Follow Me @rezadiasjetrani

Sabtu, 03 Februari 2018

Artotel Jogja, Bukan Sekedar Tempat Menginap


Yogyakarta memang tak pernah habis untuk dieksplor. Kota ini, di penghujung tahun 2017 silam telah menambah satu lagi hotel instagramable yang selalu diburu generasi milenial (meski aku kayaknya sudah bukan generasi milenial). Berlokasi di jalan yang cukup strategis yakni Jln. Kaliurang KM 5,6 No 14, Caturtunggal, Sleman, hotel ini bisa dibilang menjunjung nilai seni di kota yang memang merupakan kota seni. Hotel ini pun menggandeng Founder ARTJOG Heri Pemad yang bertugas sebagai kurator yang menyeleksi enam seniman untuk mewujudkan tema cerita rakyat di Yogya yakni Tempa (Rara Kuastra dan Putut Utama), Soni Irawan, Uji Hahan, Ronald Aprian, Apri Kusbiantoro, dan Fathoni Makturodi.

Beruntung, sahabatku Holly mendapatkan voucher menginap disini dan aku sebagai sahabat baiknya (ditabok), diajak untuk menemaninya menginap. Hotel ini hanya berjarak 10 menit dengan sepeda motor dari rumahku, sehingga bisa dibilang aku hanya pindah tidur.  Agaknya, Artotel menjadi salah satu hotel berbintang anyar yang paling mencuri perhatian di Jogja. Gimana enggak, lokasinya terletak di Jalan Kaliurang bagian dalam lingkar Ring Road yang sehari-harinya dilewati para mahasiswa. Kedua, Artotel menawarkan hal yang belum disuguhkan oleh hotel-hotel yang lain, yakni kamar-kamar yang memiliki tema tertentu, restoran dengan dekorasi dan aneka barang seni, juga SELUNCURAN RAKSASA! Ketika check-in di lobi malam tadi, aku langsung berniat untuk mencoba seluncuran ini besok pagi.

Artotel lebih dahulu ada di Jakarta, Surabaya, dan Bali, jadi keberadaan Artotel di Jogja memang seperti tinggal menunggu waktu mengingat Jogja sebagai kota budaya dan ladangnya seniman-seniwati ternama.

Melanjutkan bahasan sebelumnya, jadi ketika memasuki lobi hotel, secara visual cukup keliatan aspek seni yang ingin ditonjolkan, mulai dari corak lantai, kursi-meja tunggu (yang bentuknya emang unik), juga desain ruangan dan ornamen-ornamennya sangat kontemporer (bener nggak sih istilahnya?).


Yang paling mecolok mata memang seluncuran berwarna emas di depan lift, yang juga kelihatan dari luar. Jadi kalau kita melintas di depan hotel ini, di sudut selatan hotel pasti kelihatan seluncuran emasnya.

Seluncuran ini bukan cuma pajangan ya, tapi memang bisa digunakan suka-suka untuk turun dari lantai 2 ke lantai 1. Tinggal bilang ke petugas hotel, nanti kita akan diberi kain sebagai alas. Syaratnya cuma satu, cukup "nggak malu" karena lobi hotel ini biasanya ramai.

Menuju ke kamar, dinding hotel dipenuhi sudut-sudut yang instagrammable. Untuk mereka yang hobi foto dijamin tiap langkah bakal berhenti untuk sekedar berpose. Serunya, tiap lantai punya desain yang beragam, karena seniman yang mengerjakannya memang berbeda-beda. Jadi bisa dipastikan waktu kita habis hanya untuk foto-foto.
Sesampainya di kamar, kami disambut oleh ruangan yang tak terlalu besar, namun bagiku desainnya memikat, cantik tanpa harus berlebihan. Hal ini mungkin disebabkan karena area tanah Artotel memang tak terlalu luas sehingga semua terasa serba minimalis soal ukuran, mulai dari lobi, lift, sampai kamar, dan juga kolam renangnya. Untuk kamar mandi, cukup padat bagiku dan masih terhitung pas ukurannya. Bisa dibilang ini hotel dengan ruang minimalis yang modern.



Konon, setiap kamar memiliki desain mural yang merias dinding kamar. Tiap lantai juga dikerjakan oleh seniman yang berbeda. Namun untuk Artotel Jogja, lukisan-lukisan mereka dilekatkan ke dinding dalam bentuk stiker, bukan menggambarnya langsung. Tapi aku juga tidak mencoba menyentuh lukisan-lukisan itu baik yang di kamar maupun yang di lobi karena bagiku cukup dengan melihatnya saja.


Pagi harinya, aku dan Holly bersiap untuk berenang terlebih dahulu. Lokasi kolam renang ini persis di samping restoran dan di posisi yang lebih tingi sehingga kita bisa melihat dan terlihat jelas oleh siapa saja yang sedang berada di restoran. Kurang nyaman bagiku, terlebih Holly tidak berenang, dan saat itu hanya ada aku dan juga sebuah floaties yang kucoba naiki dan berakhir dengan "kebalik", lalu aku tercebur sedemikian rupa dan membuatku tidak mau berenang lama-lama (malu woi).

Setelah berganti pakaian, kami pun makan di restorannya yang diberi nama ROCA (Restaurant of Contemporary Art). Semua Artotel mengandalkan ROCA untuk memenuhi kebutuhan makan dan nongkrong bagi para tamunya. ROCA ini buka 24 jam. Interior ROCA juga didesain khusus, termasuk muralnya oleh Rara Kuastra dan Putut Utama yang menerjemahkan Dewi Sri atau dewi kesuburan.

Menunya memang tidak terlalu beragam, sebanding dengan tarif menginap dan rasanya juga tidak mengecewakan. Seperti kusebut sebelumnya, setiap sudutnya yang artistik membuat kita akan "menghabiskan" banyak waktu untuk sekedar mengambil gambar. Sesuatu yang sangat jamak di generasi saat ini.

Akhirnya bisa kubilang Artotel adalah tipe hotel yang perlu dicoba, Bukan cuma hotel yang hanya memberikan pengalaman bermalam dengan nyaman, melainkan juga mengajak kita berinteraksi dengan seni kontemporer dalam platform berbeda.

LOKASI ARTOTEL JOGJA

Alamat: Jl. Kaliurang KM 5.6 No. 14, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telepon: (0274) 6000333
Kisaran harga mulai dari Rp 500.000,00


Tidak ada komentar:

Posting Komentar