Follow Me @rezadiasjetrani

Rabu, 20 Juni 2018

Masjid Agung Nurul Ikhlas, Penyejuk di Tengah Panasnya Udara Kota Cilegon

13.03 0 Comments
Masjid Agung Cilegon atau Masjid Agung Nurul Ikhlas adalah masjid yang terletak di sisi ruas jalan Sultan Ageng Tirtayasa di pusat kota Cilegon. Berada di depan rumah dinas Wali Kota Cilegon dan tak jauh pula dari Stasiun Cilegon, masjid ini memiliki empat menara dengan tinggi sekitar 55 meter. Ditambah dengan kubah hijau seperti masjid Nabawi yang menjulang diantara pertokoan dan pusat perniagaan di pusat kota, masjid Nurul Ikhlas nampak mencolok dilihat dari kejauhan.

Dari informasi yang saya baca, masjid ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Namun dulu bentuknya tidak semegah dan sebesar ini. Kala itu masjid ini sudah memiliki menara namun tak setinggi menaranya saat ini, kemudian dilakukan perombakan, menaranya dibuat lebih tinggi dalam perombakan kedua.
Lantai 2 Masjid Agung Nurul Ikhlas
Pertama kali saya ke masjid ini ketika saya diajak berkenalan dengan keluarga suami sebeelum kami menikah. Namun waktu itu saya tidak shalat disini, hanya berjalan-jalan di taman depan masjid yang waktu itu bersih dan tertata rapi. Rumput sintetisnya sering digunakan oleh anak-anak untuk bermain dan berlarian. Kalo kedua saya kemari, untuk menemani suami membayar zakat fitrah kemudian berjamaah menunaikan ibadah shalat Dhuhur.

Ternyata Masjid Agung Nurul Ikhlas terdiri dari tiga lantai, lantai basement untuk tempat wudhu dan toilet, lantai dasar, dan lantai satu. Ruang sholat utama berada di lantai dasar. Sementara lantai satu digunakan untuk ruang sholat wanita atau area tambahan ketika sholat jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan.


Interior dalam masjid
Tempat wudhu
Uniknya, tangga, jembatan dan jalan akses langsung menuju ke lantai satu masjid ini  juga disediakan di bagian luar masjid. Setelah menaiki tangga, kita akan mengarah ke empat buah pintu besar yang langsung terhubung ke ruang sholat utama. Waktu saya kesana, pintu dalam kondisi tertutup sehingga saya tidak bisa masuk dari sana. 

Seperti kebanyakan tempat ibadah lainnya yang selalu membuat diri kita merasa teduh dan tenang, demikian pula dengan masjid ini. Pemilihan material untuk masjid ini saya akui cukup apik. Interior dan ekterior masjid di dominasi oleh marmer bewarna putih, hitam, dan abu-abu hingga ke bagian dalam sehingga menghadirkan suasana yang sejuk di tengah udara kota Cilegon yang cukup panas. Tamannya pun cukup menyegarkan mata karena perpaduan warna hijau dari rumput sintetis dan juga bangku besi bercatkan warna oranye.

Jika kalian sedang melintasi kota ini, baik untuk menuju Pelabuhan Merak atau berlibur ke Anyer, tak ada salahnya untuk menyempatkan berhenti dan beribadah sejenak di masjid ini. 

Taman di bagian depan Masjid Agung Nurul Ikhlas
Lokasi Masjid : 

Senin, 11 Juni 2018

Masjid di Atap Pasar Tanah Abang, Oase di Tengah Hiruk Pikuk Perniagaan

12.51 4 Comments
Bagian dalam masjid Pasar Tanah Abang Blok A
Tanah Abang sudah cukup lama dikenal sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Menjelang hari raya Idul Fitri, pasar ini sudah pasti penuh sesak oleh pembeli. Tak terkecuali saya yang siang itu berniat membeli baju lebaran bersama sahabat saya. Belum memasuki pasar saja jalanan sudah macet parah. Kami akhirnya berhasil mendapatkan tempat parkir dan berbelanja di blok A dan juga blok B Tanah Abang. Ribuan orang nampak hilir mudik melakukan aktivitas jual beli, yang saya yakin tak pernah sepi setiap harinya.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 siang. Kami yang belum berhasil mendapatkan pakaian, memutuskan untuk shalat Dhuhur terlebih dahulu. Di dalam lift, tertulis masjid terletak di lantai A, yang kami anggap sebagai lantai 14 karena terletak di atas lantai 12 - 12 A - baru lantai A.
Bagi yang belum pernah berkunjung ke Blok A Pasar Tanah Abang, keberadaan masjid di puncak bangunan ini cukup mudah untuk diakses. Pengelola pasar sudah menyediakan eskalator dan lift, 4 lift di kiri masjid dan 2 lift di kanan masjid. Hebatnya lagi, kumandang adzan akan senantiasa terdengar kepada para pembeli maupun pedagang di seluruh lantai melalui pengeras suara yang tersedia dari lantai dasar hingga puncak bangunan pasar.

