Follow Me @rezadiasjetrani

Kamis, 21 Juli 2016

Naik Merapi Nggak Ngeri Kok

Sebagai warga asli Jogja, sejak kecil aku sudah terbiasa melihat pemandangan 2 buah gunung yang berdampingan di sisi utara Jogja. Mereka adalah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Gunung Merapi merupakan gunung yang cukup terkenal karena gunung tersebut masih aktif bahkan hingga saat ini. Tak sekalipun terpikirkan di benakku bahwa suatu saat aku akan benar-benar mendaki gunung ini hingga ke puncaknya. 
Ritual pagi hari di gunung, minum segelas teh atau kopi panas 
Mengapa demikian ? Karena di keluargaku tidak ada satu saudarapun yang suka dengan kegiatan alam yang dulu dianggap cukup ekstrim ini. Sekarang, seiring perkembangan zaman, mendaki gunung dianggap mudah seperti hiking biasa dimana semua orang bisa melakukannya. 

Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.930 mdpl. Awalnya terdapat 3 jalur pendakian, yaitu via Selo, Babadan dan jalur Kineharjo. Namun sejak erupsi pada tahun 2010 silam, jalur Babadan dan Kineharjo sudah tidak dipakai lagi dan yang tersisa tinggal via New Selo.

Desa Selo (1.560 mdpl) saat ini menjadi gerbang pendakian utama. Desa Selo terletak dipelana Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Desa ini mempunyai panorama alam yang indah karena letaknya yang strategis dan sebagian besar penduduknya bertani sayuran dan tembakau. Untuk  mencapai desa Selo para calon pendaki dapat melewati jalur Muntilan atau bisa juga lewat Boyolali. 

Rute ke Basecamp Merapi - New Selo dari Jogja : 

Dari Yogyakarta - ke arah Magelang - menuju pasar Muntilan - pelan-pelan hingga melihat klenteng di sebelah kanan jalan - masuk ke jalan didekat klenteng - ikuti terus jalan itu sampai menemukan desa Selo.

Waktu itu aku dan temanku memutuskan untuk menuju basecamp melalui jalur Boyolali yang jalurnya searah dengan basecamp Merbabu. Nama basecamp Merapi via New Selo adalah Barameru. Basecamp ini adalah sebuah rumah dimana terdapat ruang aula yang cukup luas untuk menampung pendaki yang ingin beristirahat, baik sebelum atau setelah melakukan pendakian. Disini kalian juga bisa membeli aneka souvenir berupa pernak - pernik gunung Merapi seperti stiker, gantungan kunci, bahkan kaos bergambar gunung Merapi dengan kisaran harga 3000 - 50.000 rupiah. Jangan lupa mempersiapkan perbekalan air dari sini karena sepanjang pendakian tidak akan ada sumber mata air.

Waktu itu kami sampai di basecamp sekitar pukul setengah 8 malam dan hujan. Belum naik aja hujan, kebayang dong mau jalan aja udah males duluan. Kami memutuskan untuk menghangatkan diri dulu di sebuah warung dengan membeli segelas teh panas dan tempe mendoan yang masih panas karena kami nungguin tempenya digoreng, hehe.

Sekitar jam 9 malam kurang kami mulai berangkat mendaki. Hujan...dan ini gunung Merapi yang katanya nanjak terus dengan sedikit bonus. Glek !

Baiklah.... elus-elus dengkul dulu, 

Oh ya aku sempat membaca tentang rincian lama  pendakian Merapi  Via New Selo, konon pendakian hingga Pasar Bubrah memakan waktu kurang lebih 5 jam dengan rincian sebagai berikut :

1. Basecamp – New Selo (20 menit)
Jalur masih berupa jalan aspal yang menanjak dengan waktu tempuh kira-kira 20 menit  hingga menemukan bangunan seperti rumah joglo yang biasa digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan sekitar dan ada tulisan New Selo yang cukup besar ala-ala tulisan Hollywood.

2.  New Selo – Pos I (2 jam)
Disini kita menyusuri jalan setapak dari cor beton melewati ladang penduduk dengan medan batuan kecil dan tanah yang pada musim kemarau akan sangat berdebu. Kalau mendaki pas musim kemarau, sebaiknya menggunakan masker dan baju lengan panjang. Banyak terdapat percabangan jalur di sepanjang trek pendakian, tapi berujung pada jalur yang sama jadi jangan khawatir. Katanya di pos I ini terdapat sebuah tugu yang letaknya berada di sebuah punggungan, tingginya sekitar 1,5 meter. Tapi berhubung kami lewat di malam hari jadi nggak keliatan.

