Follow Me @rezadiasjetrani

Senin, 28 Mei 2018

Rambut Kembali Sehat dan Kuat Berkat Emeron Damage Care Avocado

13.13 6 Comments

Pasti kalian sudah sering mendengar ungkapan bahwa rambut adalah mahkota wanita. Seorang wanita akan bertambah kecantikannya jika rambutnya menarik, indah, dan terawat. Jadi nggak heran kalau sebagian besar wanita mengatakan, Invest in Your Hair, It’s the Crown You Never Take Off. 

Sejak tahun 2008, aku memutuskan untuk mengenakan hijab. Meski demikian, bukan berarti aku tidak perlu perawatan rambut. Justru karena rambut lebih sering tertutup seharian, makin mudah lepek dan berminyak. 

Setelah lulus kuliah, aku pun bekerja sebagai seorang karyawan di perusahaan swasta. Dalam pekerjaanku, aku dituntut bekerja selama minimal 8 jam dari hari Senin sampai Jumat. Aku juga sering bertemu banyak orang dan harus datang ke kantor tepat waktu. Terkadang, ketika buru-buru, setelah keramas aku menggunakan hair dryer supaya rambut bisa cepat kering. Kebayang dong kalau rambut masih basah tapi harus buru-buru ke kantor dan menggunakan hijab ? 

Penggunaan hair dryer ini tidak hanya terjadi sehari-dua hari, tapi hampir setiap hari dan terus-menerus. Akibatnya, lambat laun rambutku jadi kering dan mudah patah. Memang sih, panas dari pengering dan catokan rambut bisa mengikis serum dari rambut, sehingga terlihat kering dan kusam. Akupun menggunakan shampoo yang katanya bisa memperbaiki rambut rusak, tapi ternyata rambutku belum kembali seperti semula. 

Huhuhuhu

Awalnya aku cuek-cuek aja, toh yang tahu kondisi rambutku hanya aku dan keluarga inti saja. Namun sejak memutuskan untuk menikah beberapa bulan yang lalu, timbul kepanikan dalam diriku.  Nggak mungkin dong aku membiarkan suamiku melihat rambutku yang kering dan rusak seperti ini ? Nanti kalau dia mau mengusap rambutku, pasti aku malu sendiri.

Akupun mendengar info bahwa kini Emeron menyediakan perawatan rambut alami selain shampoo yang lebih lengkap dengan manfaat yang berbeda-beda untuk rambut kita. Memang sih, hari gini rambut kita memang perlu perawatan lebih dari sekedar shampoo, karena shampoo aja nggak cukup lho girls


Rangkaian Emeron Complete Hair Care ini ada shampoo, conditioner, dan hair vitamin yang punya fungsi masing-masing. Ketiganya berfungsi saling melengkapi. Shampoo dipakai pertama kali, untuk membersihkan kulit kepala dan rambut. Setelah itu, untuk mengembalikan kelembapan rambut maka aku menggunakan conditioner. Nah, kini aku menambahkan hair vitamin sebagai nutrisi tambahan agar rambut bisa tetap sehat. Akupun memilih Emeron Damage Care Complete Hair Care dengan kandungan alami buah alpukat.

Emeron Damage Care Complete Hair Care

Kandungan alami buah alpukat dan formula active provit amino yang terkandung di dalam shampoo ini terbukti memperbaiki kerusakan kutikula serta melapisi dan melembabkan permukaan setiap helai rambutku.

Aku pun menggunakannya secara rutin minimal 2 hari sekali dan mengurangi penggunaan hair dryer. Beruntung, baru rutin memakai selama 2 minggu, rambutku kini makin membaik. Rambut terasa makin lembut dan juga tidak sekering dulu. Jadi makin pede kalau nanti rambutku diusap-usap sama suami.


Aku sudah membuktikan. Kini saatnya kalian #CobaEmeron juga yuk girls ! Saatnya kalian #DengarkanRambutmu, siapa tahu rambutmu juga butuh perawatan lebih. 

Jumat, 18 Mei 2018

Menyeberangi Jembatan Maut Pantai Timang, Berani ?

07.54 0 Comments

Rasakan sensasi hempasan angin dan ombak dengan menyeberangi jembatan menuju Pulau Timang
Pantai Timang terletak di Dusun Danggolo, Desa Purwodadi, kecamatan Tepus, Kabupaten. Gunungkidul. Jaraknya sekitar 60 km dari pusat kota Yogyakarta, bisa ditempuh dalam waktu  2 jam perjalanan.
Pasir putih pantai Timang nampak dari kejauhan.
Pantai yang terletak diantara Pantai Siung dan Pantai Sundak ini sama seperti pantai-pantai lain di kawasan Gunungkidul, memiliki pasir yang putih. Namun wisata utamanya adalah karang di tengah laut yang disebut Pulau Timang, yang hanya bisa ditempuh dengan menaiki gondola (kereta gantung) atau jembatan.


Rute Menuju Pantai Timang

Akses jalan menuju pantai ini memang cukup sulit. Sebab, jalan ke arah pantai ini masih banyak yang belum diaspal, lokasinya pun cukup terpencil. Jarak dari kota Wonosari sampai sampai Pulau Timang sekitar 35 km. Rute yang bisa kalian pilih adalah menuju pusat kota Wonosari – menuju ke arah Pantai Baron – Pertigaan Mulo – menuju ke arah Pantai Siung – Pasar Dakbong – melewati jalanan berbatu – tiba di Pantai Timang.

Jika kalian mau melewati jalur pantai selatan juga bisa, namun kalian akan menemui pos retribusi dan dikenai tarif Rp 10.000,00 orang. Nantinya kalian akan melewati sejumlah pantai populer seperti Baron, Kukup, Krakal, Indrayanti, dan pantai Sepanjang.

Oh iya, jalan masuk dari jalan utama ke pantai ini ada 3 (namun ujungnya satu). Pilih jalan yang paling ujung karena aspalnya paling lumayan. Sedang 2 jalan sebelumnya langsung bertemu cor beton dan jalan berbatu.

Di beberapa titik pengunjung akan dicegat oleh warga lokal yang menawarkan jasa ojek. Jika kalian kurang yakin dengan kondisi kendaraan kalian, dipersilakan menggunakan jasa ojek dengan tarif mulai dari Rp 50.000,00 PP per orang. Ada ojek motor dan ada ojek mobil yang sebagian besar jenis Suzuki Katana yang dimodifikasi.

Tarif tersebut cukup masuk akal mengingat kondisi jalanan yang bisa kusebut parah, bebatuan dipadu dengan tanah yang licin berlumut. Pastikan ban mobil dalam kondisi prima dan juga bensin terisi penuh atau cukup untuk PP ya.

Tarif Gondola dan Jembatan di Pantai Timang


Sekitar 3 tahun yang lalu, aku pernah datang ke pantai ini. Waktu itu menyeberang menggunakan gondola masih dipatok sekitar Rp 200.000,00. Namun sore kemarin (Mei 2018), ternyata sudah dibangun jembatan disamping gondola. Pengelolanya pun berbeda. Jika naik jembatan dipatok tarif Rp 100.000,00 PP, sudah termasuk asuransi dan 1 orang pemandu. Sedang tarif gondola adalah Rp 150.000,00 PP termasuk asuransi. Lumayan sih ya harganya, kalian tinggal memilih yang mana.
Kami memilih naik jembatan saja
Tiket karcis 
Tarif masuk ke pantai ini sendiri belum ada, pengunjung hanya dikenai tarif parkir Rp 10.000,00 untuk mobil dan Rp 5.000,00 untuk sepeda motor.


Sore itu aku datang berempat bersama om kumis dan teman SMA-nya yakni Ican yang mengajak istrinya, Inez. Aku dan om kumis memutuskan untuk naik jembatan saja biar bisa foto-foto dan bikin video. Sedangkan Ican dan istrinya, Inez kurang tertarik menyeberang karena melihat ombak dan angin yang cukup besar. Akhirnya mereka duduk di warung-warung yang sudah tersedia di tempat tersebut.

Awal Mula Dibuatnya Gondola

Pulau ini disebut sebagai tempat terbaik untuk mencari hasil laut terutama lobster. Hasil laut inilah yang memiliki nilai jual sangat tinggi, sehingga membuat mayarakat setempat rela bersusah payah dan berjuang untuk menuju kesana dengan medan berbahaya.

Untuk sampai kesini butuh perjuangan. 
Mengapa menggunakan gondola ? Karena ganasnya arus dan ombak pantai selatan dan juga sejumlah batu karang cukup membahayakan nelayan untuk bersandar di pulau ini. Juga tidak memungkinkan mereka untuk membawa wisatawan ke pulau ini, jadi satu-satunya jalan adalah membangun gondola.

Oh iya, baik gondola dan jembatan di Pantai Timang ini dibuat menggunakan tali tambang karena dirasa lebih kuat dalam menghadapi air laut yang bersifat korosif. Tentunya lebih aman dan juga awet dibanding menggunakan sling yang terbuat dari besi/ baja.

Sebelum menyeberang, kalian juga harus tahu jika gondola kayu yang tersedia bukanlah fasilitas penunjang wisata yang disediakan pemerintah. “Wahana” ini murni alat transportasi dan penunjang kehidupan warga sehari-hari untuk mencari lobster.

Jadi, dulunya, gondola tersebut dibuat oleh 6 orang, ada Pak Siswanto, Pak Warno, Pak Sartono, Pak Warsito, Pak Supriyanto dan Pak Tukijan sekitar tahun 1997,  membutuhkan waktu sekitar 3 minggu. Waktu itu mereka naik kapal dari pantai Siung, kemudian Pak Warno selaku mantan pelaut berenang dari tengah sembari membawa tambang untuk mulai mamasang tali.

Karena potensi wisatanya yang besar, akhirnya gondola ini dijadikan wisata mulai tahun 2012 lalu. Sedangkan jembatan sendiri baru ada semenjak tahun 2016 yang dipasang dengan cara yang sama.

Fasilitas Wisata Pantai Timang

Meski belum bisa dikatakan baik, namun mengingat kondisi jalannya yang cukup jelek, fasilitas disini sudah cukup memadai. Tersedia parkir sepeda motor dan juga mobil yang lumayan luas, toilet, gazebo, juga sejumlah warung makan yang menjual ramesan hingga kelapa muda.

Ingin Makan Lobster di Pantai Timang ?

Jika kalian ke Pantai Timang, tentunya wisata kuliner yakni mencicipi lobster tak boleh dilewatkan. Namun sore itu kami tidak mampir karena Ican dan Inez harus buru-buru ke Solo. Namun buat kalian yang penasaran, kalian bisa mengunjungi rumah Pak Siswanto. Katanya sih ada kolam penangkaran lobster di sana.

Untuk harganya sendiri juga lumayan, berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu per kilogram bahkan bisa lebih. Waduh, lumayan banget ya harganya ! Biasanya, satu kg lobster bisa terdiri dari tiga sampai tujuh ekor, tergantung besar kecilnya lobster.

Lain kali kalau kesini lagi aku kudu mampir. Semoga ada yang mau nraktir sekalian, hehe.

Lokasi Pantai Timang : 

Rabu, 02 Mei 2018

Jacuzzi Gunung Peyek yang Kini Tinggal Kenangan

11.09 0 Comments
Beberapa hari yang lalu, mumpung liburan, om kumis mengajakku untuk berendam air panas di jacuzzi alam Gunung Peyek yang pernah dia datangi tahun lalu. Konon sih tempatnya di tengah sawah jadi dalam bayanganku bakalan kece banget. Terlebih foto yang ia tunjukkan membuatku bersemangat buat kesana.
Foto jacuzzi alam di Gunung Peyek dari om kumis @xspheriksx
Membayangkan datang di pagi hari lalu berendam di air panas, harapanku pegal-pegal bakalan ilang nih. Maklum, belum punya mesin cuci jadi 2 hari sekali ngucek baju sendiri sama punya suami. Berendam air panas kan salah satu terapi alami untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan meregangkan otot-otot yang kaku dan kencang. Cocok nih buat aku. Kalau belerang sendiri diketahui ampuh menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Alhamdulillah aku nggak punya penyakit kulit, tapi jerawat sih banyak, hehe.

Dari yang aku baca, ada tiga lubang yang membentuk kolam alami air panas yang mengalir sepanjang tahun dengan bau belerang yang cukup menyengat. Ya, kawasan Gunung Kapur Ciseeng Bogor memang sudah dikenal sebagai tempat wisata sekaligus tempat pemandian air panas di perbatasan Bogor dan Tengerang Selatan.

Perjalanan pun dimulai. Kami berangkat dari rumah kami di Pamulang sekitar pukul 8.30 pagi. Kesiangan sih sebenernya, tapi nggak papa lah. Semoga nggak terlalu macet, terlebih di pasar Parung.

Cara Menuju Mata Air Panas Gunung Peyek Ciseeng Bogor

Untuk menuju kesini cukup mudah. Di google map udah ada rutenya. Kami melewati Bojong Gede - Jalur Billabong - Jalan Raya Parung - Ciseeng. Siap-siap menguji kesabaran di area Pasar Parung. Selain banyak angkot yang "ngetem" seenaknya, bau sampah dan bau ikan akan tercium di beberapa titik.

Kalau kalian sudah sampai di Pasar Parung, kalian belok kanan lewat pasar lalu tinggal lurus terus sampe ketemu perempatan. Nanti belok ke kanan, lurus, hingga kalian sampai di pemandian air panas Tirta Sanita Ciseeng ( ada di sisi kanan). Nah dari situ kalian maju sedikit sampai ketemu pertigaan kecil, belok kanan.

Setelah belok kanan tadi, suka ada gerombolan pemuda yang meminta biaya retribusi (entah resmi atau tidak karena mereka hanya asal menyetop), namun aku malas berhenti jadi bablas saja. Ikuti jalan terus hingga menuju markas TNI. Gunung Peyek ini memang berada di belakang area komplek Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia) TNI.

Lokasi Mata Air Panas Gunung Peyek

Lokasi mata air panas Gunung Peyek ini memang tak terlalu jauh dari tempat wisata air panas Tirta Sanita. Hanya saja memang lokasinya belum terdapat papan petunjuk yang jelas. 

Jika sudah memasuki gapura komplek TNI, tinggal ikuti jalan hingga bertemu pertigaan kecil, lalu belok kanan melewati waduk buatan. Jika sudah menemukan rumpun bambu, ikuti saja terus jalannya hingga nyaris ke ujung tikungan. Nanti sebelum tikungan ke kiri, kalian belok kanan ke arah rumah warga dan parkir di rumah terakhir sebelum sawah.

Akses jalan kesini juga memungkinkan untuk dilewati oleh kendaraan roda empat jadi lebih baik naik sepeda motor saja. Kalau naik mobil nanti repot putar baliknya.

Oh iya, sebenarnya kalian juga bisa masuk kesini dari wisata Tirta Sanita Ciseeng, bayarnya 15ribu. Itupun kalian masih jalan kaki ke Gunung Peyek, namun petunjuknya cukup jelas, tanya saja  sama satpamnya.

Tapi kalau dari rute yang kuberitahu ini, masuknya gratis, hanya bayar parkir Rp 5.000,00 saja. Setelah itu tinggal jalan kaki menyusuri pematang sawah.
Menyusuri pematang sawah. Hati-hati sama katak dan ular sawah ya.
Dari kejauhan, Gunung Peyek sudah terlihat dengan jelas. Daripada gunung, aku rasa tempat wisata ini lebih cocok disebut bukit, atau malah gundukan kapur di tengah sawah.
Gunung Peyek yang sudah nampak dari kejauhan.
Setibanya disana, tak ada satupun pengunjung dan jacuzzi yang ada di foto om kumis sudah menjadi kubangan air dengan warna hijau bercampur buih kecoklatan yang mengerikan. Ini sih bukannya menyembuhkan penyakit kulit, yang ada malah jadi sakit kulit. Tak hanya itu, demi menjaga keselamatan, kubangan ini ditutupi dengan teralis besi seperti gambar di bawah ini.
Jacuzzi alam yang kini dipasangi teralis besi.
Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.  Dari atas, nampak di bagian bawah sedang dibangun kolam-kolam kecil yang berjumlah tujuh buah. Ada satu buah kolam yang bahkan dibentuk seperti hati atau lambang cinta. Ini kalau penuh terus berendam deketan seperti ini apa kabar ya, bisa sambil ngobrol sama tetangga di kolam sebelah kayaknya.
Kolam-kolam kecil yang sedang dibangun.
Setelah puas melihat-lihat, akhirnya aku duduk di bawah pepohonan dan ternyata ada taman bunga berukuran kecil di dekatnya. Tak lama kemudian, akupun kembali ke rumah setelah gagal berendam air panas. Yah, memang kadang kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Lokasi Gunung Peye, Ciseeng, Bogor :



Selasa, 01 Mei 2018

Setengah Hari di Bogor, Kemana Aja ?

13.00 0 Comments
Sejak pindah ke Pamulang mengikuti suami, si om kumis, kami lebih mudah menghabiskan waktu bersama ketika  akhir pekan. Kalau dulu minimal sebulan sekali baru ketemu, sekarang bisa tiap hari dan tiap akhir pekan selalu jalan-jalan.

Minggu ini kami memutuskan untuk ke Kebun Raya Bogor. Bukan apa-apa, soalnya aku belom pernah. Selama ini cuma lewat dan muterin aja tapi nggak masuk.

Ke Kebun Raya Bogor? Ngapain ? Paling juga melihat pohon-pohon, tidak ada yang aneh dan menarik. Eits jangan salah! Ternyata setelah masuk, banyak hal menarik lho yang bisa kita temui. Ada apa aja sih ? Yuk baca kisah perjalananku berikut ini.
Bisa leyeh-leyeh di tepi danau.
Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di tujuan. Tarif untuk masuk Kebun Raya Bogor ini adalah Rp 14.000,00 per orang dan Rp 5.000,00 untuk parkir kendaraan roda 2.

Tempat ini sangat luas, kalau kalian malas berjalan kaki, bisa menyewa sepeda kayuh seharga Rp 15.000,00 untuk durasi 1 jam. Lebih enak lagi kalau naik roda empat. Di hari biasa pengunjung bisa masuk dan berkeliling nenggunakan mobil mengikuti jalur yang sudah ada. Namun di hari Sabtu dan Minggu tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya pengunjung bisa naik mobil wisata yang sudah disediakan.

Di Kebun Raya Bogor ini selain terdapat Istana Presiden (kita tidak bisa masuk lewat depan, jadi hanya berkeliling di bagian belakang istana dan dibatasi kolam), ada juga museum Istana (kalau mau masuk harus mengajukan surat kunjungan terlebih dahulu), museum Zoologi, makam Belanda, restoran bernama Grand Garden Cafe and Resto, mushola, masjid, jembatan gantung, toko souvenir, juga berbagai macam taman yang sering digunakan untuk piknik dan berkumpul bersama keluarga.

Terdapat pula sejumlah patung ataupun tugu yang tersebar di beberapa titik. Diantaranya ada patung Patung Tangan Tuhan yang berbentuk sebuah tangan sedang menjunjung postur seorang laki-laki yang menengadahkan kepala dengan mulut terbuka. Ada pula patung The Little Mermaid alias Si Duyung Kecil yang wujudnya seperti seorang gadis yang sedang merenungi sesuatu sambil menatap riak air.

Begitu masuk melalui pintu utama ke dalam kebun raksasa yang memiliki 15,000 spesies tanaman ini, kita akan melihat Monumen Lady Raffles. Ketika melihat puisi pada prasasti yang terdapat dalam bangunan bercungkup ini, pasti hati kita akan “meleleh”. Membayangkan sepasang insan yang begitu menyayangi tetapi maut memisahkan mereka.
Monumen Lady Raffles. Duh sayang banyak dedaunan di sekitarnya.
Tak jauh dari situ, kalau lurus, kita akan menemui Danau Gunting. Berjalan sedikit ke arah dimana terlihat menara dari Istana Bogor, nampak sebaran Nymphaea Alba dan Rubra (alias Teratai atau Lotus) berwarna pink yang amat indah.

Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan ke arah komplek pemakaman Belanda kuno. Rimbunnya pohon bambu membuat suasana di sekitar komplek gelap karena cahaya matahari sulit menembus tebalnya rumpun bambu. Ada makam yang usianya bahkan lebih tua dari kebun raya ini sendiri, lho !
Kompleks makam Belanda.
Tak jauh dari makam, ada sebuah taman bernama Taman Teijsman. Di bagian tengahnya ada sebuah tugu berbentuk obelisk yang seakan menjadi pusat dari sekitarnya. Tugu itu disebut dengan Tugu Teijsman.


