Follow Me @rezadiasjetrani

Rabu, 25 Oktober 2017

Pendakian ke Gunung Raung via Sumber Wringin, Bondowoso

Puncak Raung
Akhirnya sempet juga nih nulis catatan perjalananku dari Jogja ke Bondowoso untuk mendaki Gunung Raung via Sumber Wringin, Bondowoso. Awalnya aku bahkan tidak berniat mendaki kesini, karena setahuku yang paling popular adalah pendakian via Kalibaru dengan puncaknya yakni Puncak Sejati, namun berkat ajakan Kika, akhirnya aku pun berangkat.

MENUJU BONDOWOSO DARI JOGJA

Menggunakan kereta api Sri Tanjung, kami berdua memulai perjalanan pada hari Jumat pagi, 20 Oktober 2017 pukul 07.00 pagi dan tiba di Stasiun Jember pukul 18.25 petang. Pendakian bahkan belum dimulai namun pantat kami sudah pegal karena 11 jam lebih duduk di kereta. Sampai di stasiun, perjalanan kami masih panjang. Kami harus menuju Kabupaten Bondowoso terlebih dahulu karena disanalah meeting point kami. Setelah memesan taksi online, kami segera menuju terminal Arjasa (bukan Tawang Alun ya). Terminal ini melayani rute bis untuk jalur Jember-Bondowoso-Situbondo.

Dapat aku singkat menjadi berikut :
  1. Naik kereta Api dari Stasiun Lempuyangan – Stasiun Jember = 11 jam 10 menit (07.00 – 18.25)
  2. Ojek / taksi dari stasiun Jember – Terminal Arjasa  = 12 - 16 mnt sejauh 7,4 km melalui Jl. Bondowoso – Jember (19.00 – 19.20)
  3. Naik bis dari Terminal Arjasa – Terminal Bondowoso = Biasanya 35 - 45 mnt, sejauh 27,2 km (20.15 – 21.00)
Sedikit informasi bahwa bis terakhir adalah pukul 21.30, namun terkadang bis tersebut tidak beroperasi sesuai jam sehingga paling aman begitu turun dari kereta, langsung menuju terminal dan mencari bis yang berangkat pukul 19.00.

INFO SINGKAT TENTANG GUNUNG RAUNG

Gunung Raung merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen yang terdiri dari beberapa gunung. Ada Gunung Suket (2950 mdpl), Gunung Pendil (2338 mdpl), Gunung Rante (2664 mdpl), Gunung Ijen (2443 mdpl) dan beberapa gunung lainnya. Puncak Gunung Raung via Sumber Wringin memiliki ketinggian 3.332 mdpl. Gunung ini adalah salah satu dari beberapa gunung yang masih aktif di Indonesia. 

Ada 4 jalur pendakian yang bisa kita lewati yakni :
1. Via Sumber Wringin (satu-satunya yang melalui Bondowoso. Terletak di Desa Sumber Wringin, Wonosari, Bondowoso Jawa Timur).
Ketiga jalur lain ada di Banyuwangi:
2. Via Kalibaru : jalur ini dibuka oleh tim Mapala Pataga, Surabaya
3. Via Glenmore :  dibuka oleh tim Mapala UI
4. Via Jambewangi : dibuka oleh tim OPA Luwak yang berada di kawasan tersebut,
Cuman, kita nggak bisa melaluinya secara bersamaan soalnya kita tidak bisa memutari puncak gunung. Boro-boro muterin, jalan mau ke puncak aja kanan-kiri udah jurang.

BAGAIMANA CARA MENUJU BASECAMP (BC) SUMBER WRINGIN?

Dari Bondowoso kita menuju daerah Wonosari. Kalau naik angkutan umum kita turun di pertigaan Gardu Atak/ Atap. Dari pertigaan harus naik angkutan lagi menuju ke desa Sumber Wringin, dilanjutkan ke Wisma Pesanggrahan, yaitu pos perijinan atau basecamp pendakian. Kalau kalian naik angkot, tutun dari pasar bisa jalan kaki aja ke pesanggrahan, soalnya hanya berapa ratus meter saja jaraknya. Tapi kalau kalian datengnya malem, tentu udah nggak ada angkot. Opsi berikutnya adalah naik ojek dari Gardu Atak sampai pesanggrahan dengan tarif Rp 50.000.

Untunglah kemarin aku sama Kika nggak perlu repot naik angkot atau ojek. Sampai di terminal Bondowoso, mas Erwin dan Imam menjemput kami kemudian ke rumah Novi untuk packing ulang baru kemudian menuju basecamp bersama-sama naik motor.
Dari Bondowoso menuju BC juga peer tersendiri karena jalanannya panjang, lurus doing, sepi, dan gelap. Bagian gelap ini yang bikin suasana makin asik karena kita hanya bisa mengandalkan lampu motor masing-masing. Maklum waktu itu kami sekitar jam 22.00 baru berangkat menuju BC. Kami melalui Jl. Raya Situbondo dan Jl. Kawah Ijen, menempuh perjalanan sekitar 28 km selama hampir 1 jam.

Baca juga :  Modal 300 Ribu Bisa Naik Gunung Raung Lho !

TIBA DI BASECAMP

Pertama kali tiba di BC, jujur aja sih, aku rada gimanaaaa gitu. Soalnya BC ini agak masuk ke dalam sehingga jauh dari tetangga dan bangunannya merupakan peninggalan jaman Belanda. Nggak perlu aku certain lah ya kalau “peninggalan jaman Belanda” itu kayak apa dan kira-kira apa yang bakal kalian “lihat” disana? Yang jelas aku, Kika, Novi, Imam, dan Mas Erwin setelah berkenalan dengan anggota tim yang lain, segera menyimpan motor kami di gudang, bersih-bersih, lalu tidur di atas kursi yang kami tata sebagai tempat tidur. Lumayan lah empuk dan hangat. Meski ga sehangat pelukan si dia. Hemmm.
Ruangan tempat kami bermalam dan kursi merah tempat kami tidur
Paginya, aku baru bisa melihat dengan jelas kalau BC ini meski tua, namun cukup bersih dan terawat. Ada penjaga yang memang tinggal disini sehingga kebersihannya terjaga. Di bagian belakang dekat kamar mandi ada kolam ikan dan banyak tanaman dalam pot yang ditata rapi. Ibu Endang yang tinggal di BC sangat ramah dan enerjik dalam menyambut para pendaki. Putranya yang juga bertugas sebagai volunteer dan guide untuk para tamu yang datang ke Gunung Raung bernama Mas Wawan Cadas lebih sering berbahasa Madura ketika ngobrol bersama Imam, Novi dan mas Erwin sehingga aku dan Kika kadang suka bingung kalau mereka tiba-tiba tertawa karena kami nggak paham sama sekali.
Wisma Pesanggrahan di Desa Sumber Wringin
Untuk biaya menginap, bagi pendaki dari luar kota dikenai tarif Rp 10.000 per orang, sudah bebas menggunakan kamar mandi dan juga parkir kendaraan, sedangkan yang dari Bondowoso dan sekitarnya seikhlasnya.
Bu Endang yang baik hati dan teman-teman satu tim
Jangan lupa mengisi buku tamu / izin pendakian ya. Kita tidak perlu melampirkan surat keterangan sehat, namun pastikan fisik kita dalam kondisi prima.

MEMULAI PENDAKIAN

Setelah semua berkumpul, sarapan dibagikan oleh mas Erwin. Total pendaki hari itu adalah 21 orang termasuk aku. Masing-masing dari kami memesan 3 buah nasi bungkus, 1 untuk sarapan di BC, 2 lainnya untuk bekal makan selama pendakian. Tepat pukul 06.00 pagi, pendakian pun kami mulai.
Berhubung jumlah kami banyak, maka kami memutuskan untuk menyewa truk yang akan mengantar dan menjemput kami lagi dari BC- Pondok motor PP.
Di Pondok Motor, tepat sebleum pendakian dimulai
1. Basecamp – Pos 1 Pondok Motor : 45 menit - 1 jam
Berangkat jam 06.00 dan tiba pukul 07.00 menggunakan jasa ojek. Waktu itu kami naik truk karena jalur menuju Pos 1 adalah jalur yang lebar dan bisa dilalui kendaraan bermotor. Jika jalan kaki diperkirakan bisa memakan waktu hingga 3 jam. Lumayan banget buat menghemat energi.
2. Pos 1 – Pos 2 yakni Pondok Sumur : 4 jam 25 menit
Jalur menuju Pos 2 sedikit menanjak, melewati ladang warga, kebun kopi, hutan ilalang setinggi dada dan melewati dalam hutan yang lembab dan rimbun. Jalur di pondok kopi ini cukup banyak dan bisa dilalui sepeda motor. Sesekali kita akan berpapasan dengan para petani kopi. Pastikan kalian memperhatikan batang pohon yang diberi tanda dengan pita / rafia supaya tidak salah jalan. Kami sempet salah belok, untung nggak jauh.
Sepanjang jalan pohonnya kayak begini
Pondok Sumur cukup luas dan bisa digunakan unuk mendirikan tenda, meski sayang kalau kita camp disitu karena itu bahkan belum setengah jalan. Kami berhenti makan siang dan sempat tidur sebentar di Pondok Sumur. Waktu itu kami tiba sekitar tengah hari.
3. Pos 2 – Pos 3 Pondok Tonyok (2 jam 15 menit)
Jalan semakin menanjak secara perlahan, dedaunan makin rapat dan rimbun. Banyak batang pohon besar yang tumbang dan bekas terbakar di sejumlah titik. Sesekali kita akan menemukan pohon arbei dan suara burung juga serangga bersahutan.
Foto by mas Erwin
Atas : Pondok Tonyok, bawah : Pondok Demit
4. Pos 3 – Pos 4 Pondok Demit (1 jam)
Pondok Demit tidak terlalu luas, cukup untuk mendirikan 2 atau 3 buah tenda jika sudah kelelahan. Dari pondok Demit ke pondok Mayit, di tengah perjalanan aku berhasil menyaksikan kebesaran Illahi. Matahari terbenam diatas lautan awan yang berwarna kemerahan dengan latar belakang Gunung Semeru. Saking takjubnya sampai nggak motret sama sekali, malah duduk bengong sambil ngatur nafas.
5. Pos 4 – Pos 5 Pondok Mayit (1 jam 15 menit)
 Pos 5 atau Pondok Mayit merupakan tempat favorit untuk mendirikan tenda dan bermalam. Area ini mampu menampung hingga 10 tenda dan tanahnya pun datar. Kami memutuskan untuk bermalam di lokasi ini. Tiba disini waktu itu pukul 18.30 , hari sudah petang, gelap, juga sangat dingin. Untungnya disini banyak pohon sehingga kami cukup aman dari terpaan angin secara langsung.
Pondok Mayit
Dini hari, pukul 01.00 mas Erwin selaku tim leader membangunkan kami semua. Jam 02.00 kami sudah harus siap dan harus sudah makan. Waktu keberangkatan jadi agak molor menjadi pukul 03.00 kurang karena beberapa agak susah dibangunin. 

6. Pos 5 – Pos 6 Pondok Angin (40 menit)
Menuju ke Pondok Angin, bisa dibilang menuju batas vegetasi. Pohon mulai jarang, hanya ada beberapa pohon pinus dengan jarak yang berjauhan. Sejumlah ranting dan batang pohon Nampak terbakar disana-sini, entah terbakar karena cuaca panas dan kering atau sengaja dibakar, yang jelas suasana cukup mencekam. Seperti melewati hamparan padang gosong dan berwarna hitam.
Di Pondok Angin, kami menunggu hingga waktu subuh tiba dan menunaikan shalat subuh disitu.
7. Pos 6 – Memoriam Deden Hidayat - Puncak Raung / Puncak Bayangan (1jam 30 menit)
Selepas batas vegetasi, kita akan menemukan batu memoriam Deden Hidayat, salah satu pendaki yang meninggal dunia ketika mendaki Gunung Raung. Konon, kenapa ada pos yang dinamakan Pondok Mayit, karena ketika evakuasi, petugas (beserta jenazah Deden) sempat bermalam di pondok tersebut.
Memoriam Deden Hidayat
Jalur menuju puncak adalah jalur maut karena kanan-kiri adalah jurang. Lebar jalur kurang lebih setengah meter dan sedikit berpasir. Ketelitian, kesabaran, dan kerja sama sangat dibutuhkan. Lebih baik mengatur jarak sehingga ketika ada yang berjalan perlahan, kita tidak terlalu lama mengantri jalan di belakangnya. Namun pastikan teman di depan dan di belakang kita tetap dalam jangkauan.
Be careful, guys!
Di tengah jalan, ketika berbalik, kita akan melihat pemandangan yang luar biasa. deretan pegunungan Jawa Timur nampak jelas di depan mata. Gunung Semeru, Argopuro, Ijen, Kawah Wurung, Kawah Ilalang, semua nampak jelas dan bikin mata takjub. Mulut juga nggak berhenti mengucap Masya Allah saking kagumnya.
Us
Setelah berhenti beberapa kali, akhirnya aku dan teman-teman berhasil tiba di puncak. Kaldera Raung nampak jelas di depan mata. Juga puncak sejati di sebrang sana. In shaa Allah ada umur panjang bisa naik lewat Kalibaru. Ada mitos yang mengatakan kalau puncak kaldera yang sangat besar dan luas konon adalah sebuah kerajaan Macan Putih. Yang penting jaga sikap, jaga ucapan, dan jangan buang sampah sembarangan.
Alhamdulillah
Aku dan teman-teman berada disini selama hampir 1 jam. Bener-bener nggak ketemu pendaki lain, cuman kami yang naik saat itu. Untung ber-21, coba berempat, nggak tau deh bakalan bisa sampai puncak atau enggak.

Kalau dikalkulasikan semua waktu perjalanan kami menjadi :

BASECAMP – Pos 1 Pondok Motor (45 menit – 1 jam menggunakan ojek)
Pos 1 – Pos 2 Pondok Sumur (4 jam 25 menit)
Istirahat, makan dan tidur siang selama 60 menit
Pos 2 – Pos 3 Pondok Tonyok (2 jam 15 menit)
Istirahat untuk bikin minum hangat 15 menit
Pos 3 – Pos 4 Pondok Demit (1 jam)
Makan lagi dan shalat sekitar 30 menit
Pos 4 – Pos 5 Pondok Mayit (1 jam 15 menit)
Lokasi camp
Pos 5 – Pos 6 Pondok Angin (40 menit)
Pos 6 – Puncak Raung / Puncak Bayangan (1jam 30 menit)
Contact person BC Sumber Wringin : 085236445000 (mas Okta)
Jasa truk/ pick up dari BC ke Pondok Motor PP : 082233630566 (mas Erwin)

BERSIAP UNTUK TURUN

Puas menikmati pemandangan, bikin video, ngabisin makanan, kami segera kembali ke tenda. Perjalanan turun sungguh cepat, jam 9 pagi kami sudah sampai lagi di Pondok Mayit. Selesai memasak makan siang dan bekal untuk di jalan, jam 12 siang kami semua sudah selesai membereskan barang-barang dan siap kembali pulang. Iya, pendakian kali ini ditarget hanya 2 hari 1 malam. Jika perhitungan kami tepat, kami hanya membutuhkan waktu 5 - 6 jam untuk turun hingga tiba di Pondok Motor.
Isi perut setelah turun dari puncak
Kami siap kembali ke rumah !
Di perjalanan turun, kami terbagi menjadi beberapa tim kecil. Aku yang berada di tim kedua beranggotakan 5 orang, yakni aku, Mega, Zain Enggar, dan Yudas berhasil tiba di Pondok Motor sekitar pukul 17.30. Satu demi satu tim lain mulai tiba. Berdasarkan komunikasi dari tim di belakang kami, Novia yang mendaki bareng pacarnya, Yoga, ternyata kakinya kram jadi kesulitan buat jalan. Akhirnya Doni menggendong Novia sedang tas Doni dibawa sama Imam. Beberapa ada yang berniat untuk menyusul, namun kondisi fisik yang kelelahan membuat kami hanya bisa mendoakan yang terbaik semoga tim terakhir mereka segera sampai.

Kondisi kami semua sungguh kepayahan karena semua kehabisan air. Sekedar info, sepanjang jalur nggak ada mata air sama sekali, dan botol minum yang kami simpan di bawah pondok Sumur untuk bekal turun ternyata "hilang". Padahal waktu timku lewat, kami sempat meminumnya dan udah ditaro di tempat semula. Tapi tim di belakang kami bilang boro-boro minum, botolnya ga ada satupun. Hmmmm.....

Kami yang udah tiba terlebih dahulu di Pondok Motor akhirnya meminta truk untuk segera datang sambil membawa minuman dan makanan seadanya. Setelah menunggu cukup lama, jam 21.00, akhirnya tim terakhir yakni Novi, Mas Erwin, Imam, Novia, Yoga, dan Doni datang juga. Semua kepayahan, semua capek dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sepanjang jalan menuju BC, kami bahkan nggak punya energi buat ngobrol, Semua duduk dan tidur. Lumayan, 1 jam perjalanan bisa dipake merem. Ini merupakan salah satu pendakian "tercapek, terlama, dan ter-ramai" yang pernah kulakukan. Seneng, haru, kagum, capek, ngantuk, dingin, semua jadi satu.

Sampai di BC, setelah bersih-bersih ala kadarnya, kami pun berpisah. Aku, Kika, Imam, Novi dan Mas Erwin pun meninggalkan BC paling terakhir untuk bermalam terlebih dahulu di rumah Novi di Bondowoso sambil cari makan sekalian.

Alhamdulillah semua bisa turun dan sampai rumah dengan selamat. Tinggal aku yang masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja sendirian, soalnya Kika balik ke Mojokerto.

Terimakasih Raung udah ngasih aku keluarga baru, udah ngasih aku pengalaman baru. Semoga bisa kembali lagi tapi via Kalibaru bareng Om Kumis. Aamiin.


3 komentar:

  1. Basecampnya bagus dan murah lagi. Kapan2 aku juga mau naik ah lewat situ.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sepuluh ribu doang. kalibaru juga menunggu ~

      Hapus