3.  Pos I – Pos II (1 jam) 
Dari Pos I ke pos II jalurnya curam dan penuh bebatuan besar. Lumayan lah buat manasin kaki.

4.  Pos II – Watu Gajah (1 jam) 
Disebut demikian karena nantinya kalian akan melwati area yang dipenuhi dengan batu-batu raksasa seukuran gajah. Kalau udah sampai sini, perjalanan tinggal sebentar lagi hingga ke Pasar Bubrah. FYI batunya emang gede banget dan ditengah jalan. 

5.  Watu Gajah – Pasar Bubrah (20 menit kalau nggak pakai berhenti) 
Melewati jalur ini adalah bagian yang paling melelahkan bagiku karena sekeliling hanya batuan dan pasir. Terlebih jalannya menanjak terus tanpa bonus dan mata udah mulai ngantuk. Dingin, capek, dan medan berpasir. Pastikan untuk memakai alas kaki yang nyaman dan kalau perlu gunakan pelindung pada sepatu supaya pasir tidak mudah masuk (gaiter). Pada titik ini aku beneran hampir nyerah gara-gara mata udah mau merem, jadi nggak terkumpul semua nyawanya. Belom lagi bawa tas carrier di punggung yang bikin semuanya makin komplit. Kalo aja nemu tempat landai pasti aku udah tiduran trus mager sekalian. Tapi apa daya, full tanjakan sampe atas jadi nggak bisa berhenti.

Nah di titik sebelum memasuki area pendirian tenda, ada beberapa memoriam yang berada pada sebuah dataran (yang menjadi puncak sebuah punggungan) untuk mengenang para korban yang meninggal di gunung ini. Dari sini kami tinggal turun menuju pasar Bubrah. Alhamdulillah sampai juga. 

6.     Pasar Bubrah – Puncak (1 jam)
Tenda warna-warni milik para pendaki
Setibanya di Pasar Bubrah, hal pertama yang harus kalian lakukan adalah mencari lokasi yang nyaman untuk mendirikan tenda. Pastikan membersihkan area dari batu-batu kecil yang berserakan supaya ketika tidur punggung kalian merasa nyaman. Bahkan udah pakai matras aja masih kerasa kok batuan-batuan kecil di bawah tenda. 

Paginya setelah beres-beres dan bersihin muka ala kadarnya, kami bersiap untuk menuju ke puncak. Nggak ada foto sunrise karena kami bukan pengejar sunrise ketika di gunung, tapi kalau dapet ya Alhamdulillah.
Ngeteh dulu
Para pengejar puncak. Jangan ditiru ya.
Perlu diketahui bahwa pendakian hanya diizinkan hingga Pasar Bubrah saja. Jadi tidak disarankan hingga ke puncak karena Gunung Merapi merupakan gunung berapi yang masih aktif sehingga asap yang keluar dari puncaknya cukup panas dan berbahaya jika dihirup terlalu lama.

Perjalananku menuju puncak nyatanya tidak memakan waktu hingga satu jam. Ritme pendakian kami waktu itu adalah naik 3 turun 1, maksudnya naik 3 langkah, melorot ke bawah mungkin sekitar 1 langkah karena medannya yang berpasir jadi wajar kalau melorot-melorot melulu. Pastikan kaki kalian dilindungi dengan gaiter biar tidak mudah kemasukan pasir saat melangkah.
Langit di puncak Merapi yang biru bersih tanpa awan. Masya Allah cantiknya.
Cukup lama kami berada di atas, mungkin hampir satu jam. Bukan apa-apa sih, tapi pemandangan dari atas sini sungguh luaaaar biasa. Langit biru yang bersih, angin yang berhembus sepoi-sepoi, pendaki yang hilir mudik dan naik-turun tanpa henti, juga gunung Merbabu yang berada di seberang kami pun sedang cantik-cantiknya. Siapa yang nggak betah dengan pesona alam yang seperti itu. Maunya bisa diliat tiap pagi deh!

Oh iya, aku juga melihat ada salah satu batu tinggi menjulang yang dikenal dengan puncak tusuk gigi yang merupakan puncak tertinggi saat ini. Waktu liat di akun media sosial sih sempat berpikir, "Wah keren banget nih! Pengen naik ah!" Tapi pas melihat batu itu secara langsung, aku sadar bahwa nyawaku lebih berharga dibanding "foto hits" di dunia maya (karena batunya tinggi meruncing dan kalau salah melangkah atau berpijak bisa wasalam).Tak hanya karena di bawahnya langsung bisa menuju ke kawah, batu-batuan besar pun siap menerima terlebih dahulu. Belum lagi uap panasnya yang makin siang makin mengepul. Duh makasih deh. Mau nikah dulu.

Ya, gunung ini memang sangat berbahaya karena menurut catatan ia mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali. Gunung Merapi dikenal pula sebagai salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia. Nama puncaknya adalah puncak Garuda yang kini telah hilang karena letusan Merapi pada tahun 2010 silam.

Jadi gimana ? Mau naik Merapi juga?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar