Follow Me @rezadiasjetrani

Senin, 13 Februari 2017

Gunung Kelud, untuk Didaki atau Wisata ?



Sebenernya pengen nulis tentang perjalanan ke Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu. Tapi berhubung ada beberapa detil yang tidak seharusnya aku tulis, akhirnya ditunda-tunda. Tapi yaudah deh ditulis aja karena ingin berbagi pengalaman. Waktu itu dalam rangka libur long weekend, aku dan keluargaku berencana untuk ke Jawa Timur tepatnya Kediri dan Ponorogo karena sudah lama tidak ketemu dengan para sepupuku yang kerja dan tinggal disana.
Sepupuku sudah punya 3 orang anak yang semuanya masih kecil-kecil, paling tua baru kelas 1 SD. Karena itu kami memutuskan untuk liburan ke tempat yang cocok buat family trip. Berhubung Kediri dan Prigen hanya berjarak kurang lebih 3 jam, kami memutuskan untuk ke Taman Safari II, Prigen. Nah tapi disini aku mau cerita soal liburan ke Gunung Kelud, bukan Prigen ya. Waktu itu kami berhenti makan di sebuah rumah makan menuju Prigen. Dari bagian belakang rumah makan tersebut kami bisa melihat sungai dengan latar belakang Gunung Kelud yang sangat cantik.
View dari belakang rumah makan.
Gara-gara itu setelah di hari Minggu-nya kami ke Prigen, besoknya  kami berempat yakni aku, kakak, mami dan kakak berencana ke Gunung Kelud (waktu itu tanggal merah tapi aku lupa libur apa). Gunung Kelud adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur yang tergolong aktif dan punya ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut. Gunung ini ada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang, sekitar 27 km di timur pusat Kota Kediri.


RUTE MENUJU GUNUNG KELUD VIA KEDIRI

Kata sepupuku disana ada kebun anggrek dan wisata outbond. Berbekal google map kami pun segera meluncur. Rute kami waktu itu dari Kota kediri menuju Gunung Kelud adalah :
Melewati daerah Pesantren - Wates - Ngancar - Desa Sugihwaras - Wisata Gunung Kelud
 
Waktu aku googling, kalau dari arah Kediri, kita nggak bisa melihat Kawah Kelud karena ditutup semenjak letusan 2014 silam. Kalau ingin melihat kawah dari atas harus melakukan pendakian, itupun dari Kota Blitar. Toh aku juga bersama keluargaku jadi mau mendaki nggak ada temennya kecuali mau nekat naik sendiri atau nyari temen di basecamp. Nggak deh.

Perjalanan secara keseluruhan kami lalui dengan lancar meski masih suasana long weekend. Sampai di daerah tujuan sekitar pukul 10 siang, lumayan panas jadi begitu keluar mobil udah keringetan.

Fiiuuh....

Sampai di loket wisata, kami langsung diarahkan untuk menuju parkiran mobil. Udah banyak mobil yang berjejer disana. Kami pikir harus parkir kemudian jalan kaki, ternyata tidak demikian. Dari lokasi parkir untuk ke area lereng Gunung Kelud masih jauh sehingga harus ditempuh menggunakan kendaraan.

Trus itu pada parkir ngapain? Ternyata ada dua alasan. Yang pertama, mereka parkir karena tersedia shuttle untuk mengangkut para wisatawan hingga lokasi parkir terakhir, bisa juga memilih off road menggunakan jeep, yang kedua karena antri giliran masuk.
Iya, mobil-mobil pribadi yang mau naik harus antri karena lokasi parkir diatas terbatas sehingga harus bergantian. Nunggu ada yang turun baru kita bisa naik.

Oalah...gitu to.

WISATA GUNUNG KELUD KEDIRI

Setelah menunggu sekitar 30 menit, giliran kami pun tiba. Mobil pribadi tidak ditarik uang di loket, namun di area parkir dan baru bayar pas tiba giliran kita untuk masuk. Harga tiketnya sendiri sebesar Rp 5.000,00 untuk weekday dan Rp 10.000,00 per orang pada saat akhir pekan dan hari libur. Bagi yang mau naik mobil wisata (yang sudah disediakan di Pos Gerbang Masuk wisata Gunung Kelud) tiketnya Rp. 15.000,- PP. Ada juga paket off road dengan harga mulai dari Rp 375.000 per jeep untuk 4 orang.
 
Sepanjang perjalanan kami melewati sejumlah perkebunan dan taman bunga. Ada juga yang menyewakan kuda untuk berkeliling kawasan perkebunan.
Cantik ya? Bunganya.
Sekitar 10 menit berkendara, kami melewati sebuah jembatan yang disebut Mysterious Road sepanjang 100 meter. Sepupuku udah bilang sih sebelumnya soal jalan ini. Disebut mysterious road karena jalannya kelihatan menanjak, tapi waktu kendaraan dihentikan pada posisi netral, kendaraan akan berjalan naik (meski perlahan). Ada juga papan petunjuk supaya pengunjung lebih mudah dalam melakukan pembuktian. Pengunjung disuruh menaruh sebuah botol air mineral dengan posisi tertidur dan menaruhnya di posisi jalan paling rendah. Terbukti secara perlahan botol air mineral tersebut  menggelundung naik. 

Wiiih keren ! (maaf ndeso....)

Si mami sih nggak heran, soalnya pas mami umroh pertama kali tahun 2012 dulu, ada wisata ke Jabal Magnet di Madinah yang katanya bisa menjalankan atau menarik mobil dalam keadaan hidup atau posisi gigi netral. Katanya bahkan jarum penunjuk kompas juga nggak berfungsi sama sekali di lokasi itu. 

Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok dan menanjak, kami sampai juga di tempat parkir Wisata Gunung Kelud. Disana berjejer deretan warung makan yang menjual aneka makanan mulai dari nasi pecel, nasi goreng, mie rebus, soto, bakso pentol, dan berbagai camilan. Nah, buat kalian yang datang kesini sebelum tahun 2014, pasti dalam ingatan kalian dari area parkir kalian tinggal jalan kaki menuju ke arah anak (kubah lava) Gunung Kelud.

Itulah yang aku baca dari sejumlah artikel. Jadi katanya untuk sampai ke lokasi kubah lava itu kita harus melewati terowongan yang panjangnya sekitar 150 m. Di dalam terowongan juga udah di pasangin lampu jadi para wisatawan bisa dengan leluasa berjalan kaki. Tapi pasca erupsi yang terjadi sekitar 2 tahun lalu, gua atau terowongan yang jadi jalan menuju anak Gunung Kelud ikutan tertimbun. Nggak hanya itu, sungai (pemandian) air panas yang ada di sebelah kanan terowongan juga hilang karena tertimpa aliran lahar panas dari muntahan lava pijar. Pun gardu pandang yang ada di lokasi itu, dimana katanya kita bisa menikmati indahnya pemandangan puncak Sumbing, Gajah Mungkur dan puncak Kelud. Katanya dulu di puncak Gajah Mungkur dibangun gardu pandang dengan tangga terbuat dari semen. Kecenya, kalau malam minggu kubah lavanya dikasih lampu berwarna-warni. Ada juga jalur panjat tebing di puncak Sumbing dan flying fox.  Tapi sekarang semua udah nggak ada.

Hiks.

YANG PERLU KAMU TAHU TENTANG GUNUNG KELUD KEDIRI

FYI, gunung ini memang tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek, sekitar 9-25 tahun. Makanya gunung ini termasuk salah satu gunung api yang berbahaya bagi manusia.

Oke, lanjut cerita lagi.

Nggak jauh dari warung-warung itu terdapat sebuah pos dan banyak tukang ojek berjajar rapi. Ternyata mereka menyediakan jasa ojek Rp 15.000 PP buat para pengunjung yang males jalan kaki (termasuk aku, kakak, mami dan adek). Maklum...waktu itu siang-siang, panas, dan nanjak. Kamipun diberi 4 buah kupon yang nanti bisa ditukar dengan jasa ojek (buat berangkat dan buat pulang jadi jangan sampe ilang). Nggak sampai 10 menit kami sudah sampai di jembatan yang dijadikan tempat pemberhentian terakhir sekaligus tempat parkir bagi pengendara sepeda motor. Dari lokasi itu kami semua harus jalan kaki ke atas kalau ingin melihat puncak Sumbing, Gajah Mungkur dan puncak Kelud.
Lokasi parkiran  motor nampak dari gardu pandang.
Setelah jalan kaki sekitar 30 menit, kami sampai di lokasi gardu pandang yang sekarang. Dari sana kami bisa melihat pemandangan yang cantik banget. Keliatan nggak ada deretan sepeda motor dan kerumunan orang-orang di bawah ? Nah kami jalan kaki dari situ. Kalau aku sih udah biasa, agak kasian juga bayangin mami jalan kaki sampai sini (belom turunnya). Itu masih lewatin jalan yang berkelok-kelok tapi nggak kefoto. Mau dinaikin ojek lagi tapi kata bapaknya nggak boleh karena kesepakatan mereka ojek hanya boleh sampai parkiran.


Foto dengan latar belakang Puncak Kelud dan sebelah kiri Puncak Gajah Mungkur
Selesai sesi foto yang cukup menguras keringat saking panasnya, kami pun berjalan lebih keatas. Si mami udah jalan duluan dong sambil bawa payung. Di tengah jalan kami papasan sama rombongan dedek-dedek emesh yang baru turun dari atas, iseng aku bertanya,"Dek, diatas nanti viewnya apaan ya?" Mereka pun menjawab bahwa diatas sama aja kayak dibawah. "Kita nggak bisa masuk ke dalam area kawah karena ditutup dan ada pintu gerbangnya." tambah mereka






Oke baiklah.
 
Meski tahu kalau kami tidak bisa masuk dan viewnya juga sama aja, kami tetap memutuskan buat jalan kaki sampai atas dan ingin liat sendiri apa yang ada disana. Ternyata bener kata adek-adek itu. Malah nggak ada view apa-apa dan ketemu gerbang doang yang dibaliknya ada para bapak penjaga kawasan tambang.

Wii....

Tau kan ya apa yang ada dipikiranku? Hehe. Aku dan mami mendatangi bapak-bapak tesebut meski kami dipisahkan oleh pintu kawat yang tinggi. Pintu itu tidak menghalangi niatku untuk mendekati mereka (apasih). Ngobrol dikit (panjang lebar ding), akhirnya KAMI BOLEH MASUK KE DALEM SAMPAI KE KAWAH.
Horeeee!

KAWAH GUNUNG KELUD

Pintu pun dibuka dan si bapak mengatakan bahwa kami mending naik motor aja (ngojek mereka) karena kalau jalan kaki sampai bawah bakalan jauh. Untung aja kami nurut, soalnya beneran jauh banget mana medannya pasir semua (selain hawanya lagi panas-panasnya karena hampir jam 12 siang). karena hanya ada dua motor, akhirnya aku dan mami berangkat duluan sedang kakak dan adek menunggu diatas. Kami pun berangkat sembari diliatin oleh para pengunjung lain dari balik gerbang. Mohon maaf ya, aku nggak bisa cerita gimana detilnya dan siapa nama bapaknya (lagian nggak inget juga nama mereka). Intinya sih kebetulan para pekerja di tambang tersebut sedang libur, makanya lokasi tambang "yang seharusnya" ditutup dan tidak boleh ada pengunjung yang masuk, bisa kami masuki. 

Maafkan kami ya Pak, semoga bapak nggak kena marah ya.
Jalan menuju kawah. Ada terowongan pembuangan air kawah di sebelah kiri.


Saltum? Biarin. Weeek :P
Gunung Sumbing sendiri dulunya memiliki jalur untuk panjat tebing, namun sejak adanya erupsi, kegiatan tersebut dihentikan karena bagian bawahnya masuk ke area tambang dan area pembangunan jadi tidak boleh asal dimasuki.
Keseluruhan Gunung Sumbing. Kok keliatan bantet sih disini -,-


Puncak Gunung Sumbing
Seusai mengantar kami berempat, bapak-bapak tersebut juga tak lupa memberikan kami sedikit informasi bahwa memang area tersebut masih ditutup karena masih dalam pembangunan. nantinya diharapkan para pengunjung akan bisa masuk ke dalam juga dan melihat kawah Kelud dari dekat seperti kami. Katanya sih diusahakan setahun ke depan lokasi wisata ini sudah selesai dan siap dikunjungi. Gituuuu. Jadi kalian yang mau kesini sabar dulu ya sampai tahun depan. kalau nggak sabar, silakan mendaki dan lihat kawah ini dari atas. Setelah puas foto-foto dan mendengar sejarah tentang Gunung Kelud dan dampak letusannya dari bapak-bapak pemandu kami, akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena masih ada beberapa destinasi yang harus kami datangi. kami juga masih harus pulang ke Jogja karena besoknnya aku dan kakak masuk kerja, adek juga sekolah.

8 komentar:

  1. Wuuu...curang duluan. Pokoknya tahun depan (tahun ini maksudnya) harus ajakin aku ke situ lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ah. Capek naik gunung. Naik pelaminan aja

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya aku emang hits. Nggak mau minta foto bareng?

      Hapus
  3. Kalo untuk taman bunganya itu lokasinya di mana ya? setelah parkir mobil atau sebelumnya?

    BalasHapus
  4. Sebelumnya mas . nggak jauh dari loket nanti sudah area perkebunan. Masih jauh dari loaksi parkir.
    Fyi parkirnya diatas aja jangan deket retribusi awal. Diatas masih ada parkiran..tapi harus antri buat naik.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. enak an melakukan pendakian dari via tulungrejo.

    BalasHapus