Follow Me @rezadiasjetrani

Rabu, 23 Januari 2019

Wisata Gratis di Taman Kota 1 BSD

11.13 0 Comments

Hari Minggu, 20 Januari 2019 kemarin, aku dan mas nggak liburan kemanapun. Itu karena tanggal 23 Januari aku berencana ke Jogja dan tanggal 24-29 Januari mas ke Flores, jadi kami mau leyeh-leyeh aja berduaan di rumah sebelum berpisah selama sekitar 1 minggu (yaelah).

Dasarnya kami tu biasa jalan, baru jam 12 udah bingung aja satu sama lain buat "kemana kek gitu yang deket". Akhirnya karena males ke mall, kami memutuskan buat ke Taman Kota 1 yang ada di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Sering banget lewat, tapi nggak pernah mampir. Akhirnya kesampaian juga sore itu.

Setelah muter-muter dulu nyari makan pempek demi nurutin mas X yang lagi ngidam dan untungnya nemu pempek Golden di ruko BSD yang rasanya cukup enak, kami sampai di Taman Kota sekitar jam 3 sore. Buat masuk kesini tentu aja gratis. Namanya juga Taman Kota. Kebangetan kalo kudu bayar kan. Taman ini dibuka setiap hari mulai jam 06.00 WIB sampai jam 18.00 WIB. Lokasinya ada di BSD City, Jalan Letnan Sutopo, Lengkong Gudang Timur, Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Tamannya nggak terlalu ramai, mungkin karena udah sore kali ya. Nggak tau deh kalo Minggu pagi, kayaknya sih rame banget. Begitu sampai kami udah disambut sama gapura bertuliskan Taman Kota BSD, trus di tengah ada lapangan luas beralas conblock yang di ujungnya ada panggung. Panggung ini tentunya bisa buat pertunjukan band, terbukti ada band yang entah dari mana lagi nyanyi disitu, dan naro kardus sebagai kotak uang di tengah lapangan. Yah...meski ga ada yg nonton tapi mereka tetep semangat. Suaranya kedengeran cukup jelas sampai ke titik tertentu di taman.

Di bagian kanan kiri banyak yang jual makanan, mulai yang gerobak sampai yang semi permanen lengkap dengan meja kursi. Lumayan lah kalau laper nggak perlu repot cari makan soalnya banyak yang jualan. Belok ke kanan, ada lapak mainan anak-anak dan sejumlah wahana permainan yang tentu aja berbayar. Cocok sih buat piknik keluarga, buat kumpul sama temen, buat pacaran (ngirit banget siiii pacaran di taman), tapi paling bener buat olahraga ya soalnya banyak pohon jadi udaranya sejuk. Berasa sehat banget ada di area taman ini.



Baru muter setengah lap aja, kami udah cukup miris liat sampah-sampah  berserakan. Padahal banyak tempat sampah lucu berbentuk kodok yang membuka mulut lebar-lebar siap menerima sampah, tapi tetep aja pada geletekin sampah sembarangan. Aduuhhhh....susah banget sih buang sampah di tempat sampah!!

Sejumlah alat peraga olahraga masih bisa berfungsi dengan layak, meski ada karat di beberapa bagian karena faktor usia dan cuaca, tapi hampir semua masih berfungsi dengan baik. Aku yang emang niat mau lemesin badan tipis-tipis sempet nyobain beberapa alat. Lumayan lah bikin keringetan.


Buat yang mau foto-foto cantik, ada pohon besar yang akarnya sampai menyembul ke tanah. Berasa di kebun raya Bogor nih. Trus ada jembatan gantung kecil berwarna kuning yang cakep juga buat foto-foto. 

Kalian yang mau joging juga udah tersedia trek sendiri, meski kadang harus berbagi dengan pejalan kaki lainnya. Rumput dan tanah di bagian tengah pepohonan juga bisa dipake piknik tipis-tipis. Next time aku mau makan siang disini ah sambil bawa tiker dan bekal makanan sendiri. 

Kalau capek, banyak juga kursi di berbagai lokasi jadi kalian bisa duduk dengan nyaman. Kamar mandi juga ada, tapi kondisinya memprihatinkan. Yah...begitulah.

Selesai muterin taman dan foto-foto, kami pun pulang. Sempet duduk-duduk juga tadi, tapi nggak lama soalnya mas X merasa digigitin nyamuk mulu ­čśé.

Untuk biaya yang dikeluarkan, cuman parkir motor aja Rp 2 ribu, sedangkan parkir mobil Rp 3,5 ribu sepuasnya nggak pake jam-jaman.

Kalian yang ada di seputaran BSD, Ciputat, Pamulang, kalau bingung mau kemana boleh lah escape kesini aja. Lumayan menghirup udara segar di tengah hiruk pikuk perkotaan.

Cheers,
-Jet- 

Kamis, 17 Januari 2019

Lifebuoy, Sabun Mandi Legendaris yang Tak Tergantikan

20.25 0 Comments
Siapa sih yang nggak kenal merek Lifebuoy? Merek yang satu ini udah ada dari jaman baheula banget. Bahkan dari jaman mamiku masih muda. Dulu waktu kecil, aku inget mami selalu beli sabun batang lifebuoy. Paling suka yang warna merah meski aku nggak inget itu varian apa. Di bagian body sabun ada ukiran tulisan lifebuoy dengan wangi yang khas. 

Makin kesini, makin banyak varian yang dikeluarkan oleh lifebuoy dari mulai sabun cair, sampai sampo yang bisa dipake sekeluarga. Jaman dulu mah sampo dipake rame-rame. Intinya biar rambut wangi dan bersih. Nggak mikir harus ini dan itu, punya manfaat ini dan itu. Bisa dibilang, aku tumbuh dan besar bersama lifebuoy, makanya kubilang merek ini legendaris banget. 

Sekilas Tentang Lifebuoy 


Lifebuoy adalah salah satu merek tertua, suatu merek yang amat mendunia sebelum istilah merek global diciptakan. Sabun Disinfektan Royal Lifebuoy diluncurkan pada tahun 1894 sebagai suatu produk baru yang terjangkau pertama kali di Inggris. Wah....udah 100 tahun lebih! Tujuan Lifebuoy sendiri seperti disebutkan di situs resminya adalah memberikan solusi kebersihan dan kesehatan yang terjangkau dan mudah diperoleh sehingga orang dapat menjalani hidup tanpa rasa khawatir dengan kebersihan dan akibatnya terhadap kesehatan.

Selama 110 tahun lebih, dalam sejarahnya lifebuoy ini  selalu merajai bidang kesehatan melalui kebersihan lho. Hal yang utama bagi lifebuoy adalah janji perlindungan dan komitmennya untuk mendukung kehidupan melalui perlindungan yang lebih baik . Keren banget yaLifebuoy, suatu jaminan perlindungan jika anda merasa terancam. Sebagai contoh, dulu ada kampanye yang dilakukan pada tahun 1930-an di AS diberi judul “Mencuci tangan membantu menjaga kesehatan”, telah mendorong penggunaan sabun Lifebuoy untuk membunuh kuman di tangan yang dapat menyebabkan timbulnya masalah kesehatan. 

Kampanye yang sama terus berlanjut hingga saat ini, dengan program pendidikan kebersihan Lifebuoy yang terus berlangsung di negara-negara Asia termasuk India, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, Indonesia dan Vietnam. Aku inget dulu pas SD pernah ada gerakan cuci tangan gitu, trus kita juga bisa nempelin telapak tangan di dinding yang sebelumnya dikenai cat warna-warni. Di sekolah kalian ada juga nggak? 

Inovasi

Semenjak tahun 2000, telah terjadi perubahan besar pada sabun batangan klasik Lifebuoy untuk menjamin agar sabun tersebut memberikan perlindungan kebersihan yang lebih jauh lagi dan pengalaman mencuci yang menyehatkan dan semakin menyenangkan bagi miliaran konsumennya, termasuk aku dan keluargaku. Bentuk batu bata merah keras klasik sabun Lifebuoy telah digantikan dengan bentuk Lifebuoy signature yang baru. Bentuk yang baru ini bikin sabun lebig mudah digenggam dan digunakan.

Keunggulan Lifebuoy 

Lifebuoy telah menjadi lebih dari sekedar sabun batangan berwarna merah. Saat ini merek ini memberikan solusi kebersihan dan kesehatan bagi keluarga, termasuk rangkaian sabun batangan, cairan pencuci tangan dan gel pencuci cair. Inovasi Lifebuoy yang paling baru diarahkan kepada keprihatinan utama pada kebersihan dan kesehatan kulit di kalangan remaja ABG dan para pemuda: kulit berminyak dan berjerawat. Lifebuoy Clear Skin adalah sabun batangan yang diformulasikan dengan menggunakan teknologi baru radikal yang sudah terbukti secara klinis mengurangi jerawat yang parah hingga 70% dalam waktu 6 minggu. Dengan pemakaian teratur, dua kali sehari terbukti dapat mencegah dan mengurangi timbulnya kembali jerawat. Hayooo siapa yang jerawatan, cobain varian yang satu ini deh. 

Pada tahun 2005, Lifebuoy dianugerahi “Citizen Brand” Indonesia sebagai pengakuan atas upaya yang telah dilakukan dalam hal pendidikan pencucian tangan.

Produk Lifebuoy yang Beredar Saat Ini

- Sabun cair
- Sabun cuci tangan
- Sabun batang
- Kasturi musk
- Hand sanitizer
- Shampoo 

Varian Sabun Cair

- Sabun Cair Kasturi Musk
- Sabun Cair Lemon Fresh
- Sabun Cair Mild Care
- Sabun Cair Cool Fresh
- Sabun Cair Total 10
- Sabun Cair Nature Pure

Dari beberapa varian sabun cair yang kusebutin diatas, aku memakai 2 jenis yakni yang sabun cair lemon fresh dan sabun cair total 10. Keduanya punya ciri khas aroma yang berbeda. Dulu, aku inget aroma lifebuoy cukup khas seperti bau obat dan karbol . Tapi sekarang udah digantikan dengan wewangian kesehatan yang lebih menyenangkan dan modern.

1. Sabun Cair Total 10
(ActivSilver Formula untuk melindungi kita dari kuman)

Sabun cair Lifebuoy total10 mengandung bahan baku yang sudah dipatenkan, ActivSilver Formula bersamaan dengan timol aktif diketahui akan kekuatannya sebagai antiseptik alami. Timol ditemukan pada tahun 1719 oleh Caspar Neuman dan berasal dari herbal yang sangat dikenal, Timi. Busanya lembut mampu membersihkan hingga ke dalam pori-pori serta menghilangkan kuman yang dapat menyebabkan 10 jenis infeksi kulit, dan bikin kulit kita dalam keadaan bersih dan segar.

Biasanya, sabun yang ini kupakai setelah berolahraga atau ketika aku berkativitas berlebih, entah itu bikin badan keringetan atau kotor. Kandungan antiseptik alaminya kupercaya ampuh melawan kuman-kuman yang tadinya nempel di tubuh. 

Komposisi : 
Timol aktif alami dan kandungan terdepan perlindung kuman, ActivSilver Formula Lifebuoy.

2. Sabun Cair Lemon Fresh
(Sentuhan lemon untuk kesegaran total bagi tubuh)

Lemon diduga berasal dari Cina dan salah satu sumber asam sitrun dari alam. Sabun cair Lifebuoy lemonfresh tertanam dengan lemon segar dan tercatat untuk menjaga agar kulit kira terasa segar sepanjang hari, sekaligus membantu kulit untuk bersih secara mendalam hingga ke pori-pori! 

Sabun cair Lifebuoy varian lemon ini menurutku paling enak aromanya. Varian favorit keluarga untuk saat ini. Aromanya bener-bener lemon fresh. Sabun ini kupakai sehari-hari ketika aktivotasku normal-normal aja. Jadi setiap sabun punya fungsinya masing-masing. 


Dari bentuk kemasan, lifebuoy punya bentuk yang ditekan anjuga bentuk flip, seperti botol yang varian lemon. Ukurannya cukup handy dan pas di genggaman tanganku. Kalau mau buka juga gampang tinggal di flip aja. 

Secara keseluruhan, tekstur sabun cair lifebuoy ini pas banget. Nggak terlalu encer, tapi juga nggak terlalu "berat". Untuk mendapatkan busa maksimal, aku lebih suka menuangkan sabun cair ini di puff basah trus diremas-remas sampe keluar banyak busa, baru deh dipakai sabunan. Langsung tercium aroma sabunnya dan badan terass segar sehabis dibilas. 

Buat kalian yang penasaran juga sama varian sabun cair lifebuoy, nggak perlu pusing. Produk lifebuoy ini dimana-mana ada. Dari mulai warung kecil deket rumah, minimarket, sampe di rak.supermarket juga ada. Yuk buruan pake juga dan rasakan sensasi sehatnya! 

INFORMASI

Unilever
0800 155 8000
suara.konsumen@unilever.com

Senin, 07 Januari 2019

Jangan ke Ayanaz Gedong Songo Pas Long Weekend

10.08 0 Comments

Sepanjang akhir tahun 2018, di timeline media sosialku banyak beredar foto-foto instgrambale punya temen-temenku di Ayanaz Gedongsongo. Ternyata tempat ini udah buka sejak Juni 2018.  Wah aku kudet banget :( . Langsung dong aku kepo IG Ayanaz dan tempatnya ternyata gemes banget. Aku langsung nunjukin ke mami dan ngajak mami buat kesana. Beruntung, akhir tahun 2018 ini bisa full team, ada aku, mas X, kakak, adek, dan mami.

Menuju Candi Gedong Songo dari Jogja

Hari Minggu, 31 Desember 2018 kami bersiap berangkat dari rumah. Rencana jam 7 pagi berangkat, tapi molor jadi jam 7.45. Bekal minuman, cemilan, roti, semua komplit. Perjalanan lancar sih nggak macet sama sekali. Dari Jogja kami lurus ke utara lewat jalan Magelang, sampai Muntilan, Magelang, Secang, Ambarawa, sampai menuju Bandungan. Perjalanan yang dibutuhkan normalnya sekitar 2,5 jam dengan jarak kurang lebih 87 km dari Jogja. Bagi kalian yang dateng dari Semarang, jarak ke Ayana ini sekitar 45 km.

Mau masuk ke kawasan Bandungan udah mulai macet, soalnya disini ada banyak destinasi wisata terkenal dari mulai Umbul Sidomukti, kapel La Kanna, dan Candi Gedongsongo. Ayanaz ini lokasinya ada di dalam kompleks Candi Gedongsongo. Kami semua (kecuali mas X) udah pernah liburan ke Candi Gedong Songo sekitar 2 tahun silam.

Makin mendekati komplesks candi, jalanan makin macet. Beneran merayap. Kondisi jalanan juga tanjakan terus menerus, jadi beberapa kali kami ketemu mobil yang putar balik atau bahkan mogok karena mesin kepanasan dan bau kampas rem menyengat. Hampir 1 kilometer lagi sebelum tiba di area parkir, kendaraan nggak gerak sama sekali kecuali sepeda motor. Ternyata penyebabnya adalah antri tempat parkir. Pantesaaaaan nggak maju-maju. Mobil yang antri sampai puluhan, sedangkan mobil yang keluar cuman satu-satu. Lahan parkir yang terbatas bikin tumpukan kendaraan di tanjakan nggak bisa dihindari.

Mobil kami pun akhirnya putar balik, soalnya udah mulai bau kampas rem. Takut malah makin parah (dan malah buang-buang waktu), kami akhirnya putar balik trus parkir di halaman SD setempat. Parkir mobil waktu itu Rp 15 ribu (katanya buat infaq musholla masjid). Terus per orang naik ojek motor Rp 15 ribu juga x 5 orang (sekali jalan). Yah, jadi nambahin pengeluaran sih, tapi mau gimana lagi. Kalau nunggu dapet parkir bisa 2 jam karena pas aku naik ojek, udah lumayan mengular.
Mami naik ojek.

Tiba Di Candi Gedong Songo

Jam menunjukkan waktu pukul 11 siang kurang 15 menit dan  kondisi di obyek wisata super penuh. Maklum, lagi long weekend liburan Natal dan Tahun Baru. Kalau mau sepi ya susah, soalnya aku sama mas tanggal 1 besok udah balik lagi ke Jakarta karena mas udah masuk kerja. Serba salah emang ya.

Harga tiket masuk candi Gedong Songo Rp 10 ribu per orang. Kita udah bebas mau muterin candi sepuasnya, kecuali naik kuda, bayar lagi sesuai rute yang dipilih. Kalau mau masuk ke Ayanaz, per orang bayar lagi Rp 25 ribu. Kakak dan adek begitu liat tempatnya rame banget dan colorfull abis, langsung bilang nggak mau masuk. Mereka berdua pasti geli sendiri kalo ikutan foto disini, sementara aku sama mami malah semangat dan nggak sabar buat ikutan foto. Kalau mas X, dia mah wajib ikut. Ntar yang motretin kami siapa dong :P .
Harga tiket masuk kawasan Candi Gedong Songo


Di dalam, kita bisa duduk-duduk dan foto sepuasnya di spot-spot yang udah disediain pengelola, kecuali spot foto di dalam bubble, harus bayar lagi. Kalau yang kecil bayar Rp 5 ribu per orang untuk durasi foto 3 menit. Banyak yang antri, jadi kalau kelamaan sama petugasnya bakal diingetin buat berhenti. Kalau di bubble yang besar, sampai dengan 2 orang Rp 20 ribu, sampai dengan 5 orang Rp 30 ribu, sampai dengan 8 orang Rp 40 ribu. Jadi mending masuknya rombongan biar lebih irit.

Ini beberapa spot foto yang kami ambil waktu itu.






Karena males antri (hampir semua spot foto antri), mami udah males foto. Cuman aku sama mas yang foto di bubble balon oranye (jadi bayar Rp 10 ribu berdua). Selesai foto, kami langsung keluar buat ketemu kakak, adek, dan mami yang udah nungguin di kursi tunggu. Total waktu yang kami habiskan buat foto-foto adalah 2 jam. Itu udah sama antri foto di beberapa spot. Lumayan lama ya. Tapi sayang kurang bisa menikmati. Maunya duduk-duduk santai, tapi gimana mau santai kalau di setiap lokasi penuh, terus mau foto-foto dimenitin. Jadi buatku kalau buat nyantai, tempat ini nggak rekomended. Cuman buat foto-foto doang trus keluar.

Jeleknya lagi, di tempat ini nggak ada tempat berteduh dari hujan. Jadi kalau ujan siap-siap aja bubar. Bisa sih kalau nekat mau foto-foto, tapi yang spot foto bubble tutup kalau hujan. Trus nggak ada yang jual makanan. Jadi jangan bayangkan kalian bisa duduk santai, meikmati pemandangan sambil makan karena mereka cuman jual minuman botol.

Dan itu terbukti. Nggak lama setelah aku, mami, sama mas keluar, eh hujan deres. Langsung deh pada bubar. Kasian orang-orang yang udah bayar tapi gagal foto-foto. Gimana mau foto kalau basah semua kayak gitu? Tempat berteduh di dalam juga nggak ada, jadi harus lari keluar.

Oiya, tadi sebelum hujan turun, mas X sama kakak sempat naik kuda. Dulu aku sama mami udah pernah, nah kakak sama adek jalan kaki. Makanya di tahun ini aku bilang ke kakak sama mas, gih sana naik kuda muterin candi mumpung disini. Jalannya lumayan menanjak jadi enak naik kuda muterin lereng gunung. Setelah berpikir lama (soalnya harga kudanya naik, yang aslinya Rp 90 ribu jadi 120 ribu karena tahun baru), akhirnya mereka naik juga. Eh, baru jalan 5 menit langsung ujan.

Dari kejauhan aku liat mas jalan kaki buat turun, pas aku nanya katanya kudanya kaget denger petir dan tiba-tiba hujan, trus kudanya kayak mau berdiri gitu ala logo Ferrari. Alhasil mas terjun bebas dari punggung kuda. Untung nggak kenapa-napa cuman lumayan kaget dan ngilu sebentar tangannya.

Sedangkan kakak? Kakak malah bingung nyariin mas dan nggak tau kalau mas jatuh. Akhirnya karena baru jalan sebentar sampai candi 1 (yang keliatan di depan mata), kakak disuruh bayar Rp 50 ribu (WHAT THE...). Itu candi bahkan di depan mata bayar Rp 50 ribu cuman 5 menit dari lokasi kami berdiri?? Sungguh deh. Sedangkan mas nggak bayar soalnya dia bonus jatuh dari kuda (antara kasian sama mau ketawa sih sebenernya soalnya dia juga sempet-sempetnya motret si kuda dan ceritanya bikin ketawa).

Karena hujan, kami berteduh dulu sambil makan jagung bakar dan minum panas. Jagung bakarnya seharga Rp 7 ribu per buah, kalau minuman panasnya Rp 5 ribu. Cukup menghibur hati setelah harus bayar kuda yang bahkan baru jalan 5 menit.

Setelah hujan mulai reda, akhirnya kami pulang sekitar pukul 4 sore. Mayan banget ya dari jam 11 siang sampe jam 4 sore disini tanpa bisa puter-puter. Mau keliling candi ujannya nggak nyantai. Kami masih harus naik ojek karena sekarang giliran turunnya yang macet. Untung bisa cenglu, satu motor ber tiga cuma bayar Rp 15 ribu. Si adek sama mami malah cuman Rp 10 ribu bertiga. Hmmmm...

Kesimpulannya sih, liburan ke Bandungan dan Gedong Songo di long wiken ini kayak liburan ke Puncak pas akhir pekan. Cuman bakalan tua di jalan karena macet, merayap, atau buka tutup arus. Harus banyak istighfar. Untuk Ayanaz nya sendiri dengan tarif Rp 25 ribu, area sekecil itu, dan pengunjung sebanyak itu, KAMI NGGAK BISA MENIKMATI sama sekali. Kalau suruh balik kesini dan harus bayar lagi, aku sih bakal bilang NO, THANKS. Yah tapi kembali lagi ke masing-masing orang sih, tujuan liburannya mau hunting foto aja atau emang mau nyantai.

Detil Pengeluaran untuk ke Ayanaz (diluar bensin dan makan) :

1. Naik ojek = @Rp 15 ribu
2. Masuk candi = @Rp 10 ribu
3. Masuk Ayanaz = @Rp 25 ribu
4. Spot foto bubble kecil = @Rp 5 ribu 
5. Spot foto Vip = @Rp 20 ribu 
6. Makan jagung = @Rp 7 ribu
7. Minum kopi panas = @5 ribu
8. Naik kuda paket komplit = @120 ribu (opsional)
9. Ojek pulang = Rp 10 ribu

Lokasi Ayanaz Gedong Songo : 

Jam Buka : 07.00–17.00
Kontak : 0813-9039-0768
Alamat : Krajan, Banyukuning, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah 50614

Peta Lokasi  Ayanaz Gedongsongo Semarang

https://maps.app.goo.gl/daXJY