Follow Me @rezadiasjetrani

Jumat, 30 Desember 2016

Tiktok Gunung Andong

Good morning.
Pagi itu, Sabtu 17 Desember kemarin, Husna temanku disebuah komunitas menghubungiku via WA dan mengajak untuk mendaki gunung Andong. Sebelumnya aku sudah dua kali mendaki gunung ini sedang Husna empat kali. Jadi ya kami kesini karena memang selo dan nggak tau mau wiken kemana. Berhubung di hari Sabtu aku masih harus kerja sampai jam 13.00 siang, akupun mengiyakan dengan syarat lihat sikon dan cuaca nanti malam. 
Ternyata ketika Magrib Jogja diguyur hujan yang lumayan deras, terlebih jam 7 malam ada final piala AFF 2016 leg kedua Thailand vs Indonesia yang berujung dengan kekalahan timnas kita (sad). Huft. 


Jam stengah 8 malam lewat, Husna yang bete karena skor sementara sudah 2-0 memutuskan untuk kerumahku. Akupun segera mandi dan bersiap-siap karena belum packing sama sekali. Kami berangkat dari rumah jam 9 malam dan hanya berdua karena rencana kami mau tidur di basecamp dan naik jam 3 pagi - lihat sunrise - ngeteh cantik - turun -  tidur sebentar di pos 1 di hutan pinus - kembali ke rumah. Kalo rame-rame ntar ribet dan malah molor-molor. Setelah selesai packing dan beres-beres properti foto, kamipun berangkat.

Sekilas info tentang Gunung Andong :
Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan belum pernah mempunyai aktivitas meletus serta merupakan salah satu gunung paling ramah untuk pendaki pemula. Terletak di antara dusun Ngablak dan Tlogorejo, Grabag dengan ketinggian maksimal 1.726 mdpl. Meski rendah, pemandangan yang disajikan oleh Gunung Andong tak kalah memukau dengan gunung-gunung lain yang memiliki ketinggian lebih dari 3.000 mdpl lho. Salah satu tujuan wisata alam di lereng Gunung Andong yang dapat disinggahi adalah Hutan Wisata Mangli (aku pernah camping ceria disini, nanti kapan-kapan aku tulis ceritanya ya).

Menurut info yang pernah aku baca, gunung ini disebut gunung Andong karena bentuknya yang mirip dengan punuk/ punggung sapi, makanya disebut dengan nama Gunung Andong. Gunung ini memiliki empat puncak, yaitu Puncak Makam, dimana terdapat sebuah makam diatasnya, Puncak Jiwa yang merupakan area camping ground favorit para pendaki, Puncak Alap-Alap dan yang terakhir adalah Puncak Andong yang merupakan puncak tertinggi.

Dari Gunung Andong kita bisa melihat banyak gunung seperti Gunung Merbabu yang menjulang tinggi di depan mata, Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo dan Gunung Sumbing Sindoro  serta Prau dari kejauhan.

Cara Menuju ke Basecamp Gunung Andong dari Yogyakarta

Dari Jogja aku dan Husna pergi naik motor dan kami membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai basecamp pendakian Gunung Andong di kecamatan Ngablak. Seperti biasa, Husna maunya bonceng dan terima beres aja. Dulu setauku hanya ada dua jalur untuk kesini yakni basecamp Sawit dan Dusun Pendem. Kemarin pas lewat ada juga yang dari Gogik. Dari ketiga jalur pendakian tersebut, jalur Sawit merupakan jalur terpopuler dikalangan pendaki. 

Karena kami berdua taunya hanya via Sawit, akhirnya kami memutuskan lewat sana saja toh jalannya dini hari, takut nyasar. Dari Jogja kami lurus ke utara menuju arah pertigaan candi Borobudur → lurus terus sampai perempatan mall Artos → kemudian belok kanan →  menuju terminal (kalau nggak salah Tidar) Magelang → belok kanan di pertigaan setelah lampu merah Canguk → menuju ke arah Kopeng/ Ketep hingga sampai di Pasar Ngablak → lewat Pasar Ngablak lurus terus → Belok kiri di gapura yang kedua (ada plang nya) → sekitar 2 KM kita akan melihat pertigaan  (perhatikan plang penunjuk jalan) → jika belok kiri akan menuju basecamp Dusun Sawit, sedangkan lurus akan menuju ke basecamp Dusun Pendem. Terserah kalian mau memilih yang mana, setelah itu tinggal ikuti saja jalan tersebut hingga kalian sampai di basecamp.

Oh iya soal gapura di kiri jalan, sekarang ini ada dua akses masuk dari jalan utama. Kalau kalian lewat gapura pertama (patokannya ada masjid di kanan jalan), nanti jalannya akan sedikit berkelok-kelok, sedang kalau lewat gapura kedua (patokannya di sebelah kanan jalan ada rumah makan padang), jalannya tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan terus ke kiri. 

Sesampainya di basecamp, nampak parkiran kendaraan cukup penuh. Sudah kami duga sih soalnya ini malam minggu. Kami yang jomblo hanya bisa tertawa ketika menyadari bahwa kami hanya naik berdua sedang yang lain banyak yg berpasangan. Ngenes. Berhubung kami mau mendaki jam 3 dini hari, setelah mengisi perut dengan seporsi nasi rames seharga Rp 7.000,00 (murah banget, itu udah sama telor dadar), kamipun memutuskan untuk segera tidur. Oh iya sebelumnya kami sempat mengobrol dengan sejumlah akamsi (anak kampung sini) dan mereka juga mau tiktok seperti kami. Karena mereka gamau tidur, aku sempet minta tolong buat dibangunin jam 3 pagi besok. Takut bablas, meski Husna sudah menyetel weker jam stengah 3 pagi.

Paginya jam 3 kurang, ternyata mereka benar-benar membangunkan kami. Berhubung mata masih lengket, aku pun mempersilakan mereka untuk jalan duluan dan kami menyusul saja di belakang. Setelah wudhu (biar nanti pas masuk waktu Subuh bisa shalat di tengah perjalanan), beres-beres dan membayar retribusi pendakian sebesar Rp 7.000,00 per orang, kamipun segera berangkat. Terakhir kesini sekitar dua tahun lalu dan pintu gerbang pendakian sudah banyak berubah jadi lebih cakep. Berikut penampakannya (aku foto pas udah turun).
Noleh dikit, cekrek. 
Jalannya udah mulus. nampak puncak Andong di bagian belakang
Jalan mulusnya berakhir disini. Selanjutnya adalah trek tanah dan mulai mendaki.

Rute Pendakian Gunung Andong

Menuju puncak gunung Andong, kami melewati 2 pos selama pendakian. Pada awal pendakian kami melewati hutan pinus menuju Watu Pocong (jangan tanya kenapa namanya begitu). Trek pendakian Gunung Andong ini banyak didominasi oleh tanah liat dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Jarang sekali dijumpai trek batu dan minim bonus. Waktu itu yang jalan pagi lumayan sepi, ada empat orang laki-laki sebelum kami dan ada empat lagi di belakang kami dengan jarak yang lumayan jauh. Kami mulai berjalan sekitar pukul 03.30 pagi. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai pos 1 yakni Gili Cino. 


Jangan sampai kalian lurus karena itu jalan buntu. Pas jalan  pagi itu aku sempet nyasar karena nggak liat plang ini. 
Basecamp - pos 1, 30 menit
Pos 1 - Pos 2, 10 menit (foto diambil ketika turun)
Sampai di pos 2 , kami memutuskan untuk shalat subuh terlebih dahulu bersama empat orang yang tadinya di belakang kami. Berhubung tujuan kami sama, akhirnya kami pun jalan bersama sembari mengobrol. Ternyata mereka rombongan dari Ambarawa dan merupakan pendaki-pendaki senior (maksudnya udah hampir khatam gunung-gunung di Jawa, apalagi Jawa Tengah).




Setelah melewati pos 2 menuju Watu Wayang (di peta yang lama, Watu Wayang katanya adalah pos 2), kami melewati sebuah sumber air. Sumber air ini dialirkan melalui sebuah pipa yang airnya mengalir kemana-mana,jadi hati-hati saat melewati bagian ini karena bikin treknya jadi cukup licin. 
Sumber mata air
Contoh akamsi 
Setelah melewati mata air tersebut kami (seharusnya) sampai ke Watu Wayang. Waktu itu aku tidak melihat tulisan apapun yang menunjukkan lokasi Watu Wayang, tetapi memang ada sebuah lokasi yang dipenuhi batu-batu dan memiliki view yang cukup indah. Dari pos 2-Watu Wayang hingga puncak kami memakan waktu 30 menit sehingga total pendakian Andong ini hanya 1 jam saja. Oh ya, jangan heran kalau nanti pas kalian turun, akan menjumpai sejumlah anak kecil bersama teman-temannya yang mau naik ke puncak Gunung Andong. Nggemesinnya, mereka bahkan tidak membawa apa-apa selain botol air mineral buat rame-rame, sedang banyak pendaki dewasa yang jutsru membawa tas carrier besar-besar.


Puncak pertama, puncak Makam

Puncak dan Area Camping Gunung Andong

Gunung Andong memiliki empat buah puncak yakni Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong dan Puncak Alap-alap. Jika kalian langsung menuju ke puncak Andong, kalian akan melewati Puncak Jiwa terlebih dahulu. Puncak Makam berada di sebelah barat, sedangkan Puncak Alap-alap berada di ujung timur.
Makam Joko Pekik. Waktu itu ada seorang anak muda yang membersihkan lokasi sekitar makam.
Makamnya ditutupi kain hijau
Bukan cuma Lawu yang punya warung di puncaknya, Gunung Andong juga punya. Bisa nebeng tidur kalau malas bawa tenda, paginya bisa langsung pesen sarapan dan kopi atau teh panas.





Minum susu sambil makan mendoan panas dulu di
puncak Jiwa
Alhamdulillah cerah
View dari Puncak Andong. Gunung Sindoro, Sumbing, dan Prau di kejauhan.
Jembatan setan (belakang saya Puncak Alap-Alap)
Nah, jalan yang di depanku itu disebut jembatan setan.
Tim hore yang tadi ketemu di pos 2 dan bantu ngisi angin buat laybag kami. Ini lokasinya sebelum puncak Alap-Alap
Mau kemana ?
Mager disini soalnya puncak Alap-Alap rame
Leyeh-leyeh sama Husna sambil nggosip. Bahagiyak!
Yang lain bongkar tenda, kami nyusu aja. 
Setelah melihat banyak pendaki yang turun dari puncak Alap-Alap, kami memutuskan untuk menuju kesana. Rombongan 4 mas yang tadi naik bersama kami memutuskan untuk turun karena sudah jam 9 kurang dan cuaca sudah mulai panas. Kami pun berpisah disana dan berjalan ke puncak Alap-Alap sambil gotong laybag (yang nggak dikempesin) serta kursi. Sampe di lokasi yang kosong, kami segera duduk lagi, pasang tripod, minum susu, foto-foto. Sementara yang lain sibuk bongkar tenda, kami dengan tengilnya duduk manis sambil ketawa-ketawa.
Diabisin sekalian biar enteng.
Latar belakang Gunung Telomoyo.
Turun dari Puncak Andong

Setelah puas ngerumpi, nggosip, foto-foto, kamipun memutuskan untuk turun. Sebenernya sih karena disini udah panas banget. Paling enak jam 8 udah turun jadi hawanya masih adem, cuman karena rame dan masih pengen leyeh-leyeh kami molor sampe jam 9 pagi. Oh iya aku waktu itu udah bawa hammock dan kami memang rencana awal turun jam 8 terus tidur dulu di hutan pinus. Akhirnya di bawah pos 1 persis kami menemukan lokasi yang cocok buat istirahat. Buat kalian yang nggak suka jadi pusat perhatian, jangan ditiru ya. Soalnya kami sukses ditanya-tanya terus, baik itu darimana, naik apa turun, bla bla bla yang ahirnya bikin kami nggak jadi tidur karena dikit-dikit disapa. 


EKSPEKTASI

REALITA
Sinyal di pos 1 (waktu itu aku pakai XL) 4G. Langsung instastory-an deh dan update di path
(sama balesin whatsapp :P ).
Kami beristirahat disini sekitar 1 jam kurang dan kemudian bersiap-siap untuk pulang. Masih 1,5 jam lagi sebelum sampai rumah. Makasih ya Husna atas liburan singkatnya. Sampai ketemu lagi di piknik cantik kita berikutnya.
XOXO.


4 komentar:

  1. Emang Joko Pekik itu siapa ? Soalnya di Jogja juga ada pelukis Joko Pekik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buru-buru nggak ? Nanti aku cari info dulu baru jawab
      *ngunyah kuaci*

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya mas. Gunungnya juga nggak terlalu tinggi, cocok buat hiking tapi bs dapet view yang amazing :)

      Hapus