Tinggal milih mau santai dimana.
Seusai dari Taman Teijsman, aku mampir ke toko souvenir. Sebenarnya ingin ke museum Zoologi tapi waktu yang kumiliki terbatas. Di toko ini terdapat aneka bibit tanaman maupun tanaman dalam pot yang bisa kita beli dengan harga terjangkau. Tersedia pula tas, kaos, mug, magnet kulkas, hingga gantungan kunci khas Kebun Raya Bogor.
Souvenirnya komplit dari tanaman sampai kaos.
Selesai membeli souvenir, aku melanjutkan perjalanan ke jembatan merah yang dikenal dengan sebutan "Jembatan Pemutus Cinta." Bentuknya hanya seperti suspension bridge atau jembatan bersuspensi dimana rangka jembatan tergantung pada kawat tebal seperti umumnya. Dicat berwarna merah dengan panjang kurang lebih 25-30 meter, jembatan ini dibangun pada saat bersamaan dengan perluasan Kebun Raya Bogor ke arah Timur. Konon, katanya pasangan belum menikah yang melintasi jembatan diatas sungai Ciliwung ini tidak akan awet hubungannya alias putus jika melintas bersama. Untung aja pasanganku sudah distempel halal sama KUA, jadi aman.
Alhamdulillah halal.
Puas foto-foto, saatnya bersantai di rerumputan luas di depan Grand Garden Cafe and Resto. Beberapa patung bernuansa Eropa tampak di bagian muka. Bagian tepinya, ornamen bernuansa khas Indonesia. Payung-payung merah peneduh meja dan kursi di teras kafe kontras dengan hijau rumput tebal di area terbuka di hadapannya.
Restoran bernuansa Eropa 
Berhubung belum terlalu lapar, aku dan om kumis rebahan manja diatas rumput saja. Disini banyak orang yang bersantai juga. Anak-anak kecil berlarian kesana-kemari dengan bebasnya.

Setelah dirasa cukup, kamipun memutuskan untuk pulang. Namun masih kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli oleh-oleh. Yah meskipun nggak ada yang dioleh-olehin soalnya kami hanya tinggal berdua. Kami memutuskan untuk membeli roti unyil di toko Venus yang terkenal itu.
Harga rotinya mulai dari Rp 2.000,00
Jangan kaget kalau kesini antriannya udah kayak mau antri beli tiket bioskop, mengular ! Tapi kalian juga bisa pakai jalur cepat dengan membeli paket roti unyil yang sudah dikemas dalam box. Nggak perlu antri dan bisa langsung bayar disitu.


Setelah membeli roti unyil, kalian bisa mencoba makan laksa ataupun toge goreng. Berhubung kami berdua pernah mencoba dan kurang cocok dengan lidah kami, akhirya aku mencari bakso atau mie ayam sedang om kumis maunya ayam bakar.


Ketika ingin mengambil motor, aku melihat ada penjual es pala. Penasaran karena pernah menonton orang meminum es ini di TV, aku membeli 1 gelas es pala seharga Rp 7.000,00. Rasa airnya sih seger, tapi kalau rasa palanya lumayan asing. Tapi worth it kok buat dicoba biar nggak penasaran.

Es pala Rp 7.000,00
Di tengah jalan menuju pulang, aku tak sengaja melihat warung mie ayam bakso dan es bangka di Jln.Sawojajar (seberang parkiran motor Yogya Junction). Warung ini buka dari jam 08.00 pagi hingga 12 malam. Aku memesan seporsi mie ayam bakso pisah dengan pangsit seharga Rp 25.000,00 dan rasanya ternyata cocok dengan lidahku. Super enak ! Oiya, di menu tidak ada daftar harga. Kemarin om kumis iseng pesen es jeruk dan ternyata harganya lumayan mahal.
Mie ayam bakso Rp 25.000,00 , tapi es jeruknya Rp 17.000 00. Sedih akutu :(
Selesai makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah dengan selamat. Masih belum puas mengexplore Bogor, semoga lain kali diberi kesempatan dan kelonggaran waktu jadi bisa explore lebih lama dan lebih banyak.