Setelah bersabar menunggu karena lift berhenti hampir di setiap lantai, kami pun tiba di masjid. Sebelum masuk lebih jauh ke area masjid, di sebelah kiri terdapat Unit Donor Darah PMI atau Palang Merah Indonesia yang cukup besar dan bersih. Beberapa tempat tidur berjajar rapi bagi mereka yang ingin mendonorkan darahnya. 

Begitu menapak ke halaman masjid, kami langsung dibuat takjub dan kagum. Suasana terasa berbeda. Jika sebelumnya kami bahkan sulit untuk berjalan karena banyaknya orang yang berbelanja, di Masjid Pasar Tanah Abang ini suasana terasa tenang dan nyaman. Masjid dan halamannya juga cukup luas sehingga kami bisa bernafas dengan lega. 
Halaman samping masjid Pasar Tanah Abang Blok A
Masjid ini seperti oase ditengah hiruk pikuk perniagaan di Pasar Tanah Abang. Beberapa sudutnya mengingatkan saya pada Masjid Nabawi di Madinah yang pernah saya datangi beberapa tahun silam. Warna dindingnya didominasi warna coklat muda dengan pilar-pilar yang mirip dengan Masjid Madinah.

Baca Juga :  Agung Jawa Tengah, Payungnya Mirip yang Di Madinah

Saat ke toilet dan berwudhu, saya kembali dibuat kagum. Kedua tempat itu nampak bersih dan terawat. Padahal selama ini pasar atau masjid di pasar selalu identik dengan kesan kumuh dan kotor. Namun masjid ini mematahkan teori tersebut.
Tempat wudhu wanita
Masuk ke bagian dalam, dinding masjid dihiasi kaligrafi arab dengan warna-warni cerah, khas ornamen Timur Tengah. Karpet berwarna merah bercorak bunga-bunga di tepinya. Mihrab berupa cekungan diapit 2 tiang di sebelah kiri dan 2 tiang di sebelah kanan. Diatas mihrab tertulis kaligrafi dua kalimat Syahadat dan dibawahnya kaligrafi Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Masjid yang selesai dibangun dan mulai digunakan tahun 2006 ini terdiri dari dua lantai, lantai 1 untuk jamaah pria atau ikhwan dengan luas sekitar 700 m2 dan lantai 2 untuk jamaah wanita atau akhwat dengan luas sekitar 200m2. Kedua lantai tersebut konon mampu menampung hingga 2.000 jamaah. Ditambah selasar dan plasa bahkan bisa menampung tambahan sekitar 1.000 jamaah lagi.

Masjid ini memang sengaja ditempatkan di lantai paling atas gedung agar bisa dibangun lebih luas di satu area. Tak heran, walau tidak memakai AC, masjid terasa dingin dan sejuk. Mungkin karena letaknya di ketinggian dan angin berhembus cukup kencang. Yang perlu diketahui, berbeda dengan masjid lain, masjid ini hanya beroperasi pada waktu sholat dzuhur hingga sholat ashar saja karena mengikuti aktivitas pasar yang berhenti beroperasi pada pukul 5 sore.
Lorong menuju toilet, tempat wudhu, dan tempat penitipan sepatu yang lebar dan bersih
Saking nyamannya, siang itu nampak sejumlah ikhwan yang memanfaatkan masjid untuk beristirahat bahkan tidur siang. Mungkin mereka kelelahan menemani istri atau kerabatnya berbelanja sehingga tanpa sadar tertidur di masjid ini. 
Hawa yang sejuk membuat banyak jamaah sampai tertidur meskipun sebenarnya dilarang
Untuk fasilitas, di masjid ini tersedia penitipkan alas kaki,tempat wudhu dan toilet yang bersih untuk pria dan wanita, ruang rapat, ruang untuk imam, ruang officeboy, dan juga sekretariat. Papan petunjuk dan pengumuman pun terpasang dengan jelas sehingga memudahkan jamaah untuk mendapatkan informasi. 

Seusai shalat dan mengagumi keindahan masjid, kamipun melanjutkan kegiatan belanja kami. Kembali turun dan berdesak-desakan di tengah hiruk pikuknya pasar Tanah Abang di bulan Ramadan yang suci ini. 


Kamis, 07 Juni 2018

ART|JOG 2018, Keren Banget!

