadi, setelah memilih menu makanan, kita diharuskan membayar terlebih dahulu, barulah pesanan kita akan dibuat.  

Tak lama, pesananku pun tiba. Penyajiannya sangat rapi dan bersih. Pegawai yang mengantarkan makanan nampaknya tunarungu sehingga ketika mempersilakan aku makan, ucapannya kurang jelas. Namun ia memberikan senyum lebar dengan ekspresi teramat ramah dan ceria yang membuat hatiku tersentuh akan keramahan dan kebaikan mereka.

Selain menjual aneka makanan dan minuman, terdapat galeri seni yang terletak di lantai 2. Terpajang berbagai macam karya dari anak-anak berkebutuhan khusus terutama lukisan yang memenuhi hampir seluruh dinding ruangan. Ada pula sejumlah kerajinan tangan berupa gantungan kunci, sarung bantal, dan berbagai suvenir lainnya. 
Meski tak mudah mempekerjakan orang-orang berkebutuhan khusus seperti ini, sang pemilik seperti tertulis di halaman pertama buku menu, yakni Christiana Young optimis bahwa dengan kasih, mereka akan meraih masa depan cerah. Ia menuliskan bahwa Bubble Cafe & Gallery ini didirikan atas dasar kepedulian dan cinta kasih bagi Warga Negara Berkebutuhan Khusus (WNBK) untuk mampu mandiri dan berkarya. Diharapkan WNBK dapat memperoleh kesetaraan hak dalam kehidupan bermasyarakat dan berkontribusi dalam pembangunan.

Sebelum pulang, aku dan om kumis menyempatkan diri berfoto bersama para pegawai disini. Mereka semua sangat antusias dan sangat ramah. Nampak tidak ada yang berbeda dan seperti orang-orang pada umumnya. Bagaimana, berminat berbuka puasa disini ? Bisa sekaligus beramal karena 2,5% dari pembelanjaan disini akan disisihkan untuk tumbuh kembang dan pendidikan WNBK.

Jumat, 20 April 2018

#Pijarilmu Bersama Asuransi Astra

06.43 0 Comments

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Rabu, 18 April 2018 saya bersama sejumlah teman-teman blogger dan para influencer dari berbagai bidang diundang menghadiri Talkshow bersama Ruang Berbagi Ilmu dan Asuransi Astra.

Mengusung tagline "Memulai perjalanan dari hati, memberi sedikit ruang untuk berbagi dan menginspirasi. Bukan hanya untuk kita namun untuk mereka yang juga punya mimpi. Mari wujudkan bersama #pijarilmu", yaitu kampanye sosial tentang pendidikan, memberi kelas inspirasi dan revitalisasi perpustakaan SD negeri di 28 sekolah.

Astra sendiri memiliki 4 pilar yakni :
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Lingkungan
4. UKM
Tahun ini Astra memilih untuk lebih concern ke dunia pendidikan.

"Education is the key to unlock the golden door of freedom."
-
George Washington-
Tahukah kalian kalau tingkat putus sekolah di Indonesia masih cukup tinggi? Sekitar 600 ribu anak Indonesia usia SD ternyata tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan. Sebagian besar karena kendala biaya sehingga mereka terpaksa putus sekolah.

Gerakan ini disebut pijar karena lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Jika hanya 1 lilin yang menyala, tentu tak seberapa cahayanya. Namun jika banyak yang menyalakan lilin secara bersamaan, tentu bisa menerangi dunia. 

Kampanye #pijarilmu sendiri berlangsung dari tanggal 9 April hingga 9 Mei 2018. Selama periode kampanye sosial #PijarIlmu, kalian juga bisa turut berkontribusi dengan mengikuti instagram photo contest  #PijarIlmu yang diadakan melalui akun instagram Asuransi Astra.

Instagram photo challenge
Dalam kontes ini, kalian bisa membagikan foto buku favorit kalian berserta foto petikan kalimat paling inspiratif dalam buku tersebut. Untuk foto terbaik, Asuransi Astra menyediakan hadiah antara lain kamera Sony a6000, kamera Xiaomi Yi 2 4K, dan handphone Xiaomi Mi A1 lho.

Tidak hanya itu, masyarakat juga bisa turut memberikan peace of mind  bersama Asuransi Astra dengan melakukan donasi buku. Adapun buku-buku yang ingin didonasikan tersebut dapat diberikan di kotak donasi buku yang terdapat di seluruh kantor cabang dan gerai Garda Center Asuransi Astra. Informasi selengkapnya mengenai kampanye sosial ini bisa kalian akses melalui laman bit.ly/pijarilmu

Yuk ikutan dalam kampanye ini! Berbagi ilmu, berbagi buku, berbagi pengetahuan demi masa depan.

Selasa, 16 Januari 2018

One Day Trip di Lombok

22.13 0 Comments
Hamparan rumput luas di Bukit Merese
Pagi hari jam 08.00, aku sudah siap untuk menuju bandara menjemput om kumisku, mas Jarwo. Satu hal yang kusadari adalah jarak dari Mataram ke Bandara Praya memang jauh, sekitar 45 menit hingga 1 jam. Mana jalannya hanya lurus saja jadi bikin ngantuk. Terus pom bensin juga terhitung langka, jadi kalau ketemu pom bensin lebih baik kalau di full tank aja meski bensinnya masih sisa separo.

Dari bandara, om Jarwo yang belum mandi ini (dia flight jam 5 pagi jadi sudah di bandara Soekarno Hatta dari malam) langsung kuajak buat ke pantai. Waktu itu kami berencana ke Pink Beach, namun karena jauh kami pun mengganti destinasi, yaitu ke Bukit Merese, Pantai Tanjung Aan dan Desa Adat Sade. Cocok untuk one day trip hingga sore, karena setelah magrib kami harus meluncur ke arah Sembalun.

1. DESTINASI PERTAMA, BUKIT MERESE

Perjalanan dari bandara ke Bukit Merese membutuhkan waktu sekitar 45 menit jika dari Bandara Praya, Lombok, melewati jalanan aspal yang tak begitu ramai, lalu jalanan tanah selama sekitar 5 menit. Harusnya bukit ini paling bagus untuk menyaksikan sunset, tapi ternyata di pagi hari juga keren kok.
Cocok buat foto-foto

Bukit ini terletak di wilayah Lombok bagian selatan, masih satu kawasan dengan Pantai Tanjung Aan di wilayah Kuta Lombok. Jika kita berada di atas bukit, di kejauhan terlihat lengkungan Pantai Tanjung Aan dengan pasir putih dan air laut bergradasi biru. Di sisi lainnya, Batu Payung yang unik nampak berdiri dengan gagahnya di tepi pantai. Tiket masuk ke bukit ini masih gratis, kami hanya perlu membayar parkir sebesar Rp 5.000,00.

2. DESTINASI KEDUA, PANTAI TANJUNG AAN

Jadi sebenarnya kita bisa sekali parkir untuk ke dua destinasi ini. Namun karena aku dan mas Jarwo mengikuti google map, kami datang melalui rumah penduduk. Kemudian kami menaiki motor lagi untuk menuju pantai Tanjung Aan, sehingga membayar parkir lagi Rp 5.000,00. Jika kalian ingin kesini, lebih enak parkir di kawasan pantai Tanjung Aan. Jadi kalau mau ke bukit Merese tinggal naik ke sisi kanan, kalau mau ke pantai tinggal menyusuri bibir pantai ke arah kiri.

Pantai Tanjung Aan cukup bersih dengan pasir putih yang terhampar luas. Banyak warung dan juga gazebo untuk berteduh. Spot foto paling favorit di pantai ini adalah ayunan dengan tulisan pantai Tanjung Aan dan bendera merah putih.

Pantai Tanjung Aan dan Dusun Sade

3. DESTINASI KETIGA, DUSUN SADE

Banyak yang salah kaprah dan menyebut dusun ini sebagai nama desa. Padahal, Sade adalah nama dusun di desa Rembitan, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak.

Meski terletak persis di samping jalan raya, penduduk Sade masih berpegang teguh menjaga keaslian budaya desa. Bisa dikatakan mereka adalah cerminan suku asli Sasak Lombok.

Bagi para wanita suku Sasak, menenun adalah hal yang wajib dikuasai. Karena itu, "mampu menenun" adalah salah satu syarat sebelum seorang gadis Sasak di Sade boleh menikah. Jadi para pria di Sade tidak bisa langsung meminang gadis pujaannya karena hanya gadis yang bisa menenun saja yang boleh menikah.

Tidak heran kalau anak gadis disini biasanya sudah bisa menenun sejak umur 9 tahun. Setiap rumah juga memiliki alat tenunannya masing-masing karena sang ibu pun harus bisa mengajarkan cara menenun kepada anak-anak gadisnya.

Jika berkunjung kesini, wisatawan harus didampingi guide yang akan menjelaskan tentang asal muasal, bangunan-bangunan desa, serta kehidupan bermasyarakat di dusun ini dengan tarif seikhlasnya. Untuk masuk ke dusun ini gratis, namun disediakan kotak amal bagi yang ingin menyumbang.


Jumat, 05 Januari 2018

Akhirnya ke Lombok Juga

06.24 0 Comments
Percayakah kalian jika aku bilang bahwa ini adalah pertama kalinya aku ke Lombok ? Padahal aku sudah 6 kali ke pulau Bali, tapi baru sekali ini aku menginjakkan kaki di pulau Lombok.

Namun tujuanku kali ini bukan untuk berkeliling gili yang cukup terkenal itu, melainkan untuk mendaki Gunung Rinjani.

Iya, Gunung Rinjani.

Siapa pendaki (baik pemula maupun senior) yang tak ingin menginjakkan kaki di gunung ini. Setelah merayakan ulang tahun di Puncak Mahameru Juli 2017 silam, kali ini aku ingin merayakan pergantian tahun di puncak lainnya.

Alhamdulillah, kalau rejeki nggak kemana. Pada 21 Desember 2017, seorang teman menawariku untuk menjadi Tour Leader pendakian ke Gunung Rinjani pada tanggal 29 Desember 2017 dan rencana summit pada 1 Januari 2018. Aku membawa 7 orang peserta trip bersamaku.

Sungguh tak terduga bukan rencana semesta bekerja ?

Cara Hemat Menuju Lombok dari Jogja

Mulailah aku hunting tiket pesawat. Ternyata pesawat dari Bandara Adisutjipto Jogja ke Bandara Praya di Lombok lumayan mahal. Maklum, bertepatan dengan liburan Natal dan tahun baru. Waktu itu tiket berangkat sekitar 1,3 juta dan pulangnya juga sama. Membayangkan 2,6 juta hanya untuk tiket pesawat rasanya kurang ikhlas 😅.

Akhirnya aku mencari cara lain. Naik kereta dulu ke Surabaya, barulah naik pesawat dari Juanda ke Praya. Tiket PP hanya sekitar 1,1 juta. Ditambah tiket kereta PP Lempuyangan (Jogja) ke Gubeng (Surabaya) sekitar 300 ribu. Total hanya 1,4 juta rupiah.

Kalau mau irit, tentu ada resikonya. Waktulah yang dikorbankan karena aku harus menempuh perjalanan darat terlebih dahulu. Untung aku memang lagi punya banyak waktu. Pagi tgl 28 Desember 2017 aku naik kereta Premium Mutiara Timur tambahan. Berangkat jam 06.00 pagi sampai Surabaya jam 12 kurang.

Setelah itu dari stasiun Gubeng ke Bandara Juanda diantar oleh Alin, temanku ketika mendaki Gunung Semeru. Lumayan jauh sekitar 1 jam perjalanan. 

Pesawat menuju Surabaya akhirnya boarding pukul 16.45, tiba di Bandara Lombok Praya pukul 18.00 dan langsung dijemput oleh Wulan, sahabatku dari jaman kuliah semester 1.

Menyewa Sepeda Motor di Lombok

Sekilas info buat kalian yang mau ke Lombok, sewa motor dari bandara Praya di lumayan mahal dan ada minimal waktu sewa yakni 2 atau 3 hari. Hal itu dikarenakan jarak dari kota Mataram ke bandara sekitar 45 menit - 1 jam perjalanan. Sewa motor di Lombok rata-rata Rp 75.000,00 per hari dengan biaya antar jemput Rp 100.000,00. Jadi kalau kalian sewa 2 hari saja, maka kalian harus membayar 2 x Rp 75.000,00 + Rp 100.000,00 = Rp 250.000,00

Sedangkan kalau kalian ingin menyewa motor di Mataram, dari bandara ke Mataram kalian bisa naik bis Damri. Jika di Mataram, kebanyakan motor bisa diantar ke penginapan secara free alias gratis.

Untunglah, aku punya temen di Mataram, jadi dari bandara ke Mataram aku dijemput oleh Wulan, sahabatku sejak kuliah semester 1 bersama suaminya mas Riza dan Kalila anak mereka.

Itupun masih ditraktir makan malam ayam taliwang yang super enak, namanya ayam taliwang pak Yudi yang berlokasi di Mataram.

Aku juga diajak menginap di rumahnya jadi tidak perlu keluar uang buat menginap. Untuk jalan-jalan keliling Lombok esok harinya, aku dipinjami sepeda motor sama Wulan jadi tidak perlu sewa motor juga. Mantap.

Jadi, pendakian Gunung Rinjani  yang kurencanakan dimulai tanggal 29 Desember 2017. Aku sengaja datang sehari lebih awal supaya bisa jalan-jalan terlebih dahulu. Mas Jarwo sendiri baru datang keesokan paginya, jadi aku menjemputnya ke bandara lalu kami akan jalan-jalan.

Indahnya hidup ini 😍😍😍. Banyak teman, banyak rejeki bukan?

Akhirnya malam pertamaku di Lombok berakhir juga. Tentunya belum kemana-mana karena aku baru tiba disini pukul 18.00 lewat. Aku pun beristirahat supaya siap bertualang seharian keesokan harinya.

Jumat, 24 November 2017

Ke Biennale Jogja XIV yang Super Seru

09.52 0 Comments
Semalam, aku dan temanku Holly akhirnya jadi juga menyaksikan agenda seni 2 tahunan yang bertajuk, Biennale Jogja XIV Equator #4 #IndonesiaMeetBrazil di Jogja National Museum di Jalan Amri Yahya.

Dari awal pameran mau kesini, tapi kadang bentrok sama kerjaan jadi wacana mulu deh. Buat kalian yang belum sempat datang, acara ini masih akan berlangsung hingga 10 Desember 2017. Tema kali ini adalah Stage of Hopelessness.

Acara ini dibagi dalam empat program utama, yakni Festival Equator (10 Oktober - 2 November), Main Exhibition (2 November - 10 Desember), Parallel Events (28 Oktober-3 Desember), dan Biennale Forum (4 November-7 Desember).

Berdasarkan informasi yang tersedia, ada sekitar 39 seniman dari Indonesia dan Brazil mengikuti acara Biennale Jogja XIV 2017 ini. Brazil merupakan negara di garis equator yang terpilih sebagai mitra oleh Yogyakarta. Konon sebelumnya di tahun 2011 mengajak seniman India sedang tahun 2013 mengajak seniman dari kawasan Arab dan Nigeria, kemudian terakhir seniman dari Afrika pada tahun 2015.

Total ada 27 karya seniman Indonesia dan 12 karya seniman asal Brazil. Peserta dari Indonesia diantaranya Adi Dharma, Aditya Novali, Arin Sunaryo, Farid Stevy Asta, Roby Dwi Antono, Daniel Lie, Lugas Syllabus, Gatot Pujiarto, Mulyana Mogus, Julian Abraham, Wisnu Auri, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni dan lain-lain.

Sedangkan seniman dari Brazil ada Lourival Cuquinha, Cinthia Marcelle, Tiago Mata Machado, Virginia de Medeiros, Clara Ianni dll.

Oh iya, buat yang penasaran berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyaksikan pameran karya seni ini, jangan khawatir. Semua free alias gratis. Yang perlu kalian perhatikan adalah JANGAN MENYENTUH KARYA SENI DALAM BENTUK APAPUN. Bahkan tulisan yang di dinding juga jangan ya. Sebisa mungkin jaga jarak dengan karya meski tidak ada petugas yang berjaga.

Begitu memasuki area pameran, karya pertama yang akan kita lihat adalah karya Farid Stevy berjudul "Habis Gelap Terbitlah Curhat". Farid mengekspresikan karyanya dengan membuat mural di tembok.

Jadi di sepanjang lorong lantai 1 itu, berbagai tulisan / kata-kata yang mungkin tak penting tapi banyak ditemui di berbagai tembok di Yogyakarta ini dia ditorehkan di tembok. Lucu-lucu banget dan kadang bikin kita tertawa sekaligus tertegun karena tulisan itu bahkan sering kita lihat namun tak pernah benar-benar kita perhatikan.

Tulisan berbagai promosi mulai dari jasa membuat skripsi, tesis, jualan alat bantu seks, obat perangsang, curhatan mahasiswa yang sedang skripsi, bahkan celetukan-celetukan sederhana yang sering kita temui di media sosial.

Beberapa tulisan itu diantaranya, "Masih merah kurang sedetik udah diklakson". Kemudian "Yang goblog situ yang disalahin micin". Ini sih sering banget aku denger. Sampe ada istilah generasi micin segala.
Ada lagi "Beda keyakinan. Akunya yakin, dianya enggak" dan lain-lain.

Aku dan Holly menghabiskan waktu cukup lama karena membaca tulisan-tulisan tersebut satu demi satu dengan seksama.

Keseluruhan area yang digunakan adalah 3 lantai. Kalau kalian ingin mengetahui dengan detil mengenai informasi tentang seniman terkait, kalian bisa melakukan scan QR Code tak jauh dari karya yang dipamerkan. Ada juga buku petunjuk yang dijual seharga Rp 50.000 dan Rp 100.000 .
Mumpung acaranya masih berlangsung, yang lagi di Jogja atau berencana ke Jogja boleh banget kesini.

Jumat, 27 Oktober 2017

Modal 300 Ribu Bisa Naik Gunung Raung Lho !

20.45 8 Comments
Serius Jet ? Tiga ratus ribu rupiah ?

Iyaaaaa...yaampun nggak percaya ?

Nih ya aku bagi detil pengeluaranku pas mendaki Gunung Raung via Sumber Wringin, Bondowoso.

Buat yang belum baca catatan perjalananku, bisa baca tulisan yang ini dulu :

Pendakian ke Gunung Raung via Sumber Wringin, Bondowoso

Sekedar informasi tambahan, aku berangkat dari Jogja berdua sama temenku yang namanya Kika.

Berangkat:

  1. Kereta api Sritanjung ( St. Lempuyangan-St. Jember) Rp 94.000 diskon Rp 13.000 = Rp81.000!
  2. Gocar (tapi aku dibayarin Kika) = Rp 27.000 : 2 = Rp 13.500
  3. Bis kota Jurusan Jember - Bondowoso = @ Rp 6.000
  4. Naik motor dari Bondowoso ke basecamp Sumber Wringin = FREE karena nebeng temen
  5. Tidur di basecamp = Rp 10.000
  6. Truk dari BC - Pondok Motor (pos 1 ) = Rp 60.000
  7. Iuran kelompok = Rp 20.000
  8. Sarapan + bekal nasi selama pendakian = @Rp 5.000 x 3 = Rp 15.000
TOTAL BERANGKAT =  Rp 205.500

Pulang :

  1. Bis jurusan Bondowoso - Surabaya (bis ekonomi LADJU) = Rp 35.000
  2. Terminal Purabaya - Stasiun Gubeng = FREE lagi karena dianter temen
  3. Kereta api Logawa (St. Gubeng - St. Lempuyangan) = Rp 74.000
TOTAL PULANG = Rp 109.000 


Jadi kalau dijumlah, pengeluaranku kemarin Rp 314.500 itu udah PP dari Jogja.

Lumayan banget kan ? Aku aja nggak nyangka bisa sehemat ini. FYI kemarin kami berangkat ber-21 jadi diitungnya per kepala. Buat kalian yang mau mendaki, usahakan cari temen atau kenalan di sekitar basecamp atau daerah tujuan. Lumayan kan kaalu ada yang nebengin / antar jemput. Nanti kalian juga harus luangin waktu kalau ada temen yang main ke kota kalian, jadi saling bantu. dijamin dengan cara seperti itu, trip kemanapun bakalan nyaman, aman dan hemat.

Pengeluaran tambahan :

Kalau ini sih pengeluaranku pribadi, jadi pasti beda-beda untuk setiap orang. Aku anaknya suka jajan sih jadi biasanya boros di makanan atau oleh-oleh.  Ini aja habisnya hampir sama dengan biaya PP pendakian, hehe.
  1. Keperluan pribadi selama pendakian (cemilan, air mineral dll) = Rp 50.000
  2. Jajan bakso di terminal Arjasa, Bondowoso = Rp 7.500
  3. Beli nasi bungkus di bis jurusan Bondowoso - Surabaya = Rp 8.000
  4. Beli cilok di Alun-alun Bondowoso = Rp 2.500
  5. Makan malem ayam goreng di Alun-alun Bondowoso = Rp 15.000
  6. Beli oleh-oleh tape Bondowoso (tapi aku dibayarin Novi ) = Rp 20.000
  7. Jajan bakso di Surabaya = Rp 15.000
  8. Beli oleh-oleh kekinian buat orang rumah :
  • Surabaya Patata = Rp 67.000
  • Surabaya Snowcake = Rp 69.000
  • Spika Spiku = Rp 68.000
TOTAL = Rp 312.000

