Follow Me @rezadiasjetrani

Minggu, 24 September 2017

Serunya Naik Kereta Api Wisata Melintasi Rawa Pening

11.54 0 Comments
Museum kereta api Ambarawa nampak dari depan.
Setiap kali melintasi daerah Ambarawa ketika akan menuju kota Semarang, aku selalu berkeinginan untuk bisa naik kereta api wisata dari museum yang terletak di tepi jalan ini. Akhirnya keinginanku baru terwujud pada kunjungan ketiga. Jadi ketika pertama kali kesini, aku baru pulang dari menghadiri resepsi teman dan sudah kesorean. Pada kunjungan kedua, aku kehabisan tiket karena datang kesiangan. Akhirnya di kunjungan ketiga, aku dan keluarga sengaja berangkat pagi-pagi sekali dari Jogja dan berhasil mendapatkan tiket kereta api wisata. Alhamdulillah.
Kereta sedang melintas untuk memulai perjalanan.
Segitunya sih sampe diniatin dateng 3 kali, Jet?

Eits, jangan salah. Aku sampe bela-belain naik kereta wisata ini karena dari yang aku baca, pemandangan yang akan kita lihat sepanjang perjalanan sungguh memanjakan mata. Dari mulai lembah yang hijau antara Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu, deretan persawahan di kanan kiri rel, hingga Rawa Pening yang terkenal itu.
Melintasi Rawa Pening
Sebelum bercerita lebih jauh, aku mau cerita tentang Ambarawa dan Museum Kereta Api terlebih dahulu ya.

Sekilas Info tentang Museum Kereta Api Ambarawa

Ambarawa, berdasarkan info yang aku baca awalnya merupakan kota militer pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Raja Willem I kala itu memerintahkan dibangunnya stasiun kereta api baru yang memungkinkan pemerintah Belanda untuk mengangkut tentaranya ke Semarang. Pada 21 Mei 1873, stasiun kereta api Ambarawa pun dibangun di atas tanah seluas 127.500 m² dan dikenal sebagai Stasiun Willem I.
Stasiun kereta api Ambarawa pada akhirnya dialihfungsikan jadi sebuah museum dengan koleksi kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Tepatnya didirikan pada tanggal 6 Oktober 1976. Koleksi musuem ini diantaranya kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen, serta B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG yang sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.

Kereta Api Wisata Ambarawa

Kereta wisata Ambarawa-Bedono PP atau lebih dikenal sebagai Ambarawa Railway Mountain Tour ini beroperasi dari museum Ambarawa menuju Stasiun Bedono yang jaraknya 35 km, ditempuh dalam waktu 1 jam untuk sampai stasiun tujuan, sehingga total perjalanan adalah 2 jam dan mampu mengangkut hingga 100 orang penumpang.

Perjalanan reguler kereta api wisata Ambarawa ( loko diesel ) dibuka setiap hari Minggu dan hari libur nasional dengan biaya Rp 50.000,00 / orang, dengan kapasitas 1 gerbong 40 orang. Ada 3 kali perjalanan dalam satu harinya dan tidak melayani reservasi (kecuali loko uap, harus reservasi terlebih dahulu). Jadi kalau mau beli tiket, sebaiknya kalian datang pagi-pagi dan antri supaya tidak kehabisan seperti aku dulu ya.

Jam Buka Museum Kereta Api Ambarawa :

Senin – Minggu, pukul 08:00 – 16:00 WIB

Jam keberangkatan kereta wisata Ambarawa:

Jam 08.00
Jam 10.00
Jam 12.00

Harga tiket masuk di museum Ambarawa:

Dewasa Rp 10.000,00
Anak-Anak Rp 5.000,00

Sembari menunggu jam keberangkatan atau bagi teman-teman yang kehabisan tiket dan tidak berhasil naik, jangan khawatir. Kalian masih bisa berkeliling museum dan menikmati aneka koleksi yang ada di museum ini dari mulai beragam lokomotif, alat pencetak tiket jaman dulu, hingga berbagai kelengkapan stasiun dan alat-alat yang digunakan oleh para petugas. 
Di bagian tengah, kalian akan melihat sebuah lubang besar yang dilintasi rel meski tidak dilewati kereta wisata. Mungkin tak banyak yang tahu apa fungsi sebuah lubang besar berbentuk lingkaran sempurna tersebut. Jadi itu adalah sebuah alat yang berfungsi untuk merubah arah gerbong maupun lokomotif. Aku dengar di dalam kompleks bengkel kereta api Balai Yasa di Yogyakarta juga ada lubang seperti itu. Hebatnya, setelah ratusan tahun berselang alat tersebut masih berfungsi sempurna. Besi melingkar yang digunakan sebagai bantalan rel saat alat itu berputar pun masih terlihat bagus.
Berjalan sedikit ke belakang, kalian akan menemukan sejumlah bangunan bekas stasiun kereta yang masih dirawat dengan baik hingga saat ini.
Dijamin, sepulang dari sini kalian akan mampu membayangkan betapa menyenangkannya perjalanan menggunakan kereta di masa lalu. Atau bisa jadi kalian malah ingin mencoba naik kereta api saja jika akan keluar kota.

Nah, bagi yang ingin kesini juga, ini dia alamat lengkapnya.

Lokasi Museum Kereta Api Ambarawa 

Jalan Stasiun No 1, Ambarawa ,Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
No. Telepon (0298) 591035 



Jumat, 22 September 2017

Berkuda di Candi Gedong Songo, Ungaran

12.18 4 Comments
Biasanya minimal dua bulan sekali, aku dan keluargaku yakni ibu (yang biasa kupanggil mami), kakak dan adek berwisata bersama. Saat itu kami memutuskan untuk liburan ke daerah Ungaran, tepatnya ke Candi Gedong Songo.

Terletak di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ternyata tempat ini sangat ramai dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun manca negara. Bahkan waktu itu kami cukup kesulitan untuk mencari tempat parkir, terlebih lokasi candi ini terletak di ketinggian sehingga kami mendapat lokasi parkir di jalan turunan.

Sesuai namanya, Gedong Songo berarti 9 bangunan (candi) yang tersebar di beberapa lokasi. Berada di lereng Gunung Ungaran bagian selatan dengan ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut, suhu udara di kawasan wisata ini cukup sejuk, cenderung dingin.

Ketika memasuki kompleks candi, kita akan didekati oleh para joki kuda yang menawarkan jasa. Hal itu dikarenakan lokasi antara candi yang satu dengan candi lainnya cukup lumayan sehingga menunggang kuda adalah pilihan terbaik.

Sejarah Singkat Candi Gedong Songo


Berdasarkan informasi yang ada, Candi Gedong Songo pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1740 M. Ketika itu Raffles menemukan sebanyak 7 buah bangunan candi sehingga dia menamainya dengan Candi Gedong Pitu yang berarti tujuh bangunan (candi). Pada tahun 1908 – 1911, seorang arkeolog dari Belanda bernama Van Stein Callenfels kembali melakukan penelitian di komplek candi tersebut dan dalam kurun waktu 3 tahunan Callenfels berhasil menemukan 2 candi lainnya yang bertempat tidak jauh dari candi-candi yang sebelumnya telah ditemukan Raffles, sehingga total candi yang ditemukan menjadi 9 buah.

Dengan ditemukannya 2 candi yang lain ini maka nama Candi Gedong Pitu berubah menjadi Candi Gedong Songo. Candi ini merupakan bangunan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9.

Jadi, setelah mendengarkan penjelasan dari joki kuda bahwa untuk mengelilingi keseluruhan candi akan menguras energi yang cukup lumayan, akhirnya aku dan memi memutuskan untuk menunggangi kuda sementara kakak dan adik lebih memilih berjalan kaki. Sebetulnya aku ingin berjalan kaki juga, namun membayangkan bisa naik kuda keliling candi nampaknya cukup menyenangkan.

Bagi kalian yang ingin naik kuda, jangan khawatir akan dikenai harga mahal karena pengelola sudah menetapkan standar tarif untuk setiap paket. Jadi semua kembali ke pilihan kita mau paket yang mana.

Berikut adalah harga paket wisata kuda Candi Gedong Songo.