12.53 0 Comments

Ini adalah kali kedua aku menghadiri gelaran ART|JOG . Kali kedua juga aku datang bersama suamiku Mas @xspheriksx. Art Jog merupakan Pameran Seni Rupa Kontemporer terbesar di Indonesia yang digelar secara tahunan di Yogyakarta, tahun ini berlokasi di Jogja Nasional Museum. Art Jog edisi ke-11 ini mempersembahkan ratusan karya seni dari 54 seniman baik lokal maupun mancanegara dengan tema “Enlightenment” atau Pencerahan. Berlangsung selama sebulan penuh, yaitu 4 Mei – 4 Juni 2018, harga tiket ART|JOG 2018 adalah Rp 50.000, buka dari pukul 10 pagi sampai 10 malam.

Dikutip dari situs resminya artjog.co.id , sebagai sebuah peristiwa seni, ART|JOG telah mendedikasikan dirinya selama 10 tahun untuk membangun jejaring seni rupa kontemporer ditingkat lokal, dan juga menciptakan koneksi dengan komunitas seni rupa yang lebih mendunia. Semangat ini merupakan salah satu dorongan serta kesadaran untuk cermat melihat peluang, dimana ada kewajiban untuk mengakomodir ekspansi presentasi dan distribusi pengetahuan seni itu sendiri kepada publik, dengan cara yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Beberapa programnya antara lain:

ART EXHIBITION
Melalui Open Call Application, ART|JOG membuka kesempatan luas bagi seniman dan publik untuk berpartisipasi dengan mengirimkan karyanya untuk dikurasi oleh kurator ART|JOG. Open Call Application sekaligus menjadi sarana untuk menjaring potensi-potensi seniman muda terbaik. Tidak terbatas pada medium tertentu, ART|JOG menampilkan keberagaman karya, baik itu lukisan, grafis, foto, instalasi multidimensi, patung, mekanik-kinetik sampai performance art. Dengan ini, ART|JOG hadir sebagai wadah yang merespon gemilangnya perkembangan pasar seni rupa, baiik lokal maupun global.

COMMISSION WORKS
Salah satu spesialisasi ART|JOG adalah menggubah halaman muka lokasi pameran menjadi bentuk visual yang benar-benar baru dan berbeda setiap tahunnya. Seniman baik itu individu atau kelompok dikomisi oleh ART|JOG dalam satu proyek khusus untuk merespon gedung pameran berbekal tema kuratorial yang ada. Commission Works adalah ikon ART|JOG dan tentunya menjadi pusat perhatian publik.

YOUNG ARTIST AWARD
Young Artist Award adalah sebuah penghargaan bagi seniman muda terbaik peserta ART|JOG yang berusia dibawah 33 tahun. Program ini sengaja dirancang sebagai wujud apresiasi atas kiprah mereka dalam berkarya. Diharapkan dengan diselenggarakannya program ini, dapat menggali potensi dan wawasan seniman muda serta memperluas jaringan dan lintasan karir mereka dalam berkesenian.

Tak hanya itu, sebagai tolak ukur perkembangan seni rupa di Indonesia. Art Jog edisi ke-11 ini menampilkan karya seni yang terdiri dari dua dimensi, tiga dimensi, instalasi, video, objek dan pertunjukan spesifik. Setia tahun saya pribadi selalu dibuat terkagum-kagum oleh banyaknya ide seni brilian yang juga fotogenik, sesuatu yang lebih sering dicari oleh anak muda di era digital seperti sekarang ini. Berikut ini beberapa karya seni istimewa yang membuat saya kagum.

Sea Remembers

Memasuki pintu utama ART|JOG 2018, aku (dan para pengunjung lainnya) dibuat terpana oleh karya Mulyana, seniman yang juga commission artist yang memamerkan karya bertajuk Sea Remembers. Mulyana menampilkan indahnya kehidupan bawah laut melalui seni rajutan yang luar biasa. Benang-benang terangkat membentuk beragam biota laut yang penuh warna. Konon, proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan tangan dan ia meminta bantuan ibu-ibu di Sorogenen, Sleman. WOW! Membayangkan proses pembuatannya saja sudah membuatku tak habis pikir. Sungguh telaten!
Berikutnya adar karya dari Nasirun yang membuat karya lukisan sepanjang 75 meter pada medium kertas tisu bekas yang didaur-ulang. Sebagai salah satu penyumbang udara segar, hutan adalah paru-paru dunia. Dalam karya tersebut Nasirun mencoba memberikan pencerahan dan titik kritik sosial kepada setiap individu untuk merenung kembali tentang kesadaran “kontribusi yang seperti apa?” yang telah mereka berikan kepada alam. perlu diketahui bahwa ternyata sampah kertas tisu adalah penyumpang sampah terbesar kedua di dunia.
Selain itu, masih banyak karya-karya lain yang sayang untuk dilewatkan.




Bagi kalian yang ingin mencari souvenir, tersedia area khusus yang menjual beragam souvenir khusus ART|JOG 2018. Ada pula pertunjukan musik setiap malam selama perhelatan berlangsung yang bisa dinikmati pengunjung sembari menikmati pojok kuliner.