FAQ 

  1. Kalau naik bis ke Bondowoso gimana? Duh kayaknya nggak ada yang langsung. Harus ke Surabaya dulu, baru lanjut bis Surabaya - Bondowoso. Mendingan naik kereta deh.
  2. Apa bisa naik ojek / taksi ke Bondowoso dari Stasiun Jember? Bisa dong. Waktu itu aku udah terlanjur ke terminal Arjasa dan nyaris ga dapet bis (ada sih tapi jalannya jam 10 malem). Pas aku cari GoCar, dari terminal Arjasa di Jember ke Terminal Bondowoso tarifnya Rp 81.000. Padahal kalo naik bis cuman Rp 6.000. Nyesek nggak tuh? hehe. Untung jam 20.15 bisnya berangkat juga karena penumpang udah penuh.
  3. Dari terminal Bondowoso ke Basecamp jauh nggak? Naik apa? Jauh ! Sekitar 45 menit - 1 jam. Jadi enakan naik motor, cari temen yang orang sana dan minta dijemput. Kalo enggak ya nyarter angkot / ojek tapi pasti mahal.
  4. Apa ada biaya pendakian ? Nggak ada. Kita cuma dikenai biaya nginep di basecamp yaitu Rp 10.000 buat yang dari luar kota, dan seikhlasnya buat warga Bondowoso dan sekitarnya. Syukur-syukur kamu ngasih lebih ya.
  5. Berapa sih sewa truknya ? Kalau kami naiknya ga banyakan gimana? Sewa truk untuk pendaki berjumlah kurang dari 15 orang adalah Rp 600-000 - Rp 700.000 PP (tergantung kamu negonya berapa), jadi tinggal kalian bagi aja sendiri. Karena kemarin kami ber-21, per orang bayar Rp 60.000 x 21 PP = Rp 1.260.000. Atau mendingan sewa pick up Rp 400.000 doang.
  6. Basecampnya serem nggak? Wahaaaa....hahaha.... rasain sendiri. Tapi karena aku nggak peka, ya nggak kenapa - kenapa sih. Cuman katanya....ada yang liat....mmm...
  7. Nasi bungkusnya beli dimana? Di toko bangunan terdekat. Lauknya paku. Hehe, nggak ding. Bisa beli di pasar, atau pesen Bu Endang minta dimasakin juga bisa. Jangan lupa bayar yes!
  8. Berapa lama sih mendaki Raung yang ideal? Kalau mau nyaman, nyantai, ya 3 hari 2 malem. Jadi bisa leyeh-leyeh. Tapi bawaan logistik pasti nambah berat deh :(
  9. Bisa mendaki 2 hari 1 malam? Wooo ya jelas bisa ! Kami kemaren 2 hari 1 malam doang kok. Hasilnya ? BADAN REMUK, KAKI PEGAL-PEGAL, HATI KOSONG. Yaksip!
  10. Dari Bondowoso ke Surabaya ada bis langsung? Tenangno pikirmu...ada kok ada...tapi nggak 24 jam ya. kemarin sih aku naik bis yang jam 12 siang dari Bondowoso, namanya bis LADJU. pas mau bayar, bilang ke kondekturnya kalau kamu mau turun di Surabaya, soalnya bis ini cuman sampai Probolinggo. Lah terus ? nah nanti di Probolinggo kita turun buat oper bis, tapi udah nggak bayar lagi. JADI KARCIS bisnya jangan sampe ilang, buat dikasihin ke bapak kondektur di bis Probolinggo - Surabaya
  11. Sampe Surabaya jam berapa ? Jam 18.00 sore, pas banget bisa Magriban di mushola terminal. 
  12. Bis Surabaya - Jogja 24 jam ? Yoih, 24 jam. Aku biasanya naik bis eksekutif EKA, bayarnya Rp 100.000, nanti dapet makan 1 kali di Ngawi.
  13. Dari Surabaya ke Jogja berapa lama ? Tergantung amal jariyah sih. Aku dulu pernah 5 jam pas naik malem-malem. Tengah malem tepatnta. Gila nggak tuh ? Kalau standar aman ya 7-8 jam lah

TIPS BUAT YANG NAIK BIS DARI SURABAYA KE JOGJA

  1. Pilih bis Eka atau Mira aja. Eka mendingan yang eksekutif AC, kalo yang ekonomi, ada juga sih yang tarifnya sama kayak Mira sekitar Rp 60.000.
  2. Aku paling males naik bis dari lokasi ngetem yang udah disediakan, soalnya banyak calo. Aku biasanya nunggu di pintu keluar, jadi pas bisnya mau keluar langsung naik dari sana, bayar diatas deh. 
  3. Kalau kamu terpaksa naik bis lainnya, HATI-HATI sama tas berisi dompet, hp, dll soalnya rawan copet. Bukan hanya pas kamu duduk trus tidur, copet juga mengintai pas kamu mau turun. Pastikan tas selalu kamu taruh di depan atau di dalam jaket biar aman.
  4. Beberapa bis tertentu kabarnya kerjasama sama copet, alias membiarkan copet beraksi. Nggak tau sih bener apa enggak, tapi yaa....mendingan kita jaga-jaga dan selalu waspada.
  5. Biasanya setelah bis melaju beberapa saat, lampu bis akan dipadamkan / temaram. Nah kalau sopir bis kamu (misalnya Eka) nggak matiin lampu, kemungkinan sih sopir bis menyadari adanya copet di dalam bis itu. Kan dia nggak mungkin negur langsung / nuduh sembarangan, jadi itu salah satu bentuk peringatan dari si sopir. 
Kurang lebih itu aja sih, kalau ada tambahan, boleh ditambahin di kolom komentar ya. Thankyou !