Wisata Desa Rp 25.000 (Wisman Rp 35.000)
Ke Air Panas Rp 60.000 (Wisman Rp 70.000)
Ke Candi II Rp 40.000 (Wisman Rp 50.000)
Paket seluruh candi Songo Rp 70.000 (Wisman Rp 90.000)

Aku dan mami memilih untuk paket lengkap yakni Rp 70.000. Satu lagi kelebihan yang aku lihat dari wisata ini, para joki kuda sembari mengiringi pengunjung menaiki kuda, mereka membawa sapu lidi yang berfungsi untuk menyapu kotoran kuda yang jatuh. Jalur kuda dan jalur pejalan kaki pun dipisah sehingga tak perlu khawatir akan menginjak “ranjau.” Super salut pada pengelola yang memperhatikan seluruh aspek kebersihan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung.

Apa Saja yang Bisa Kita Lakukan di Candi Gedong Songo?


Jawabannya banyaaaak ! Nih ya aku jelasin satu per satu
1. Wisata Sejarah dan Arsitektur
Kawasan Candi Gedong Songo ini sangat menarik untuk di kunjungi terutama bagi kalian yang menyukai sejarah budaya dan arsitektur kuno. Konon, Candi Gedong Songo  merupakan candi Hindu yang memiliki kemiripan dengan kompleks percandian di Dieng karena sama-sama dibangun di tempat tinggi, dekat dengan sumber air panas bumi, dan tidak terlalu jauh dengan danau atau telaga. Wah, kalau ditelusuri tentu keduanya memiliki keterkaitan.

2. Berkuda
Bayangkan serunya berkuda menyusuri jalanan, naik turun bukit dan melewati hutan hanya untuk mencapai seluruh candi. Pengalaman berkuda ini dijamin seru dan tak terlupakan!
3.Trekking
Seperti sudah dijelaskan, lokasi Candi Gedong Songo tersebar di punggung Gunung Ungaran sehingga untuk mencapai kompleks candi pertama hingga kompleks candi terakhir kita harus trekking menyusuri lereng gunung. Jangan khawatir, soalnya pemandangan yang ada akan memanjakan mata. Bonus juga udara pegunungan yang super sejuk.

4.Berendam di Pemandian Air Panas Alami
Memang ada kolam pemandian air panas alami yang berasal dari perut bumi dan mengandung sulfur, sehingga bagus untuk terapi penyakit kulit. Sayang waktu itu kami tidak mencoba berendam disini karena terbatasnya waktu yang kami miliki.

5. Menginap di Homestay
Di tempat ini tersedia pondok-pondok kayu yang dijadikan homestay atau penginapan. Lokasinya ada di dalam kompleks candi. Asiknya, kita bisa memilih sendiri tipe pondok yang kita inginkan lho.

6. Camping 
Males tidur di homestay? Gampang! Ternyata kita bisa camping disini juga. Wah, bakalan asik nih kalo camping rame-rame sama temen-temen.

7. Hunting Foto
Kalau ini sih nggak perlu dijelasin. Di zaman serba media sosial seperti sekarang, setiap sudut nampaknya bisa jadi lokasi pengambilan foto yang menarik. Terlebih lagi perpaduan bangunan candi, hutan yang rimbun, serta pegunungan membuat lokasi ini sangat fotogenic.

Gimana, seru kan ? Buat kalian yang pengen kesini juga, aku kasih tahu rutenya kalau dari Jogja ya. Maklum aku dating dari Jogja.

Rute Menuju Candi Gedong Songo

Dari Jogja ikuti jalan menuju Semarang. Sesampainya di Ambarawa, tak jauh dari Wisata Palagan Ambarawa akan ada pertigaan yang sering dijadikan tempat mangkal angkot menuju Bandungan. Belok ke kiri, lurus terus sampai menemukan pertigaan Bandungan, belok ke kiri dan lurus terus sampai POM Bensin Palbapang Sumowono. Nanti akan ada pertigaan, belok kanan dan lurus terus hingga sampai kawasan wisata Candi Gedong Songo.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Candi Gedong Songo mulai dibuka jam 06.00 dan tutup pada pukul 17.00 wib.

Harga tiket masuk Candi Gedong Songo:

Wisatawan Domestik Rp.6.000 (Senin sampai Jumat) dan Rp.7.500  (akhir pekan & libur nasional)
Wisatawan Mancanegara Rp. 35.000


Senin, 11 September 2017

Mengenang Kejayaan Pabrik Gula Gondang Winangoen, Klaten

13.30 4 Comments

Sebagai orang Jogja, tentunya jika ingin pergi ke Solo, Surabaya melalui darat aku harus melewati Klaten terlebih dahulu. Tak terkecuali sore itu. Aku yang baru pulang dari nemenin mami dan kakak berburu durian di daerah Klaten, nggak sengaja melihat sebuah kereta lori berhenti di depan pabrik gula Gondang Winangoen, Klaten. Aku yang penasaran segera mengajak kakak untuk memutar balik mobil dan menuju ke pabrik gula yang juga museum tersebut.

Selasa, 05 September 2017

Gua Selomangleng Kediri, Ada di Kota Tapi Terasing

21.35 0 Comments
Sore itu, hari Jumat, aku baru saja kembali dari kantor. Ketika akan mandi tiba-tiba kakak bertanya, "Dek, mau ikut ke Kediri nggak?" tanyanya simpel.

Aku tentu saja bertanya ngapain ke Kediri, ternyata karena pakdeku ingin menjennguk cucunya (keponakanku) yang kemarin terjatuh di sekolah dan jarinya retak.

Jadi rencananya kami berangkat Jumat malam, sampai sana diperkirakan tengah malam karena perjalanan Jogja - Kediri sekitar 7-8 jam. Hari Sabtu dan Minggunya belum ada acara khusus sehingga aku pikir mendingan aku ikut aja, lumayan bisa jalan-jalan. Terlebih minggu ini aku tidak ada acara kemanapun.

Sekitar jam 8 malam kami berangkat dari rumah berlima, aku, kakak, pakde, mbak sepupuku dan suaminya. Kami sempat berhenti buat beli jajanan dan sampai di Kediri sekitar pukul stengah 2 malam. Cepet banget karena selepas bandara Adisutjipto jalanan sepi dan kakak kalo bawa mobil ngebut banget.

Tiba di Kediri

Setelah beristirahat, esok paginya ternyata mbak sepupuku mengajak kami menemui ustadz yang suka bantu kirim doa. Karena males, aku ngajak kakak buat piknik sendiri aja. Kebetulan sepupuku punya motor di rumah. Males bawa mobil meski dipinjemin karena pertama kami ga apal jalan, yang kedua aku mau dateng ke beberapa tempat sekaligus jadi males aja kalo nanti malah macet di jalan.

Tujuan pertama adalah cari makanan. Jadi Kediri ini terkenal dengan oleh-oleh khas tahu pong. Di salah satu tokonya ada yang jual nasi bakar dan lumpia yang menurutku sama kakak enak.

Ada Apa Aja di Kediri ?

Sebelum membahas kemana kami hari ini, aku cerita dulu ya skilas tentang Kediri. Kediri ini kota terbesar ketiga di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang (menurut jumlah penduduk). Kota Kediri terbelah oleh sungai Brantas yang membujur dari selatan ke utara sepanjang 7 kilometer jadi nggak heran kalau kemana-mana kamu pasti melewati jembatan berkali-kali.

Kediri dikenal sebagai pusat perdagangan utama untuk gula dan memiliki industri rokok terbesar di Indonesia yaitu pabrik rokok kretek Gudang Garam yang pabriknya gedeeeeeee banget.

Sebelum berangkat, tentunya aku hunting dulu dong mau kemana. Aku pikir disini nggak banyak obyek wisata, taunya banyak. Ini diantaranya yang bagiku menarik :
  1. Wisata Gunung Kelud Kediri
  2. Gua Selomangleng
  3. Museum Airlangga
  4. Candi Setono Gedong, satu-satunya candi di Indonesia yang ada tepat di tengah kota.
  5. Monumen Simpang Lima Gumul Kediri
  6. Gereja Merah GPIB Kediri, bangunan khas era kolonial
  7. Masjid Agung Kota Kediri
  8. Pusat Tahu Takwa
  9. Gereja Pohsarang
  10. Kebun Bunga Matahari
  11. Gunung Klotok
  12. Taman Wisata Tirtoyoso Park
  13. Konto River Rafting Kediri
  14. Air Terjun Irenggolo
  15. Wisata Alam Air Terjun Dolo
Sebenernya masih banyak, tapi karena keterbatasan waktu aku memilih 4 diantaranya yaitu ke Gua Selomangleng, pusat tahu takwa (buat beli bekal), Gunung Klotok, dan air terjun Dolo.

Gua Selomangleng, Kediri

Gua Selomangleng termasuk objek wisata populer di Kotamadya Kediri yang berada di utara kota tepatnya di Jln. Mastrip, Pojok, Mojoroto, Kota Kediri. Akses jalan raya kesini mulus, banyak angkot dan dekat dengan universitas juga SMA Negeri Kediri. Dinamakan Selomangleng karena lokasinya berada di lereng bukit (bahasa Jawa: Selo = batu, Mangleng = miring). Gua ini ternyata terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, jadi lumayan mencolok dari kejauhan.

Pertama dateng, nyaris nggak ada yang istimewa di gua ini, terlebih guanya cukup kecil. Beberapa meter dibawah mulut gua terdapat beberapa bongkahan batu yang berserakan.
Melongok ke dalam gua, suasana gelap gulita dan aroma dupa cukup menyengat. Jujur ketika masuk aku cukup merinding karena kesan mistis terasa kental sekali saat berada di dalamnya.
Gua ini terbuat dari batuan andesit sehingga menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun stalagmit yang umum dijumpai pada gua-gua alam. Ada tiga ruangan di gua ini, dari pintu masuk terdapat ruangan utama yang tidak begitu lebar dengan sebuah pintu kecil di sisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain dari dalam gua.Selain dupa, di lantai banyak bunga-bunga sajen, juga bekas hitam di beberapa titik yang menyiratkan kalau gua ini sering dipakai bertapa atau tirakat bagi kalangan masyarakat tertentu. Oh iya di bagian dalam gua banyak terdapat relief-relief baik di dinding maupun di bagian atas.

Sementara di bagian depan goa, terdapat pohon uanh cukup unik karena dahannya menjalar dan melilit satu sama lain.

Sejarah Gua Selomangleng

Dari cerita yang aku baca, gua ini dulu pernah digunakan oleh Dewi Kilisuci (putri mahkota Raja Erlangga) sebagai tempat pertapaan. Konon sang putri menolak menerima tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya dan lebih memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara bertapa di Gua Selomangleng.

Goa Selomangleng dilengkapi sejumlah fasilitas seperti kolam renang dengan aneka wahananya dan juga arena bermain anak. Berhubung kami datang hari Sabtu, lokasi wisata ini sepi banget. Bahkan pas kami disana selama sekitar 2 jam, hanya ada 9 pengunjung yang datang (termasuk kami).

Selesai mengelilingi gua, sebelum pulang aku mengajak kakak masuk ke msueum Airlangga yang tak jauh dari lokasi gua. Sedikit miris karena saking sepinya, petugas museum sampai ketiduran di kursi. Ya memang hawanya juga mendukung sih, bangunan museum ada di bawah pohon besar dan jendela museum besar-besar sehingga udara segar bebas masuk. Aku aja jadi ngantuk dan pengen pasang hammock di bawah pohon trus mager.

Selain ke gua, kalo niat kita bisa naik ke Gunung Maskumambang yang ada di samping Museum Airlangga. Untuk naik gunung nggak perlu susah juga soalnya udah dibangun tangga untuk naik ke atas. Berhubung waktu itu udah jam 1 siang tentu panas banget, jadi kami cukup di gua dan museum aja. Setelah itu kami menuju Gunung Klothok yang dipuncaknya terdapat sumber mata air yang bernama 'Elo'. tapi karena pas mau naik banyak anak-anak muda pacaran (dan serius hawanya panas banget), lagi-lagi kami nggak jadi naik. Apalagi aku udah sering naik gunung, jadi siang itu aku sedikit males untuk berjalan ke atas.

Buat kalian yang mau main ke Kediri, nggak ada salahnya buat kesini. Bisa piknik sambil leyeh-leyeh di bawah pohon dan menikmati udara sejuk.

Lokasi Gua Selomangleng, Kediri :