Rabu, 06 Juni 2018

Siapa Sangka Ada Masjid Unik di Kolong Tol Jakarta Utara ?

10.57 0 Comments
"Mau kemana nih Sabtu ini? Bingung ih." ujarku kepada mas X.

"Gimana kalau kita ke masjid Babah Alun aja? Aku pernah liat a masjid di bawah kolong tol di Priok sana." ajak mas X singkat.

Akhirnya berbekal google map kamipun berangkat. Buset deh rasanya jauuuh banget dari Pamulang ke Priok. Mana kami naik motor. Kebayang nggak sih kalian panas-panas, macet, jauh gitu. Yah tapi demi sebuah rasa penasaran ya kami jabanin aja deh.

Sejam lebih berselang. Kami melewati kantor Astra di daerah Priok dan menyalakan google map lagi. Tadi sempet dimatiin soalnya udah tau jalan utama sampai kantor Astra. Tertulis nama sebuah gang. Yaudah kami ikutin aja dan malah nyasar. Aku sempet frustasi karena kami udah blusukan gang dan malah makin nyasat. Mau nanya sama orang, tapi kami masih penasaran buat neMuin sendiri. Akhirnya kami tetep muter-muter dengan patokan jalan tol. Soalnya di foto masjid ini persis ada di kolong jalan tol. PENCARIAN KAMI PUN BERBUAH MANIS. Masjidnya ketemu!

Terletak di bawah kolong Tol Wiyoto Wiyono, tepatnya di Jalan Papanggo Gang 21 RT 001 RW 007, Kelurahan Papanggo, Jakarta Utara, siapa yang menyangka jika bangunan ini ternyata sebuah masjid? Aku pikir malah klenteng. Soalnya kalau dilihat dari luar, kesan kental Tionghoa atau oriental kelihatan jelas, di mana warna di dominasi warna hijau, kuning, dan merah.
Masjid Babah Alun tampak depan
Inilah Masjid Babah Alun, salah satu dari ratusan masjid yang berada di DKI Jakarta. Dengar namanya aja kita sudah tahu kalau masjid ini berbeda dari yang lain. Masjid ini dibangun sejak Agustus 2017 oleh seorang pengusaha sekaligus mualaf keturunan Tionghoa bernama Muhammad Jusuf Hamka.

Nama Babah Alun juga diambil dari sosok Jusuf Hamka. Babah artinya bapak, sedangkan Alun nama panggilan Pak Jusuf waktu kecil. Itu info yang aku dapat, meski ketika ingin mengkonfirmasi sore itu, aku tidak bertemu dengan orang yang tepat untuk menjelaskan.
Dilihat dari luar, masjid ini punya relief berwarna hijau yang bermotif oriental. Masjid ini juga berbentuk segi delapan, bukan segi empat seperti masjid pada umumnya. Nggak hanya itu, berhubung letaknya di bawah jalan tol, nampaknya pembuatan atap pun "mentok". Makanya masjid ini tidak memiliki kubah yang menjadi ciri khas masjid. Berasa pendek banget ya.

Atap masjid yang mentok dengan kolong tol.
Bangunan masjid berbentuk segi delapan
Pintu masuk utama yang tembus ke tempat ibadah wanita berwarna coklat besar, dilengkapi ukiran nama Masjid Babah Alun yang menggunakan Bahasa Mandarin di atas pintu. Tempat wudhunya pun nyaman, tersedia kursi untuk duduk sehingga jamaah bisa berwudhu sembari duduk. Ada pula petunjuk pelaksanaan wudhu dalam bahasa Mandarin dan Indonesia. Agak gemes waktu liat gambar di ilustrasi. Kayak tokoh film Mandarin yang suka kotonton jaman SD dulu. Kepalanya botak separo dan rambutnya panjang. Kalian tahu juga nggak sih?


Tempat wudhu yang nyaman
Memasuki dalam masjid, 99 Asmaul Husna terlukis rapi di bagian atas, juga diberikan kaligrafi berbahasa Mandarin. Cakeeepp. 
Sore itu, masjid ini ramai dikunjungi oleh jamaah. Ada yang shalat kemudian pergi, ada yang sengaja membawa anak-anaknya dan membiarkan mereka bermain di rerumputan yang luas di samping masjid, ada pula yang datang untuk sekedar berfoto.

Masjid ini agaknya mampu memberikan kesejukan tersendiri di tengah padatnya pemukiman di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara bagi siapapun yang melihatnya. Seperti kami. Jiwa dan raga langsung adem (halah).

Buat yang mau kesini, ini ada mapnya kok. Semoga nggak nyasar ya.

Lokasi Masjid: