Follow Me @rezadiasjetrani

Sabtu, 23 Juli 2016

House of Sampoerna, Nostalgia di "Soerabaja Lama"


Sepulang dari menjalankan ibadah Umroh bersama mami April 2014 silam, setiap 4 bulan sekali diadakan reuni umroh yang sebagian besar selalu diadakan di area Jawa Timur. Hal itu dikarenakan sebagian besar teman-teman umroh kami berasal dari Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, dan Gresik. Kali ini, Juli 2016, reuni umroh diadakan di rumah mas Dika di daerah Dukuh Kupang Surabaya.

Aku berangkat dengan mami naik bis Eka karena katanya lebih deket kalau jemput di terminal dan jam keberangkatannya pun lebih fleksibel karena bis jurusan Jogja-Surabaya selalu ada setiap jam. Sesampainya di Surabaya sekitar pukul 6 pagi dan nunggu dijemput, kami tiba di rumah mas Dika lalu mandi, sarapan, dan siap-siap untuk pergi berkeliling kota Surabaya. Mengingat jalanan di Surabaya yang cukup padat ditambah aku dan mami sama-sama nggak tau jalan, akhirnya aku memutuskan untuk naik motor saja meski sudah ditawari buat naik mobil. Bukan apa-apa, kalau naik motor dan salah jalan kan lebih praktis buat muter balik atau cari jalan alternatif. Kebetulan mas Dika saat itu sibuk jadi nggak bisa nemenin dan malah pas banget kami bisa lebih bebas kalau pergi berdua.

Lokasi Museum House of Sampoerna

Tujuan pertama kami adalah ke museum House of Sampoerna yang terletak di Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya. 
Telepon : +6231 353 9000 
Fax : +6231 353 9009 
website : www. houseofsampoerna.museum

Berbekal google map dan mami sebagai navigator, akhirnya kami sampai di lokasi tersebut. Untung saja kami memutuskan untuk naik motor karena sore itu Surabaya super macet. Terletak di kawasan "Surabaya lama", gedung megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1858 dan memiliki dua buah lantai. Gedung ini sebelumnya digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda, kemudian dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan maksud untuk digunakan tempat produksi rokok pertama Sampoerna.

Ada Apa Aja di Museum House of Sampoerna?

Aroma cengkeh dan tembakau menyerebak ketika aku dan mami memasuki ruangan museum. Lantai pertama digunakan sebagai ruang pamer museum dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat penjualan souvenir dengan berbagai dekorasi artistik.

Bangunan di lantai pertama terdiri dari tiga buah ruangan. Di ruangan pertama terdapat replika sebuah warung sederhana bernuansa ndeso milik pendiri PT Sampoerna, yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Replika warung sederhana itu kayak asli karena ada toples makanan, keranjang buah-buahan lengkap dengan buahnya, juga gundukan cengkeh dan tembakau. Di depan warung terdapat sejumlah karung goni berisi tembakau dari berbagai daerah. Katanya ini adalah contoh tembakau-tembakau terbaik dari berbagai daerah yang nantinya akan diolah menjadi produk rokok keluaran Sampoerna.
Lanjut lagi, kami melihat dua buah sepeda tua yang dulu digunakan pendiri Sampoerna untuk berdagang ketika masih muda. Kedua sepeda ini bisa dikatakan saksi bisu perjuangan Liem Seeng Tee kecil yang memulai hidup mandiri dengan bekerja keras semenjak masih kecil. Wah, salut. Kemudian di bagian paling kanan ruangan terdapat properti ruang kerja dan ruang keluarga Liem Seeng Tee selama menjalankan perusahaannya. Ada pula koleksi kebaya serta foto keluarga dari masa ke masa.

Masuk ke ruangan kedua, berisi koleksi foto-foto keluarga serta direksi PT HM Sampoerna dari masa ke masa. Ada juga koleksi alat pemantik rokok dengan berbagai macam bentuk dan aneka gambar pembungkus korek api batang (kalau aku menyebutnya korek jress). Beberapa gambar cukup familiar bagiku karena di rumah kalau beli korek api, sering banget dapet gambar tersebut. Oh iya di ruangan ini juga terdapat kamar mandi yang super klasik. Jadi seperti ke suasana 80-an.  
Lanjut ke ruangan ketiga, kita akan diperkenalkan dengan alat dan bahan untuk meracik rokok. Seperti di ruangan pertama, ada juga replika warung rokok disini. Bentuknya bener-bener membuat kita bernostalgia, mirip seperti warung yang sering kita temui di pinggir jalan pada jaman tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an (ketauan banget ya umurnya). Nggak hanya jualan rokok, warung-warung semacam in5 dulu juga menjual aneka jajanan seperti permen, snack yang digantung di sana-sini, juga beragam minuman ringan.
Jaman dulu, merekalah ujung tombak penjualan rokok keluaran pabrik Sampoerna. tak heran kalau banyak terdapat gerobak warung dengan aneka hiasan Sampoerna di setiap sudut jalan di Indonesia.

Di ruangan ini dipajang pula berbagai macam produk rokok produksi Sampoerna dengan beragam kemasan dari masa ke masa. Termasuk kemasan khusus yang bertuliskan Presiden Republik Indonesia.
Ada koleksi yang cukup unik yaitu peralatan marching band binaan Sampoerna yang memiliki prestasi hingga dunia internasional. Sayang, sejak Desember 1991 kegiatan marching band binaan Sampoerna ini resmi dihentikan. Kita bisa menikmati rekam jejak marching band binaan Sampoerna ini secara lengkap dari layar monitor sentuh yang disediakan.
Naik ke lantai dua, tersedia berbagai macam merchandise berbau Sampoerna. Yang paling keren, kita bisa melihat kegiatan para pekerja pabrik yang sedang melinting rokok. Hampir semuanya adalah perempuan lho. Kecepatan mereka dalam melinting rokok juga sangat luar biasa. Konon dalam waktu satu jam mereka dapat melinting sekitar 325 buah batang rokok. Aku yang melihat secara langsung benar-benar dibuat takjub dan tak berkedip saking cepatnya dan semua begitu teratur, terstruktur, seperti mesin. Sayangnya, di lantai dua ini kita tidak boleh mengambil gambar, jadi buat kalian yang penasaran, kalian harus dateng sendiri kesini ya. Puas menyaksikan kesigapan para pekerja, aku dan mami tak lupa berbelanja souvenir yang ada di lantai 2.

Waktu Buka Museum House of Sampoerna

Museum House of Samperna buka dari hari Senin sampai Minggu dari pukul 09.00 sampai 22.00 WIB dengan tarif masuk gratis.

Fasilitas di Museum House of Sampoerna

Tentunya museum ini memiliki fasilitas umum seperti toilet bersih, taman, dan juga cafe (terletak di bagian luar museum). Namun ada satu yang menarik.

Apa itu ?

Disini kita bisa naik bis wisata gratis ! Waaaaah asiknya ! Sayang waktu aku kesini, belum bisa mencoba fasilitas ini karena seat yang kosong adanya yang keberangkatan terakhir dan itu lumayan lama dari waktu kedatanganku. Sedangkan aku masih memiliki destinasi lain yang ingin kudatangi. Buat kalian yang mau naik, paling aman registrasi dulu ya atau daftar walk in sepagi mungkin.

Info Tentang Surabaya Heritage Track

Ada 3 tahap pemberangkatan bus, untuk weekend:

    Jam 09.00 wib dengan rute: Balai Pemuda, Balaikota, dan De Javesche Bank
    Jam 13.00 wib dengan rute: Tugu Pahlawan, GNI (Gedung Nasional Indonesia), dan PTPN XI.
    Jam 15.00 wib dengan rute: Eks Keraton Surabaya, Balaikota, dan Cak Durasim.

Sedangkan jadwal bus weekdays:

    Jam 09.00 wib dengan rute: Tugu Pahlawan dan PTPN XI
    Jam 13.00 wib dengan rute: Klenteng Hokan Kiong dan Escompto Bank
    Jam 15.00 wib dengan rute: Kantor pos Kebon rojo, Gereja Kepanjen, dan De Javesche Bank.

Untuk reservasi hanya dibatasi 10 seat saja, selebihnya disediakan untuk walk in ya teman-teman.

Katanya, selama hampir 1,5jam - 2 jam kita akan diajak berkeliling sejumlah lokasi bersejarah sambil dipandu seorang pemandu yang akan bercerita mengenai sejarah singkat gedung yang kita kunjungi atau kita lewati. Pemandu ini menjelaskan dalam 2 bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Titik keberangkatan dan juga titik akhir pemberhentian ada di museum ini. Duh, semoga lain kali ada kesempatan buat nyobain naik bis ini keliling Surabaya deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar